Singapura Tuding Radio Dakwah di Batam Penyebar Paham Radikalisme

1884
Pesona Indonesia
Militan ISIS. Foto: mirror.co.uk
Militan ISIS. Foto: mirror.co.uk

batampos.co.id – Kementerian Dalam Negeri Singapura menuding dua warga negara mereka (Rosli Hamzah dan Omar Mahadi) yang ditahan karena hendak ke Suriah bergabung dengan ISIS, belajar radikalisme dari salah satu stasiun radio dakwah di Batam.

Stasiun radio tersebut disebutkan pihak Singapura memiliki pendengar hingga ke Johor dan Singapura. Mereka juga menuding narasumber yang dihadirkan radio dakwa itu kadang memberikan pandangan ekstrim soal jihad.

Dalam siaran pers Kementerian Dalam Negeri Singapura juga menyebutkan Rosli mulai mendengarkan radio dakwah itu pada tahun 2009. Kemudian Rosli menjalin interaksi di jejaring sosial yang berorientasi keagamaan dengan orang-orang yang berafiliasi dengan ISIS pada Agsutus 2014.

“Dia menjadi tertarik pada jihad bersenjata dan ISIS. Kemudian mereka belajar dari internet. Semangat untuk mendukung ISIS pun tumbuh dan dia (Rosli) akhirnya yakin kalau militan ISIS berjuang untuk Islam,” tuding Kemedagri seperti dilansir Straitstimes.

Sementara Omar mulai mendengarkan radio dakwah asal Batam itu pada tahun 2010. Bahkan Kemendagri Singapura menyebut Omar pernah datang di acara Anwar al-Awlaki yang disebut-sebut propaganda Al-Qaidah pada tahun 2012, sehingga Omar lebih tertarik mempelajari radikalisme lanjutan di internet, termasuk mempelajari metari-materi terkait ISIS, yang membuatnya percaya pada apa yang diperjuangkan ISIS.

“Pada 2014, Omar yakin bahwa ISIS berjuang untuk membawa kemuliaan Islam, dan memahami bahwa sebuah kewajiban agama untuk menjadi seorang pejuang ISIS di Suriah,” kata kementerian itu. “Dia siap untuk mati syahid.”

Dua orang lainnya yang sempat diamankan namun dilepas dengan tetap dalam pengawasan adalah istri Omar, berinisial DFI. DFI akan mendapatkan pengawasan dan konseling agar membuang pemikiran radikalismenya.

Kemendagri Singapura menyebut wanita 34 tahun memang memiliki pemikiran yang sama dengan suaminya. Bahkan ikut membantu rencana mereka sekeluarga pindah ke Suriah.

Sementara anak-anak Omar tidak ada bukti kalau mereka terlibat. Namun mereka juga akan menjalani konseling agama agar tidak terpengaruh paham radikalisme.

Nama lain yang sempat diamankan namun dilepas adalah Mohamad Reiney Noor Mohd, seorang teknisi bangunan. Pria berusia 26 tahun itu disebutkan mulai belajar tengan ISIS dari media online sejak 2014 silam.

Setelah melihat propaganda ISIS, ia bercita-cita untuk ikut berjuang dan siap untuk mati dalam pertempuran karena ia pikir apa yang diperjuangkan ISIS adalah sebuah kebenaran.

Kemendagri Singapura juga menyebut, Reiney sempat berfikir membawa keluarganya ke Suriah dan telah menabung uang untuk biaya perjalanan mereka ke Suriah.

Untungnya, ia memutuskan membatalkan rencananya ke Suriah bersama keluarganya setelah ia dicegah oleh anggota keluarganya yang lain.

“Reiney sejak dimoderenisasi, pandangannya menjadi positif apalagi setelah membaca laporan negatif tentang kelompok itu (ISIS),” kata Kemendagri Singapura.

“Dia juga telah membuang niatnya untuk melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS setelah ia diperingatkan oleh kerabat dekatnya bahwa untuk melakukan pertempuran di Suriah akan menempatkan dirinya dan keluarganya dalam bahaya,” kata Kemendagri Singapura lagi.

Kemendagri Singapura juga mengatakan Reiney akan menjalani konseling agama agar tidak ada lagi faham radikal di dirinya.

Hingga saat ini, jumlah WN Singapura yang ditahan karena diduga terkait radikalisme ada 18 orang, dan empat WN Banglades, serta 24 WN Singapura lainnya dilepas namun masuk dalam daftar pengawasan dan konseling untuk moderernisasi pemahamannya soal radikalisme dan ISIS.

Mereka yang dilepas atau Restriction Order (RO) harus mematuhi beberapa kondisi dan
ruang geraknya dibatasi. Antara lain, ia tidak diizinkan untuk mengubah tempat tinggal atau pekerjaan, atau wisata keluar Singapura tanpa persetujuan terlebih dahulu dariĀ  otoritas kemanan Singapura yang menangani masalah radikalisme.

Mereka juga dilarang mengeluarkan pernyataan publik dalam bentuk apapun, tidak boleh menjadi anggota organisasi, asosiasi atau kelompok tanpa persetujuan terlebih dahulu dari otoritas kemanan Singapura yang menangani masalah radikalisme.

Sementara itu, radio dakwah yang dituding sebagai salah satu tempat WN Singapura belajar radikalisme sejauh pantauan batampos.co.id, justeru getol mengkampanyekan agar umat Islam jangan terpengaruh pada paham radikal atau ISIS. Tidak seperti yang ditudingkan.

Salah satu kampanyenya soal bom bunuh diri: “Bom Bunuh Diri Bukan Jihad…,” begitu salah satu bunyi kampanye agar umat Islam menjauhi paham radikal. Bahkan, dalam beberapa acara, radio ini menggandeng pihak kepolisian untuk mencegah paham radikal beredar di masyarakat .

Pihak radio dakwah ini hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi. Meski media sekelas Straitstimes tak menyebut nama radionya, namun dilampiran siaran pers Mendagri Singapura di media itu, nama radio itu disebut jelas. (Sumber: Straitstimes/NR)

Respon Anda?

komentar