Alokasi Anggaran Penanganan Illegal Fishing Hanya 15 Kasus, Tapi Kini Sudah 49 Perkara

412
Pesona Indonesia
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kepri, Andar Perdana, saat berkunjung ke Natuna. foto:aulia rahman/batampos
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kepri, Andar Perdana, saat berkunjung ke Natuna. foto:aulia rahman/batampos

batampos.co.id – Penanganan perkaran ilegal fishing di Natuna terus meningkat, tetapi belum didukung alokasi anggaran yang memadai.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kepri, Andar Perdana mengakui, penanganan kasus illegal fishing di Kepri terus meningkat, khususnya Natuna. Namun belum didukung alokasi anggaran dalam penanganan perkara. Namun terbatasnya anggaran penanganan perkara tersebut, Kajati tidak berkomentar.

“Soal anggarannya segitu saya tidak bisa komentar deh, sudah maksimal 15 penanganan perkara,” sebut Andar dijumpai di Restoran Basisir Ranai, Senin (22/8).

Tingginya perkara, diakui Andar, tidak sesuai dengan anggaran yang disiapkan. Karena dalam setahun hanya dialokasikan untuk 15 perkara, tetapi hingga saat ini sudah ditangani 49 perkara illegal fishing. Terbatasnya anggaran tersebut, Kejati mengakui harus kerja sosial.

Sebenarnya, alokasi anggaran penanganan perkara illegal fishing sudah meningkat dari tahun lalu hanya 10 perkara. Kemudian dianggarkan menjadi 15 perkara tahun 2016.

“Cuma kan volume perkara illegal fishing luar biasa. Sampai sekarang saja sudah 49 perkara ditangani, itu hanya Natuna saja,” ujar Andar.

Keterbatasan anggaran penanganan perkara illegal fishing ini, sambung Andar, bisa dimaksimalkan dengan terbentuknya Pusat Komando Pengendalian (Puskodal) 115 Natuna.

“Ya nantikan ada Puskodal, bisa kerjasama tim, penanganan bisa maksimal,”ujar Andra.

Dikatakan Andar, dengan segala keterbatasan saat ini, sudah sepantasnya Natuna memiliki lapas. Apalagi Natuna bakal calon poros maritim dunia.

“Sekarang instansi pemerintah sudah lengkap di Natuna, ada kejaksaan, pengadilah, polres, tinggal lembaga pemasyarakat yang belum. Natuna sudah layak, jadi tidak lagi gunakan lapas di Tanjungpinang,” ujar Andra.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar