Sembilan WN Singapura Dideportasi, Masuk Secara Ilegal ke Kepri

648
Pesona Indonesia
Kapal Seven Conguerres  milik Singapura ditahan di Lantamal IV Tanjungpinang beserta tiga ABK-nya. Foto: Lantamal IV Tanjungpinang untuk batampos
Kapal Seven Conguerres milik Singapura ditahan di Lantamal IV Tanjungpinang beserta tiga ABK-nya. Foto: Lantamal IV Tanjungpinang untuk batampos

batampos.co.id – Sembilan warga negara (WN) Singapura yang ditangkap jajaran Lantamal IV Tanjungpinang di perairan Bintan pada Sabtu (20/8/2016) lalu akhirnya dideportasi. Mereka dinilai tak bersalah meski memasuki wilayah Indonesia secara ilegal.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Lantamal IV Tanjungpinang, Mayor Josdi Damopoli, mengatakan ke-9 WN Singapura tersebut hanya merupakan penumpang di Seven Seas Conqueress yang memancing secara ilegal di perairan Bintan. Sehingga mereka dibebaskan dan tidak perlu menjalani proses hukum.

“Yang bersalah itu pengurus kapal dan ABK. Mereka kami tahan berikut kapalnya,” ujar Josdi, Selasa (23/8/2016).

Josdi menjelaskan, kapal Seven Seas Conqueress sebenarnya berbendera Malaysia. Namun kapal ini milik perusahaan asal Singapura, Odyssey Marine PTE LTD. Saat ini kapal beserta tiga ABK nya masih ditahan di Lantamal IV Tanjungpinang.

Dikatakan Josdi, ketiga ABK tersebut masih menjalani pemeriksaan guna proses penyidikan dan pemberkasan sebelum kasus ini dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Tanjungpinang.

“Masih kami periksa. Kewenangan kami hanya di Undang-Undang Pelayaran. Nanti perkembangannya juga akan kami follow up,” kata Josdi.

Kepri, tegas Josdi, merupakan daerah yang berbatasan dengan beberapa negara tetangga. Untuk itu, pihaknya berkomitmen memberantas segala bentuk kejahatan yang berada di wilayah perairan Kepri.

“Penanganannya harus serius, tidak bisa main-main. Karena jika tidak serius maka hukum di negara kita ini akan dilecehkan,” tegas Josdi.

Untuk itu, kata Josdi, pihaknya meminta ketegasan dari seluruh penegak hukum. Agar kejadian seperti vonis bebas dari MV Selin tidak terulang kembali.

“MV Selin kita jadikan pelajaran. Agar hukum di negara kita ini tidak bisa dilecehkan oleh negara lain,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah warga negara Singapura ditangkap TNI AL karena memancing tanpa izin di perairan Tanjung Berakit, Bintan, Sabtu (20/8/2016) lalu.

Aksi mereka diketahui oleh tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV Tanjungpinang yang langsung bergerak cepat begitu radar menangkap sinyal kapal Seven Seas Conqueress itu melakukan tindakan ilegal.

Kapal yang dinakhodai oleh warga negara Singapura, Ricky Tan Poh Hui, itu langsung digiring menuju Mako Lantamal Tanjungpinang untuk proses hukum. Hasilnya, kapal tersebut memang tidak memiliki izin untuk memasuki wilayah perairan Indonesia.

Humas Kantor Imigrasi Kelas II Tanjunguban, Muhammad Noor, mengatakan akan menuntut nakhoda Kapal Odisey Marine PTE LTD, Ricky Tan Poh Hui dengan Pasal 113 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Pasalnya nakhoda berkebangsaan Singapura itu membawa kapal pemancingan berbendera Malaysia dengan sengaja memasuki wilayah Indonesia tanpa mengantongi dokumen resmi.

“Bagi warga asing yang melanggar aturan keimigrasian akan kita tuntut dengan Pasal 113 UU Nomor 6 Tahun 2011,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Selasa (23/8/2016).

Pelanggaran keimigrasian yang dilakukan warga asing dengan modus melayani jasa pemancingan ini memang sering terjadi di perairan Kabupaten Bintan, khususnya di kawasan Desa Tanjung Berakit.

Untuk memberikan efek jera, Kantor Imigrasi Kelas II Tanjunguban akan menindak tegas bagi warga asing yang melanggar aturan tentang keimigrasian dengan mengajukan tuntutan itu ke pihak penegak hukum.

Agar tuntutan itu bisa diterima oleh penegak hukum, kata Noor, Kantor Imigrasi Kelas II Tanjunguban segera melengkapi seluruh berkas yang diperlukan. Sehingga ketika proses hukumnya dimulai pihaknya langsung melayangkan tuntutan tersebut.

“Kita tak mau lagi ada warga asing yang bebas masuk NKRI tanpa dokumen resmi. Dan juga tak menginginkan mereka bebas dari sanksi hukuman lagi,” katanya. (ias/ary/koran bp)

Respon Anda?

komentar