Obat Penjernih Habis, Warga Gunakan Air Keruh

840
Pesona Indonesia
Penyulingan air di Desa Tarempa Selatan tidak menggunakan obat penjernih air karena kehabisan stok. foto:syahid/batampos
Penyulingan air di Desa Tarempa Selatan tidak menggunakan obat penjernih air karena kehabisan stok. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Sebagian masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas belum mendapatkan jaminan air bersih dari pemerintah daerah. Bagaimana tidak, air yang mengalir keperumahan warga Tarempa dan sekitarnya saat ini masih kotor.

Air yang dialirkan dari Gunung Samak saat ini warnanya coklat kekuning-kuningan dan sedikit berbau. Jika digunakan untuk mandi masih menimbulkan gatal-gatal pada kulit dan jika digunakan untuk mencuci pakaian putih, pakaian putih itu akan berubah kekuning-kuningan.

Salah seorang warga Tarempa, Sahdi, sangat menyayangkan hal ini. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak hanya keseriusan pemerintah untuk mengatasi ketersediaan air bersih. “Kami hanya butuh kepastian yang jelas dari pengelola air, bukan hanya janji-janji saja,” ungkapnya, Minggu (21/8).

Pantauan dilapangan oleh awak media ini, ketersedian air yang berada di tangki atau tempat penampungan air, di Desa Batu Tambun, tampak ketersedian air cukup banyak. Demikian juga di tempat penyulingan air yang ada di Jalan Rintis Desa Tarempa Selatan, juga terlihat sangat melimpah.

Namun sayangnya sistem penyulingan yang ada tidak berjalan maksimal lantaran ada sejumlah obat yang berfungsi untuk menjernihkan air dan menawarkan bau, saat ini sudah habis. Sehingga air yang mengalir ke rumah warga saat ini murni tanpa pengaruh obat penjernih.

Penjaga pos penyulingan air, Anwar, mengakui hal itu. Ia mengatakan akan memberikan obat penjernih jika sudah ada. “Kita dengar kabar obatnya akan segera tiba menggunakan kapal tol laut,” ungkapnya kepada wartawan.

Mengenai kuningnya air dari hulu sungai, dirinya tidak bisa jelaskan secara pasti. Menurutnya air berwarna coklat itu memang sudah dari hulu sungai yang mengalir dari Gunung Samak. “Bisa jadi karena pengaruh akar-akar pohon,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang pengaturan pemberian obat ia telah pengalaman sesuai dengan yang dianjurkan saat mengikuti pelatihan sebelumnya. Ia juga menjamin air yang diberi obat itu bisa digunakan untuk mandi dan mencuci, namun jika untuk diminum air harus dimasak sebelum dikonsumsi. “Airnya bisa gunakan untuk mandi dan cuci, kalau untuk diminum saya sarankan harus dimasak terlebih dahulu,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kepulauan Anambas Sahtiar, membenarkan, air yang dialirkan ke rumah warga berwarna coklat kekuning-kuningan karena obat penjernih dan pemutih sudah habis. Perlu dilakukan pengganggaran selanjutnya. Pihaknya telah menghitung kebutuhan untuk mengadakan obat itu dan akan diajukan ke pihak legislatif pada pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).

Anggaran yang dibutuhkan, kata Sahtiar, hanya sekitar Rp 200 juta untuk pemakaian satu tahun. Ia berharap kepada pihak legislatif dapat mengesahkan anggaran yang akan diajukan demi memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kami sudah hitung kebutuhan anggarannya, paling sekitar Rp 200 juta. Mudah-mudahan DPRD mengesahkan anggaran untuk pengadaan obat itu,” pungkasnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar