Radio Hang FM Radio Dakwah Bukan Penyebar Paham Radikal

4736
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Station Manager Radio Hang FM, Abu Yusuf, menyesalkan pemberitaaan media Singapura yang mengait-ngaitkan Radio Hang FM dengan empat rakyat Singapura yang ditahan otoritas Singapura di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri (ISA).

Media Singapura di bawah naungan perusahaan milik negara, mediacorps, melansir pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri (MHA), Jumat (19/8).  Menurut penyataan MHA, dua dari empat warga yang ditahan, yaitu Rosli Hamzah dan Mohamed Omar Mahadi, terpengaruh paham radikal setelah mendengar siaran stasiun radio yang berbasis di Batam, Radio Hang FM sejak tahun 2009.

“Radio Hang FM adalah radio dakwah yang bekerja dengan etika dan kami juga menentang paham radikal,” ujar Abu Yusuf kepada koran Batam Pos, tadi malam.

Abu Yusuf menyatakan bahwa Radio Hang FM tak mungkin menyebarkan paham radikal dan mengajak kepada kekerasan.

“Kami ini diawasi Komisi Penyiaran (Komisi Penyiaran Indonesia), jadi gak mungkin begitu,” katanya.

Selanjutnya, kata Abu Yusuf, pihaknya akan menyampaikan keberatan kepada pihak Singapura melalui Konsulat Singapura di Batam.

“Ini gak bisa dibiarkan karena sudah fitnah, apalagi di dalam berita tersebut tidak ada konfirmasi, bahkan foto radio kami ada di berita tersebut,” tegas Abu Yusuf.

Seperti diberitakan di website berita.mediacorp.sg yang dipublikasikan pukul 20.15 Jumat (19/8), seorang pencuci mobil Rosli Hamzah dan Mohamed Omar Mahadi, ditahan setelah dicurigasi terkait dengan organisasi negara Isla, Irak dan Suriah atau ISIS.

Menurut penyataan MHA, Rosli terpengaruh paham radikal setelah mendengar siaran stasiun radio yang berpangkalan di Batam, Radio Hang pada tahun 2009. Dan antara Agustus sampai September 2014, mereka diperkenalkan dengan bahan-bahan radikal yang berkaitan ISIS oleh rekan-rekan media sosialnya.

“Dia mula berminat dengan perjuangan bersenjata ISIS dan semakin dia terpengaruh dengan propaganda ISIS di lelaman internet, semakin kuat sokongannya terhadap kumpulan pengganas itu. Dia kemudian yakin bahawa anggota militan ISIS berjuang demi Islam dan berpendapat bahawa perbuatan memenggal kepala “musuh” adalah sesuatu yang wajar,” menurut MHA.

“Rosli sanggup mati berjuang dengan kumpulan pengganas tersebut kerana dia berpendapat ia membawa kepada mati syahid,” tambah MHA.

Menurut MHA, Rosli juga mendapatkan pengetahuan tentang cara-cara ke Syria untuk menyertai ISIS. Rosli juga dituduh aktif mengajak orang lain mendukung kelompok militan tersebut dan ikut berjuang melalui media sosial.

Juli lalu, Rosli ditangkap setelah pulang dari Batam menjenguk keluarganya.

“Semasa ditangkap, dia masih menyimpan hasrat untuk melibatkan diri dalam keganasan di Syria,” menurut MHA.

Begitu juga dengan kasus Mohamed Omar Mahadi, dia dituduh menjadi radikal setelah mendengar siaran dari Hang FM pada tahun 2010.

Menurut MHA, pada tahun 2012, Omar menemukan bahan-bahan radikal online dari Anwar al-Awlaki, anggota Al-Qaeda, yang dibunuh di Yaman pada tahun 2011.
“Menjelang tahun 2014, Omar juga turut terpengaruh dengan perjuangan ISIS dan berpendapat bahwa ini menjadi tanggungjawabnya untuk menyertai ISIS di Syria. Dia juga sanggup mati,” menurut MHA.

Omar juga dituduh mencoba mendapatkan bantuan dari entitas militan untuk ke Syria dan juga mendapat bimbingan ISIS.

Sebagai persiapan ke Syria, dia menghafal ikrar taat setia, yang dia merancang untuk melafazkannya di depan ketua ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

Isteri Omar, Dian Faezah Ismail, 34, seorang ibu rumah tangga juga dikenakan perintah penahanan selama dua tahun.

Seseorang yang dikenakan perintah penahanan tidak dibenarkan mengubah alamat tempat tinggal, berganti kerja atau keluar dari Singapura tanpa mendapatkan izin pihak berkuasa.

Dian juga dituduh pendukung ISIS yang mempercayai bahwa radikalisme ISIS adalah wajar.

Dia menyokong keinginan suaminya untuk menyertai perjuangan bersenjata ISIS serta membantu rencana suaminya untuk memindahkan keluarga mereka ke Syria.

Rakyat Singapura kedua yang dikenakan perintah penahanan adalah Mohamad Reiney Noor Mohd, seorang teknisi bangunan berusia 26 tahun.

Reiney belajar agama lebih mendalam pada tahun 2013 dan mencari maklumat-maklumat berkaitan agama melalui online. Menurut MHA, setelah membaca bahan-bahan radikal ISIS, Reiney menyimpan hasrat untuk bergabung dengan ISIS dan sanggup mati.

Dia juga dituduh berencana menabung supaya dapat ke Syria, mendapatkan pengetahuan secara online tentang cara untuk pergi ke Syria itu dan berniat membawa keluarganya.

“Namun pandangan positifnya terhadap kumpulan itu berkurang sedikit setelah membaca laporan-laporan negatif,” menurut MHA. (ryh)

Respon Anda?

komentar