Harga Bangunan untuk Program BSPS Melambung, Warga Penerima Bantuan Resah

448
Pesona Indonesia
Lurah Dabo, Agustiar (kanan) bersama Lurah Dabo Lama dan Lurah Sei Lumpur. foto: wijaya satria/batampos
Lurah Dabo, Agustiar (kanan) bersama Lurah Dabo Lama dan Lurah Sei Lumpur. foto: wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Sejumlah masyarakat penerima bantuan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang dikucurkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Singkep, mengaku heran dengan penetapan harga bahan bangunan yang terpaut jauh di atas harga pasaran.

Beberapa harga bahan bangunan yang ditetapkan jauh di atas harga pasaran diantaranya, papan cor perkeping yang biasanya hanya berkisar Rp 36 ribu perkeping namun ditetapkan sebesar Rp 42 ribu perkeping, satu sak semen harga dipasaran Dabo Singkep saat ini hanya Rp 42 ribu namun dipatok menjadi Rp 77 ribu dan harga pasir perkubik yang biasanya hanya Rp 60 ribu pada program BSPS kali ini tetapkan menjadi Rp 78 ribu.

Untuk diketahui program BSPS ini tidak memberikan dana kepada masyarakat, namun tim memberikan bahan bangunan yang dibutuhkan bagi masyarakat penerima bantuan tersebut. Masalah yang timbul, daftar harga yang ditetapkan terbilang tinggi sehingga masyarakat mengaku khawatir tidak dapat merehab rumah mereka dengan sempurna.

Salah satu Ketua Kelompok Bonsai di Kelurahan Sungai lumpu, Nanang, mengaku menerima keberatan dari sejumlah anggotanya. Keberatan ini muncul karena penetapan harga dari penyuplai barang bangunan terbilang sangat mahal.

“Karena itu anggota saya meminta dana tersebut diserahkan kepada ketua kelompok saja agar dapat diatur dengan baik,” kata Nanang ketika dimintai keterangan, Senin (22/8) siang.

Menanggapi permasalahan yang timbul, Lurah Dabo, Agustiar, bersama Lurah Dabo Lama akan mengevaluasi kembali terkait harga barang bangunan tersebut bersama tim fasilitator BSPS, koordinator BSPS Kabupaten Lingga dan pemilik toko penyuplai barang untuk mencari jalan terbaik agar tidak merugikan masyarakat.

Bahkan Agustiar menyatakan tidak akan menandatangi RAB sebelum keluhan masyarakat kecil ini ditanggapi dengan baik. Rencananya, Agustiar akan memanggil pemilik toko, fasilitator BSPS dan Koordinator BSPS.

“Kami akan duduk bersama mencari jalan keluar, yang pasti masyarakat miskin jangan dikecewakan,” kata Agustiar.

Kabupaten Lingga saat ini mendapat bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui program BSPS untuk 240 unit rumah dengan tiga kategori. Yakni, rehab ringan mendapat bantuan sebanyak Ro 7,5 juta, rehab sedang mendapat bantuan Rp 10 juta dan rehab berat mendapat bantuan sebanyak Rp 15 juta.

Sebanyak 240 rumah tersebut berada di wilayah Kelurahan Dabo dan Kelurhaan Dabo Lama. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar