Aswandi: Renovasi Museum SSBA Salah Kaprah

352
Pesona Indonesia
Renovasi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. foto:fatih/batampos
Renovasi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. foto:fatih/batampos

batampos.co.id – Beberapa hari terakhir, Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang sedang sibuk bersolek. Kini, satu-satunya museum di ibu kota Provinsi ini sedang direhabilitasi alias diperbaiki setelah lebih dari dua tahun ditutup karena kondisinya yang rusak parah.

Kendati ini adalah langkah serius dan tanggap Pemerintah Kota Tanjungpinang, namun mesti diingat bahwasanya penanganan museum sebagai sebuah cagar budaya tentu punya aturan main yang berbeda. Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri ingin mengingatkan hal itu agar tidak jadi kesalahkaprahan dalam penanganannya.

Namun, sedikit terlambat. Karena pengerjaan sudah dilakukan. “Kalau pengerjaan renovasinya benar tentu tidak masalah. Tapi ini sudah salah kaprah,” kata Aswandi, kemarin.

Untuk sebuah penanganan termasuk pula perbaikan sebuah cagar budaya, Aswandi menilai, perlu pertimbangan yang baik lagi kuat. Termasuk melihat segala kemungkinan mengembalikan bangunan tersebut sebagaimana serupa adanya, seperti bentuk aslinya. Hal ini dalam ilmu sejarah, kata Aswandi, disebut restorasi.

Sementara dalam kaca mata Aswandi, Museum SSBA sangat memungkinkan untuk sebuah restorasi. Mengingat kontruksi gedung yang pernah difungsikan sebagai sekolah di zaman pendudukan Belanda ini masih kukuh kecuali atapnya saja yang ambruk sejak lebih dari dua tahun lalu.

“Kalau hanya memperkuat bangunan itu tidak masalah. Tapi kalau sampai mengubah, ini baru lain cerita. Ada banyak kerugian kalau sampai renovasi ini dibangun salah kaprah,” katanya.

Hal ini dapat ditandai dari rencana pemasangan beberapa tiang beton besar di bagian depan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada dalam dokumentasi sejarah yang Aswandi punya. Lalu bagian atap yang diyakininya tidak bakal lagi dibentuk sesuai bentuk aslinya. “Pengerjaannya kasar sekali,” ucap Aswandi.

Aswandi menambahkan, renovasi museum sejak awal dahulu sudah terjadi kesalahkaprahan pengerjaan. Ditilik dari lantainya. Dulunya, bangunan ini berubinkan semen yang dibentuk mozaik dan geometris, yang merupakan khas bangunan Belanda masa itu. Tapi oleh pemerintah daerah malah diganti keramik putih.

“Itu jenis penanganan yang salah terhadap cagar budaya. Karena selama masih memungkinkan tetap harus dikembalikan bentuk semula. Bukan mengubahnya,” ucapnya.

Bangunan bersejarah, beber Aswandi, punya terapan sebagai ilmu pengetahuan tentang arsitektur. Apalagi gedung Museum SSBA dibangun pada awal abad ke-20. Tentu bisa jadi penanda sebuah zaman. Terlebih, Aswandi menandai, segala bangunan bikinan Belanda di Tanjungpinang tidak melulu khas Eropa. Namun, juga dileburkan lokalitas di dalamnya.

“Jadi ini bukan tentang nostalgia. Tapi pewarisan nilai sejarah. Bukan sekadar sejarah arsitektur di Tanjungpinang, tapi juga sejarah pendidikan. Museum itu dulunya juga adalah sekolah rakyat (SR) pertama di sini,” tegasnya.

Aswandi bukan sembarang omong. Mengacu Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, disebutkan pada Pasal 53 ayat (3) bahwasanya tata cara pelestarian cagar budaya harus mempertimbangkan kemungkinan dilakukannya pengembalian kondisi awal seperti sebelum kegiatan pelestarian.

Kemudian pada Pasal 77 ayat (2), dinyatakan secara gamblang dinyatakan, pemugaran cagar budaya sebagaimana harus memperhatikan, keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan atau teknologi pengerjaan, dan pengembalian kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin.

“Karena itu, kalau dikerjakan sekenanya, tentu ini adalah tindakan yang melanggar undang-undang,” pungkas Aswandi. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar