Sehari setelah Kecelakaan Laut, Penumpang Pompong Lebih Sepi

913
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Sejak pagi hingga matahari setengah tinggi, pompong-pompong masih tertambat di di sisi kanan-kiri lorong dermaga pelabuhan Penyengat, Senin (22/8). Tak seramai biasanya. Yang terlihat hanya sekitar 10 pompong yang menanti giliran untuk mengantarkan penumpang menyeberang ke Pulau Penyengat.

“Memang tak seramai biasanya,” ujar lelaki paruh baya menatap santai ke arah pulau di seberang, seakan situasi kemarin sesuai ramalannya.

Setelah musibah yang menimpa 17 orang yang hendak menyeberang kemarin, aktivitas pompong dari kota menuju Pulau Penyengat dan sebaliknya, tetap dimulai sebagaimana biasanya. Pukul 03.00 WIB, warga Penyengat memberanikan diri menyeberang menuju kota untuk membeli keperluan dapur. Namun memang, pagi kemarin gelap langit tak sepekat langit pada Minggu tragedi kemarin.

“Anak-anak juga tetap sekolah,” tutur penjaga tiket pompong, sembari menanti genapnya penumpang untuk diberangkatkan.

Untuk menggenapkan 15 penumpang untuk satu kali keberangkatan pun perlu waktu yang tak secepat biasanya. Penumpang yang berpergian kemarin pun hanya penumpang-penumpang yang harus menuju ke seberang, dikarenakan keperluan melawat korban meninggal yang disemayamkan di Penyengat.

Diantara satu-dua penumpang yang berangkat atas nama pribadi dan atau bersama beberapa keluarganya, penumpang lain yang terlihat datang dari perwakilan lembaga dan instansi-instansi. Yang hanya di wakili beberapa orang saja. “Kami mengerti kalau masih banyak yang takut nyeberang ke sini,” tutur salah satu keluarga korban meninggal, Nurfatilla.

Sedikitnya penumpang yang berdatangan kemarin, lantas membuat pompong semakin lama untuk berangkat ke Penyengat. Lelah karena terlalu lama menunggu, beberapa penumpang bahkan rela untuk membayar sisa penumpang, demi menggenapkan kuota 15 penumpang untuk satu pompong.

Suasana sepi penumpang, tak hanya menjadi satu-satunya pembahasan di antara para tekong yang masih menanti penumpang sedari pagi menuju siang. Isu jaket apung pun menjadi pembahasan hangat diantara mereka. “Kite suruh orang ni pakai jaket? Jaket tu bukan banyak, bukan semua penumpang boleh dapat,” tutur salah satu tekong memulai pembahasan jaket apung.

Pembahasan selanjutnya diramaikan tekong lain, yang menimpali dengan bagaimana jaket itu dapat digunakan tanpa menyulitkan penumpang. “Pompong tu kecik, macam mane orang boleh pakai kat dalam sempit-sempit macam tu? Ade pulak tegolek gara-gara pakai jaket,” tutur tekong tadi.

Lalu Uje, salah satu tekong yang juga ikut menyimak pembicaraan tekong lainnya menuturkan akan lebih baik, jika jumlahnya mampu memenuhi kebutuhan penumpang di empat pompong. “Jadi ada 30 untuk penumpang dari Penyengat dan 30 lagi yang nyeberang dari Pinang,” ujar lelaki berkaos hitam itu.

“Kalau pun orang tu pakai, lah kapal tebalek macam kemarin tak bisa juga jaket tu bantu ya tak?,” tutur Mus, tekong paruh baya yang juga ikut dalam obrolan itu.

Hingga petang menjelang pun, aktivitas di seputar dermaga penyeberangan Penyengat masih belum seriuh biasanya. Hanya terlihat beberapa warga asli Penyengat yang baru pulang dari kerja di Tanjungpinang hendak menyeberang. “Memang masih banyak teman kami yang takut nak naik pompong,” pungkasnya. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar