Mengenal Wisze Alaftariasaujana, Sang Pembawa Baki Upacara Proklamasi Tingkat Kepri

3121
Pesona Indonesia
Wisze Alaftariasaujana, pembawa baki bendera merah putih saat Upacara Proklamasi Tingkat Kepri. foto:fatih/batampos
Wisze Alaftariasaujana, pembawa baki bendera merah putih saat Upacara Proklamasi Tingkat Kepri. foto:fatih/batampos

batampos.co.id – Seluruh pasang mata tertuju pada Wisze. Bukan sebagai anak Husnizar-Peppy. Tapi, sebagai sang pembawa baki pada upacara peringatan HUT Proklmasi RI.

Tawa itu pecah. Wisze tipikal gadis periang. Gaya bicaranya ceplas-ceplos. Kulitnya tidak lagi kuning langsat sebagaimana sebelum Agustus. Serangkaian kegiatan di bulan kedelapan ini telah membakar kulitnya. Pendek kata, Wisze sekarang lebih hitam. Ia tidak memungkirinya. Juga bahkan tidak merasa malu karenanya. “Nanti juga balik putih lagi. Setelah ikut perawatan pastinya,” katanya, lantas tertawa.

Hitam di kulit Wisze adalah pembuktian. Bukan tentang sekadar liburan panjang berjemur di pantai dan kemudian mengunggahnya ke Instagram. Melainkan pembuktian bahwa segala yang diperjuangkan itu bisa dimenangkan. Wisze menang, berhasil membungkam keraguan setiap orang. Wisze juara, menaklukkan ketidakpercayaan dirinya. “Semua itu, ingin Wisze sendiri. Tanpa siapa pun boleh memaksa,” kata bungsu dari tiga bersaudara ini.

Keputusan Wisze ikut seleksi pasukan pengibar bendera tahun ini sudah bulat. Kalau tidak tahun ini, kapan lagi ia sempat. Tak peduli seberapa hitam kulitnya terbakar, seberapa dini ia harus bangun pagi, seberapa banyak keringat yang menetes di dahi. Wisze adalah gadis Capricorn; tegas, idealis, dan selalu percaya dengan mimpi-mimpinya.

“Kalau dia sudah mau begitu, kami hanya bisa mendukungnya,” timpal Husnizar Hood, sang ayah.

Ayahnya sadar, putri bungsunya ini berjiwa nahkoda. Laksana bait puisi yang pernah ia tuliskan belasan tahun silam lamanya. Kita akan bersiap berangkat / melepaskan perahu sekehendakmu. Dan kini, Wisze mau jadi Paskibraka. “Apa yang bisa kami cakap?” kata Husnizar.

Dimulailah seleksi demi seleksi. Dari jenjang sekolah. Bertungkus-lumus terpilih di tingkat kota. Wisze mendobrak. Lolos ke tingkat provinsi. Dobrakan lebih keras lagi. Namanya tercantum mewakili Kepri untuk seleksi di tingkat nasional. Walau, pada akhirnya, namanya tercoret sebagai petugas upacara di depan istana negara, Wisze tiada sekali menyesalinya.

“Dari situ saya bisa punya banyak teman dari seluruh daerah di Indonesia,” ungkap siswi SMAN 1 Tanjungpinang ini.

Sepulang dari Jakarta. Wisze tidak lekas ke rumah. Balik ke asrama. Kembali berlatih. Apalagi selama proses karantina, ia terpilih sebagai Bu Lurah. Jabatan ini setingkat dengan ketua kelas. Tapi jauh lebih kompleks. Status yang membuat Wisze harus bersedia dihukum tanpa kesalahan yang dibuatnya. Harus berani bangun lebih pagi untuk membangunkan teman-teman lainnya. Harus mau berlari di barisan paling depan tanpa boleh sekali-kali meninggalkan yang di belakang. Memimpin nyanyian dan doa sebelum makan. Memimpin olahraga pagi dan sebelum malam. Sesuatu yang nyaris tidak pernah dilakukan Wisze di rumahnya.

Apa pasal? Tidak ada satu pun yang sangsi, gadis bertinggi 165 sentimeter ini adalah putri ketiga dari pasangan Husnizar Hood dan Peppy Chandra. Bapaknya adalah Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kepri. Ibunya adalah Anggota Komisi III DPRD Kota Tanjungpinang. Tak ayal, ada asisten rumah tangga yang biasa membangunkannya setiap pagi. Ada sopir yang bisa mengantarnya kemana saja setiap hari. Sehingga ketika terpilih sebagai pembawa baki bendera pada upacara kemerdekaan di halaman Gedung Daerah, banyak yang mengkaitkan bahwasanya Wisze mendapat perlakuan spesial karena status orang tuanya. Tapi, Wisze buru-buru membantah. Status orang tua tidak pernah dijadikan beban dalam kehidupannya. Yang ia yakini, selamanya bapaknya itu akan jadi penyair, seterusnya ibunya itu akan menjadi penari.

Soal perlakuan spesial? Buru-buru Wisze menggeleng. “Yang pejabat itu orang tua, bukan saya,” ucapnya tegas.

Wisze dengan lantang memilih berdiri di atas kakinya sendiri. Menantang hidup dengan sepasang tangannya sendiri. Melaksanakan puisi bapaknya yang ingin ia jadi peluru balasan; kemana pun kau bidik akan mengena.

Hingga suatu masa pada kehidupannya, Wisze akan berdiri di atas panggungnya. Dengan tegap. Dengan siap. Dengan mata nyalang menatap. Seraya berkata pada dunia; akulah Wisze, sang perahu itu! (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar