Tekong Pompong Bandel, Bawa Penumpang Lebihi Kapasitas

846
Pesona Indonesia
Warga menaiki pompong menuju pulau Penyengat di Dermaga Penyengat Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Penumpang boleh menolak jika pompong meebihi muatan. F.Yusnadi/Batam Pos
Warga menaiki pompong menuju pulau Penyengat di Dermaga Penyengat Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Penumpang boleh menolak jika pompong meebihi muatan. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Dua hari setelah insiden kecelakaan laut yang menewaskan 15 penumpang, tidak membuat banyak orang belajar. Selasa (23/8) kemarin, masih saja didapati tekong atau pengemudi pompong yang nekat melebihi jumlah muatan penumpangnya. Dengan dalih cuaca yang sedang baik dan angin tidak berembus kencang. Tetap saja, hal ini tentu amat disayangkan.

Tentang hal ini, Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengaku sudah mendapat laporan. “Penumpang jangan mau kalau pompongnya sampai lebih muatan. Mereka boleh dan sangat berhak menolak,” tegas Lis, kemarin.

Pada sebuah mata rantai pengawasan, Lis menegaskan, penumpang juga ada keterlibatan. Tidak sekadar diam dan manut saja kepada tekong. Namun, ikut aktif menolak bila juru kemudi tidak mengindahkan keselamatan penumpangnya. Perkara transportasi laut, kata Lis, tidak ada toleransi di dalamnya.

“Salah sedikit, semua dalam bahaya. Makanya jangan sembrono. Sekali pun itu cuaca sedang cerah-cerahnya. Ingat, geruh tak berbunyi, malang tak berbau,” ujarnya.

Selama beberapa hari ke depan dan hingga batas waktu yang belum ditentukan, telah ditempatkan sejumlah petugas di pelantar dermaga penyeberangan ke Pulau Penyengat. Terdiri dari Dinas Perhubungan, pihak kepolisian dan perwakilan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjungpinang.

“(Angin) Barat bisa datang tiba-tiba. Sekali lagi saya imbau, jangan ada yang gegabah apalagi nekat. Peristiwa kemarin mesti diambil pelajarannya,” ungkap Lis.

Di tempat terpisah, Nurfatilla Afidah, seorang warga Penyengat yang sering hilir-mudik dari dan ke Tanjungpinang, mengaku hingga kini masiha ada perlakuan sebagian tekong yang tak mengindahkan batas muatan penumpang. Termasuk setelah insiden Minggu lalu. Hal ini tak ayal bikin hatinya gerun. “Ya heran saja, mengapa mereka tidak ambil pelajaran dari insiden kemarin,” ungkapnya.

Karena itu, ketika hendak menyeberang dari Penyengat ke Tanjungpinang atau sebaliknya, kini Nurfatilla jadi lebih kritis. Ia ikut menghitung jumlah penumpang dalam satu pompong. Ia selalu menanyakan situasi cuaca mutakhir. “Penumpang yang kritis pasti bisa mengalahkan keras kepala tekong. Kalau sepenuhnya berharap pada tekong tentu tidak bisa,” ujarnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar