Dibuat dari Kotoran Kerbau, Jamur Ketawa Marak di Samosir

574
Pesona Indonesia

003523_824051_MUSHROOMbatampos.co.id – ‘Tak ada kayu, akar pun jadi’ mungkin istilah inilah yang lebih cocok untuk para pengguna Magic Mushroom atau Jamur Ketawa.

Menjamurnya kafe, bar, dan pub menjadi sasaran empuk bagi penjual bahan-bahan zat adiktif. Di kawasan wisata Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir misalnya, terdapat banyak kafe yang menawarkan Jamur Ketawa atau Magic Mushroom.

Dalam tiga tahun terakhir penjualan magic mushroom ini sangat terang-terangan. Tak jarang banyak papan yang menunjukan tempat tersebut menjual si jamur halusinasi ini.

“Bisa dibilang awal masuknya jamur magic ini sekitar pertengahan 2013. Saat itu hanya penginapan dan kafe milik asing yang menjual jamur itu. Tapi sekarang banyak juga warga Samosir yang menjual atau menjadi perajin jamur yang tumbuh di kotoran kerbau atau babi. Tak jarang gara-gara jamur ini sering terjadi keonaran yang mengganggu warga asli Samosir,” ujar Rusli seorang pemilik rumah makan muslim di Tuktuk Siadong.

Rusli menambahkan kurangnya patroli dari kepolisian setempat menjadi salah satu penyebab maraknya penjualan jamur ini. Menurutnya, banyak kafe asing atau penginapan yang tidak berizin menjajakan jamur ini.

“Kebanyakan kafe yang jual jamur itu kafe yang tidak berizin atau masa izinnya sudah habis. Patroli dari polisi juga sangat kurang disini, padahal sekitar 3-4 tahun yang lalu patroli mingguan sering dilakukan polisi setempat. Makanya dulu Tuktuk enggak onar seperti sekarang,” tambahnya.

Magic Mushroom atau si jamur ketawa adalah salah satu zat adiktif yang membuat para penggunanya berhalusinasi. Di Indonesia jamur jenis ini termasuk kategori narkotika golongan I yang diatur dalam UU Narkotika 35 Tahun 2009.

Oleh karena itu siapapun baik yang menggunakan, penjual, dan pemasok narkoba jenis ini bisa dijerat pidana. (mg5/JPNN)

Respon Anda?

komentar