Tahanan Asing di Anambas Membuat Kerajinan Tangan, Patut Dicontoh

878
Tahanan asing yang membuat kerajinan tangan dari tali nilon selama ditahan di  rumah tahanan PSDKP Antang. foto:syahid/batampos
Tahanan asing yang membuat kerajinan tangan dari tali nilon selama ditahan di rumah tahanan PSDKP Antang. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki peluang untuk memanfaatkan seni dan kreatifitas warga asing khususnya para Anak Buah Kapal asing yang saat ini ditahan di rumah tahanan PSDKP Antang.

Pasalnya mereka memiliki kreatifitas yang tinggi. Meski dalam status tahanan luar, mereka masih bisa menyempatkan diri untuk berkreasi dengan membuat macam-macam kerajinan tangan dengan bahan dasar tali nilon. Baik itu tali bekas jaring maupun tali baru, bahkan dengan kabel bekas juga bisa dimanfaatkan.

Dengan tali satu gulung, mereka bisa membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti biota laut mulai dari ikan, lobster, hingga unggas seperti burung. Kerajinan tangan berbentuk lobster hasil karya ABK asing itu dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp7 5 ribu tergantung tingkat kesulitan dan banyaknya bahan dasar yang dibutuhkan.

“Ini bentuk lobster Rp 50 ribu saja, kalau yang besar itu Rp75 ribu,” ungkap salah seorang tahanan asing dari Vietnam dengan bahasa Indonesia.

Pantauan di lapangan, bukan hanya satu atau dua orang tapi lebih dari 10 orang asing itu hampir memiliki kemampuan sama dalam hal kerajinan tangan. Ada sebagian dari mereka membuat kerajinan tangan di pondok tak jauh dari kantor PSDKP, ada juga yang membuat kerajinan tangan itu di sekitar kantor PSDKP. Mereka tampak semangat dan kelihatan tanpa beban. Saling bercanda satu sama lain.

Dengan adanya ABK asing itu membuat salah seorang warga sekitar mengapresiasi hal itu. Menurutnya dengan adanya keadaan ini dirinya berharap pemerintah daerah bisa memberdayakan mereka dengan menyerap ilmunya sebelum mereka dideportasi. Sehingga dengan keberadaan mereka pemda sendiri dapat mengambil manfaatnya.

“Kalau pemda jeli, maka bisa menyerap ilmu mereka, karya-karyanya juga lebih cocok karena daerah Anambas merupakan daerah kelautan,” ungkap salah seorang warga Antang Indra, kepada wartawan.

Menurutnya jika pemda mau untuk memberdayakan mereka itu tidak salah karena bisa mengadopsi kemampuan mereka. “Kalaupun sedikit rasanya tak masalah, karena kita dapat ilmunya,” ungkapnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar