Krisis Air Bersih di Sejumlah Desa di Anambas

614
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Krisis air bersih bukan hanya terjadi di Kelurahan Tarempa, Kecamatan Siantan dan Desa Batu Berapit, Kecamatan Jemaja, saja. Namun juga terjadi di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Siantan Selatan.

Salah seorang ibu rumah tangga Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Selatan Hairani, (36) mengatakan, krisis air yang terjadi didesanya sudah berlangsung sejak bertahun-tahun. Untuk mendapatkan air besih, dirinya harus membeli air dari desa lain yakni Desa Temburun, Kecamatan Siantan Selatan.

Setiap hari dirinya mengaku membeli satu drum besar ukuran kurang lebih 180 liter dengan harga Rp 20 ribu. “Itu kebutuhan minimal satu drum cukup untuk keluarga kecil saperti saya yang hanya memiliki dua anak, jika keluarga besar pastinya tidak cukup,” ungkapnya kepada wartawan Senin (22/8).

Hal ini yang membuatnya keberatan karena pengeluaran untuk membeli air bersih saja minimal harus menyediakan uang sebesar Rp 600 ribu perbulan. Belum lagi untuk makan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu dirinya harus membantu suaminya dengan bekerja menitik batu. Batu yang dititiknya selama 6 hari hanya menghasilkan 1 kubik, lalu dijual kepada yang membutuhkan dengan diberi harga sekitar Rp 500 ribu perkubiknya.

“Saya terpaksa bang kerja tambahan sebagai penitik batu, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Kalau hanya mengharap pendapatan dari suami sudah tentu kami akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hairani, Senin (22/8).

Hairani, bersyukur beberapa bulan ini ia bisa bekerja sebagai penitik batu karena pihak desa sedang melaksanakan pembangunan jalan, tapi setelah itu ia akan mengalami kesusahan kembali. “Sekarang bisa bantu suami untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi setelah proyek selesai apakah masih ada yang mau beli batu,” keluhnya.

Tambahnya, bukan hanya di Desa Air Asuk saja yang mengalami kekeringan air, Desa Lidi juga mengalami hal yang sama. Pantauan di lapangan, di desa tersebut sudah terpasang pipa SPAM dan sejumlah tabung juga sudah terpasang rapi. Sayangnya pembangunan saluran itu tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang dari pemerintah daerah. Pemda sendiri sudah tahu kalau di desa tersebut tidak ada mata air namun dipaksa dibangun tabung air. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar