Penyelamatan Spesies Langka Jadi Sasaran Coremap-CTI Fase III

778
Pesona Indonesia
Tim Peneliti Coremap-CTI Kabupaten Bintan sedang mendata seegrass di Zonasi Konservasi Perairan Daerah di Kecamatan Tambelan, kemarin. foto:harry/batampos
Tim Peneliti Coremap-CTI Kabupaten Bintan sedang mendata seegrass di Zonasi Konservasi Perairan Daerah di Kecamatan Tambelan, kemarin. foto:harry/batampos

batampos.co.id – Penanggungjawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (Coremap-CTI) Kabupaten Bintan, Syarviddint Alustco mengatakan ada dua komponen yang menjadi sasaran kegiatan fase III Coremap-CTI Kabupaten Bintan di 2016 ini. Diantaranya melakukan pemetaan zonasi-zonasi untuk Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) dan melaksanakan langkah-langkah penyelamatan spesies langka di perairan daerah.

“Agar semua ekosistem mahluk hidup bawah laut tetap terjaga kelestariannya. Maka dua komponen itu harus ditetapkan dan dilaksanakan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (19/8).

Untuk komponen pemetaan KKPD Bintan, lanjutnya, Coremap-CTI telah melakukan penelitian, pengawasan dan pengecekan dari 2014-2016. Hasilnya telah ditetapkan 12 zonasi-zonasi konservasi perairan daerah diantaranya perairan di Kecamatan Tambelan yaitu Kelurahan Teluk Sekuni, Kampung Melayu, Desa Batu Lepok dan Kampung Hilir. Untuk perairan Kecamatan Gunung Kijang yaitu Kelurahan Kawal, Desa Teluk Bakau, Desa Gunung Kijang dan Desa Malang Rapat. Lalu di Kecamatan Teluk Sebong ada di Desa Tanjung Berakit, Desa Pengudang dan Desa Sebong Lagoi dan khusus di Kecamatan Bintan Pesisir berada di perairan Desa Mapur.

Sedangkan untuk komponen penyelamatan spesies langka, sambungnya, telah ditetapkan hewan-hewan yang wajib dilindungi yaitu dugong, hiu paus, penyu, dan spesies langka lainnya. Penyelamatan spesies langka ini dilakukan agar keberadaan habitatnya atau ekosistemnya tetap terjaga atau tidak punah. Untuk itu dibutuhkan kerjasama antar stakeholders dan masyarakat. Dengan kerjasama itu dibentuklah kelembagaan yang bertugas mengawasi dan monitoring segalanya yang berkaitan dengan zonasi maupun ekosistem spesises langka.

“Zonasi konservasi ini mengatur tata ruang ekosistem mangrove, terumbu karang (coral) dan padang lamun atau rumput laut (seagrass). Dengan adanya perlindungan di zonasi-zonasi maka habitat spesies langka yang hidupnya di zonasi itu akan tetap terjaga,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) KKPD Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bintan itu.

Agar sasaran Coremap-CTI itu bisa berjalan lancar, kata dia, ia akan menerapkan empat langkah jitu yaitu penguatan kelembagaan, pengembangan pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem, penguatan ekonomi berbasis kelautan dan meningkatkan koordinasi dan pembelajaran antar instansi terkait.

Untuk mendukung langkah jitu itu ia telah menginvetarisasi penyediaan sarana dan prasarananya. Sehingga dengan itu semua, sasaran akan tercapai bahkan bisa mendatangkan nilai ekonomis yang tinggi bagi masyarakat setempat.

“Adanya pengawasan atau monitoring maka semuanya terjaga. Begitu juga dengan ekosistem bawah laut yang terjaga keindahan dan habitatnya, pasti menjadi daya tarik bagi wisatawan. Dengan itu semua dipastikannya akan menghasilkan nilai ekonomis yang bisa dinikamti masyarakat,” ungkapny. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar