Harga Rokok Rp 50 Ribu, Petani dan Pekerja Meringis, Rokok Tanpa Cukai Mengalir

571
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus bergulir menggelinding.

Ketua Paguyuban Mitra Pelinting Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi menyatakan, hasil studi yang dikeluarkan Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany itu, dianggap sebagai hasil studi tidak berdasar dan tidak ilmiah.

Djoko Wahyudi secara tegas mengatakan, jika harga rokok dinaikkan menjadi Rp 50 ribu per bungkus, maka yang akan terjadi adalah rokok tidak akan terbeli. Tapi kemudian, dampak yang ditimbulkan adalah target cukai negara pasti anjlok. Belum lagi kemungkinan marak beredarnya rokok tanpa cukai atau ilegal karena mahalnya harga rokok.

Ini masih akan ditambah dampak dari kalangan industri hasil tembakau (IHT) dan petani tembakau Indonesia. Karena rokok tidak terbeli, maka IHT tentu akan tereduksi dan akan merasionalisasi tenaga kerja serta menyetop pembelian tembakau, ini berakibat pada menurunnya pendapatan para petani tembakau.

Menurut Djoko Wahyudi, dampak reduksi IHT akan menimbulkan PHK besar-besaran. Terutama dari kalangan tenaga kerja industri sigaret kretek tangan (SKT) yang jumlahnya secara nasional saat ini mencapai sekitar 1,5 juta tenaga kerja.

“Usulan itu hanya mengacau saja. Karena usulan ini pula, sekitar 60 ribu pekerja pelinting sigaret yang tersebar di 38 koperasi mitra pelinting di wilayah Jatim, Jateng, Jabar dan DIY, merasa resah. Mereka banyak yang menangisi, karena merasa pekerjaannya terancam jika harga rokok dinaikkan Rp 50 ribu per bungkus. Ini kan sama saja dengan tindak terorisme, karena membuat orang resah disaat situasi tenang,” kata Djoko dengan nada meninggi.

Kenaikan harga rokok yang wajar menurut Djoko adalah seperti saat ini, yaitu berkisar 6%. Dengan kenaikan harga seperti itu, maka kenaikan tarif cukai juga akan berkisar di angka yang sama.

Terkait cukai hasil tembakau, rencana tarif cukai rokok tahun depan akan dinaikkan seiring dengan dinaikkannya target penerimaan dari cukai hasil tembakau (CHT) menjadi Rp 149,88 triliun. Angka tersebut naik 5,78 persen dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar Rp141,7 triliun.

Pemerintah sendiri memasang target penerimaan cukai secara keseluruhan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 sebesar Rp 157,16 triliun, atau naik 6,12 persen dari target APBN Perubahan 2016, Rp148,09 triliun. (rilis)

Respon Anda?

komentar