Mahasiswa Kepri di Malang Terancam Diusir dari Asrama

1046
Pesona Indonesia
Acara ulang tahun  Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepri-Malang tahun lalu. foto:ist
Acara ulang tahun Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepri-Malang tahun lalu. foto:ist

batampos.co.id – Mahasiwa-mahasiswa asal Provinsi Kepulauan Riau yang mengenyam pendidikan tinggi di Kota Malang terancam diusir dari asramanya. Pasalnya, sewa rumah yang menjadi asrama mereka selama ini belum terbayarkan.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepri-Malang (IKAPEMA), Zaid Fathin Abdullah, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan baru bisa mencairkan uang yang dapat digunakan untuk membayar tagihan kontrak asrama pada akhir Oktober.

“Kendala kami saat ini, kami harus menyediakan Rp 5 juta paling tidak sampai Selasa (23/8) besok, karena pemilik rumah butuh uang secepatnya. Sementara pihak dari provinsi tidak bisa sesegera itu mencairkan dana hibah itu,” tutur Zaid melalui sambungan telepon, Minggu (21/8) kemarin.

Sehingga untuk sementara waktu, para mahasiswa ini mencoba mengumpulkan dana untuk dapat menutupi kebutuhan pembayaran asrama ini. Namun demikian, hingga Minggu (21/8) kemarin, para mahasiswa baru dapat mengumpulkan Rp 2 juta. “Pilihan terakhir kami, kemungkinan akan menggadaikan barang-barang kami. Dan baru ditebus saat uang dari pemprov dicairkan,” ucapnya.

Perihal pembayaran yang harus menanti adanya aliran dana hibah dari provinsi ini, menurut Zaid selalu menjadi persoalan oleh pemilik kontrakan. “Karena dana dari pemprov ini tidak selalu dicairkan pada waktu yang sama tiap tahunnya,” tambah Zaid.

Belum pula persoalan defisit, yang mengancam aliran dana hibah tak dapat dilanjutkan pada tahun depan. Sementara para mahasiswa Kepri yang melanjutkan pendidikan di Kota Apel ini, mengandalkan asrama kontrakan sebagai tempat tinggalnya selama mengenyam pendidikan di sana. Dikarenakan keberadaan asrama mampu meringankan beban pengeluaran yang harus dibayarkan selama menjalani pendidikan perguruan tinggi.

“Tak semua teman-teman di asrama dari keluarga mampu. Apalagi tahun ini, beasiswa pun tidak bisa kami dapatkan,” ucap Zaid mewakili 49 mahasiswa asal Kepri yang berdiam di asrama.

Tak hanya asrama putra yang didiami 26 mahasiswa, asrama putri pun memiliki persoalan yang tak jauh berbeda.

Untuk asrama putra, pertahunnya dikenai biaya kontrak sebesar Rp 45 juta. Sementara asrama putri lebih murah dengan biaya sewa Rp 35 juta per tahun.

“Dan kami diharuskan membayar sampai dengan akhir Oktober mendatang. Jika terlambat membayar, satu harinya dikenakan denda Rp 100 ribu. Dan jika tidak bisa membayarkan Rp 35 juta itu pada akhir Oktober, maka 23 mahasiswi diminta keluar dari asrama itu,” ungkap Zaid.

Besar harapan Zaid, Pemprov Kepri dapat menyediakan asrama permanen bagi para mahasiswa Kepri yang berada di Malang. Dan kalau pun hal itu belum dapat tercapai, setidaknya pencairan uang untuk sewa rumah ini, dapat dipercepat atau ada jadwal waktu yang tetap setiap tahun. “Karena persoalan ini yang selalu kami rasakan tiap mendekati hari pembayaran sewa rumah,” pungkas Zaid. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar