Transportasi Pompong di Tanjungpinang Tidak Dilengkapi Life Jacket dan Asuransi

763
Pesona Indonesia
Korban tewas kapal karam Tanjungpinang-penyengat, Minggu (21/8/2016) pagi. Foto: Samsul Debi Sidik/FB/WB
Korban tewas kapal karam Tanjungpinang-penyengat, Minggu (21/8/2016) pagi. Foto: Samsul Debi Sidik/FB/WB

batampos.co.id – Wakil Ketua I DPRD Kepri, Ade Angga mengharapkan adanya kebijakan strategis dari Pemerintah Kota Tanjungpinang dibalik musibah pompong tenggelam yang menelan sejumlah korban jiwa. Ia berharap adanya peremajaan angkutan dari Tanjungpinang ke Penyengat.

“Setiap musibah tentu ada pelajaran bagi kita. Berkaca dari kejadian ini, mesti ada kebijakan strategis dari Pemko Tanjungpinang. Apakah itu melakukan peremajaan ataupun melakukan inovasi angkutan berbahan aluminium,” ujar Ade Angga, Minggu (21/8).

Menurut politisi Partai Golkar Tanjungpinang tersebut, hal lain yang menjadi sorotan pihaknya adalah tidak adanya asuransi selama pelayaran. Baik itu untuk nakhoda pompong maupun bagi penumpang. Selain itu tidak adanya life jacket. Padahal Standar Operasional (SOP) sudah jelas. Yakni angkutan laut yang terbuka harus menggunakan life jacket.

“Kejadian ini harus merubah kita menjadi lebih baik lagi. Saya harap Dishub Kota dan Dishub Provinsi Kepri dapat duduk bersama. Sehingga bisa sama-sama mencari solusi terbaik untuk transportasi Tanjungpinang ke Penyengat lebih baik lagi,” jelasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Tanjungpinang, Wan Samsi mengatakan kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pihaknya. Pihaknya juga tidak mau menyalahkan pihak manapun, terkait musibah ini. Langkah yang akan dilakukan kedepan adalah terkait pengawasan.

“Jauh sebelum ini, kami juga sudah mendorong penambang pompong Penyengat mengantongi asuransi. Tetapi sampai saat ini, masih belum terealiasi,” ujar Wan Samsi.

Terkait kelayakan armada, Wan Samsi mengatakan masih layak. Terkait berinovasi dengan bahan almunium, tentu membutuhkan banyak anggaran. Apalagi jumlah penambangnya juga banyak. Menurutnya, tidak bisa dilakukan secara serentak. Meskipun demikian tentunya perlu kajian-kajian secara mendalam.

“Kami sedang memperjuangkan adanya docking pompong di Penyengat. Dan ini sudah diajukan ke Pemerintah Pusat. Sehingga ketika melakukan perbaikan cukup di Penyengat. Untuk pompong berbahan kayu tentunya punya nilai tersendiri jika dibandingkan dengan almunium. Karena itu masih merupakan identiti transportasi kita,” jelasnya.

Ditempat terpisah, Kepala Bidang Perhubungan Laut (Hubla) Dinas Perhubungan Kepri, Aziz Kasim Djou mengatakan, pihaknya sudah memfasilitasi untuk pembahasan asuransi. Ditegaskannya, transportasi Tanjungpinang-Penyengat harus mencontohi Batam-Belakang Padang. Meskipun trayek dekat, tetapi dijamin dengan asuransi.

“Kita harus bersama-sama menjalankan tugas. Baik dalam hal pengawasan maupun dalam pengetahuan. Pengawasan tentunya menyangkut otoritas pelabuhan. Sedangkan pengetahuan terpulang kepada masing-masing nakhoda pompong. Jika memang tidak layak untuk berlayar, jangan memaksakan diri untuk berlayar,” ujar Aziz menambahkan.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar