3 Bulan Tak Digaji, Karyawan KJUB Pertim Mogok Kerja

426
Pesona Indonesia

 

Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Kesal lantaran gaji tak kunjung dibayar oleh pihak management selama 3 bulan terakhir ini, para Karyawan KJUB Pertim, Selasa (23/8) kemarin melakukan aksi mogok kerja.

Perwakilan karyawan Koperasi Jasa Usaha Bersama Pertambangan Timah (KJUB Pertim), Rafian Adriansyah menjelaskan aksi yang dilakukan mereka ini untuk menuntut kejelasan atas hak-hak 120 orang karyawan pertim. Sebab sudah 3 bulan terakhir ini gaji tak kunjung dibayar bahkan uang lembur dan uang makan pun kini tanpa kejelasan.

“Kami sudah menanyakan kepada pihak management tentang

kondisi ini, tapi jawaban mereka selalu datar-datar saja, hanya di suruh nunggu dan bersabar tanpa ada kepastian yang jelas. Karena sikap management seperti ini, maka kami anggap bahwa pengurus tidak ada niat baik bahkan cenderung memojokan para karyawan ini untuk mundur perlahan-lahan.

“Bahkan kami juga sudah kirim surat ke PT.Timah Tbk dengan harapan agar persoalan bisa dimediasi dan di carikan solusi terbaik. Terus terang saja selama ini pun sering kali kesalahan kecil saja yang kami lakukan langsung akan diintimidasi dengan surat peringatan (SP),” sebut Rafian.

Dalam aksi mogok kerja yang dilakukan kali ini, intinya setidaknya ada 6 poin tuntutan yang di inginkan oleh 120 karyawan ini yakni antara lain menuntut kejelasan penggajian karyawan tiap bulannya, management harus menjelaskan secara terbuka dan jujur terkait kondisi KJUB Pertim saat ini, sehingga akan diketahui apa penyebab gaji karyawan 3 bulan terakhir tak kunjung di bayar. Meminta pihak management yang sekarang segera di ganti.

Meminta dengan sangat agar pihak management lama maupun baru ikut bertanggungjawab atas kondisi KJUB hingga bisa menjadi seperti sekarang ini nyaris kolabs. Hal ini sesuai dengan ketentuan undang-undang tentang koperasi Pasal 60 ayat 3 maka pengurus harus bertanggungjawab kepada anggotanya.

Meminta agar pengelolaan keuangan KJUB Pertim ke depan dapat di serahkan kepada unit masing-masing. Dan juga meminta bengkel KJUB di hentikan/ dan asetnya di jual. Karena di sinyalir semenjak adanya pembangunan bengkel KJUB ini membuat banyak anggaran KJUB terserap sehingga selanjutnya mengakibatkan kondisi keuangan KJUB menjadi semakin lemah.

“Aksi mogok kerja ini akan terus berlangsung sampai pihak management atau pengurus KJUB memberikan kepastian terkait pelunasan hak-hak 120 orang karyawan KJUB yang ada ini.Karena kasian sekali para karyawan ini, apalagi sebagian dari teman-teman ini bahkan ada yang sudah mengabdikan diri selama lebih dari 20 tahun, kemana penghargaan management KJUB sehingga gaji saja tidak jelas kapan akan di penuhi,” tegas Rafian lagi sembari di dampingi rekan-rekannya.

Sementara itu salah satu perwakilan management KJUB Pertim, Fakulaska saat dihubungi membantah bahwa ada kesengajaan dari pihaknya untuk tidak segera membayar gaji para karyawannya tersebut.

“Gaji tersebut belum dibayar karena memang kondisinya saja yang belum memungkinkan. Karena bukan mereka saja yang belum di bayar, saya juga sampai sekarang sama belum terima gaji begitu juga yang lainnya, karena memang kondisi cash flow kita sekarang belum memungkinkan,” sebutnya seperti diberitakan Babel Pos (Jawa Pos Group), hari ini (23/8).

Fakulaska menyebut ada beberapa pertimbangan yang membuat perusahaan belum bisa membayar gaji para karyawannya. Yakni banyaknya beban yang harus ditanggung perusahaan seperti biaya operasional, pesangon dan sebagainya. Sementara tagihan perusahaan kepada pihak luar banyak yang belum kembali.

“Atas persoalan ini kami pun sudah berupaya melakukan langkah mediasi dengan di tengahi oleh SPSI. Sehingga SPSI pun tau kondisi KJUB Pertim saat ini. Makanya sekali lagi bukan management yang ingin menghambat gaji mereka atau apa. Dan kita minta kepada teman-teman karyawan ini untuk juga segera kejar tagihan yang belum di buat tagihannya. Sehingga pihak-pihak yang belum bayar bisa segera membayar tunggakkannya kepada KJUB Pertim, kalau sudah seperti itu baru kita bisa bayar gaji karyawan ini,” tambahnya.

Fakulaska menekankan jika mogok kerja terus dilakukan oleh para karyawan maka akan berisiko terhadap pemutusan kontrak kerja oleh PT.Timah Tbk yang selama ini merupakan perusahaan “penikmat” produk layanan jasa yang di sediakan oleh KJUB Pertim. Karena aksi mogok kerja karyawan ini akan mengganggu operasional perusahaan PT.Timah Tbk.

Ia menambahkan bahwa unit yang dikelola oleh KJUB bukan hanya angkatan darat(angkrat) atau sopir saja tetapi juga cleaning service, perbengkelan dan lainnya. “Sebetulnya teman-teman unit lainya itu tagihannya lancar, tapi cuma memang yang unit supir ini saja yang justeru tagihannya belum ada, kontraknya belum terbit, laporan administrasinya juga belum selesai. Dan hal ini harus jadi tanggungjawab unit yang bersangkutan,”tekannya lagi.

Fakulsa membantah karena menurutnya pengelolaan anggaran di KJUB selama ini sudah dilaksanakan sesuai aturan dan sebagaimana mestinya. Hanya saja kata dia sekali lagi bahwa kondisinya yang belum memungkinkan. Misalnya terkait uang pesangon.

Dimana selama ini dengan PT.Timah pekerja itu tidak ada dicantumkan pesangon oleh perusahaan tambang terbesar di Babel tersebut. Karena sistemnya adalah borongan. Dan sementara itu juga saat ini pun banyak yang pensiun terutama untuk para supirnya termasuk cleaning servicenya.

“Gaji mereka bukan 3 bulan belum di bayar, tetapi Juli saja yang belum di bayar sedangkan Agustus kan masanya belum habis. Dan saya juga menjabat baru 3 bulan, jadi PR-PR ini sebetulnya juga tanggungjawab dari pengurus yang lama,” tambahnya lagi.(jpg)

Respon Anda?

komentar