Tiga Terduga Teroris Menginap di OKUS

554
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Masih ingat penangkapan Asep Nurjaman, warga OKUS yang diduga terkait jaringan terorisme? Nah, warga Jl Jenderal Sudirman Tangga Batu, Kelurahan Pasar, Muaradua itu. Dia dipastikan tidak terlibat terorisme.

“Dia hanya membantu mencarikan senjata atas alasan untuk keperluan mempersenjatai petugas keamanan (satpam) yang dipesan sang buron teroris bernama Irsad alias Abu Faisal dengan upah Rp500 ribu,” kata Kapolres OKU Selatan AKBP Dra Ni Ketut Widaya Sulandari didampingi Kasatreskrim AKP Ujang A Ajiz, kemarin.

Posisi Asep dalam kasus ini telah tergambar dalam pemeriksaan mendalam terhadap mereka. Yang memeriksa, tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri bersama penyidik Polres OKUT. Dikatakannya, Asep menghubungkan Irsad sang buron teroris dengan tersagka Ramandani alias Bram, warga Desa Pelangki, Kecamatan Muaradua. yang saat ini juga sudah diamanakan di mapolres OKU Selatan.

Dari Ramandani, lalu membeli senjata dari penjualnya di desa Muncak Kabua Kabupaten OKU Timur. Asep dan Ramdhani diamanakan berdasarkan pengakuan teroris

Pujianto alias Anto alias Puji alias Raider Bakiyah dan Panji Kokoh Kusumo alias gaza alias Fahri yang ditangkap 29 Geruari lalu pukul 01.00 WIB di dalam kereta api (KA) Jurusan Banjar – Kediri

“Keduanya saat ini ditahan Densus atas kepemilikan menyimpan tiga pucuk jenis Revolver serta amunisinya,”ujar Sualndari. Tersangka Pujiyanto dan Panji memperoleh senpira tersebut dari Irsad, sementara Irsad membeli senpira dari Asep di Muaradua. Dari keterangan Asep, Feberuari lalu teman satu kampungnya, Irsad datang ke Muaradua. Dia meminta Asep mencarikan senpi.

“Asep yang merasa kenal lalu minta tolong Candra Hendro masih buron atau (DPO) untuk mencarikan senpi dari Tembel (buron). Senjata itu dibelinya seharga Rp 25juta,” tuturAKP Ujang. Isad sang gembong teroris kembali meminta kepada Asep dicarikan senpi lagi.

Asep bersama Ramandani dan Candra Hendro pergi ke Muncak Kabau, OKUT. Disana, mereka menemui teman Bram yakni Fitra (buron). Fitra kemudian menghubungi temannya yang menjual senjata dengan harga tiap pucuk senjatanya Rp3juta dan Rp1,5 juta berikut 10 butir puluru seharga Rp 500 ribu.

Senjata dan amunisi yang didapat diserahkan Asep kepada Irsad yang sudah menunggu di rumahnya. Ternyata, di rumah Asep bukan hanya Irsad yang menanti. Tapi juga dua teroris lain, Pujiyanto dan Panji .

Kedua teman Irsad itu sendiri sebelumnya sempat menginap di penginapan Basuma Jalan Raya Ranau Binjai kelurahan Bumi Agung Muaradua. Namun petemuan dengan Asep tidak berlangsung lama, kedua teroris lalu pulang ke Jakarta menaiki mobil bus Murek.

Terungkap, senpi yang dibeli di Muncak Kabau akan digunakan mereka (pelaku teroris). Irsad yang teribat aksi teror bom Mapolres Surakata dan Pujiyanto bersama Panji yang terlibat aksi teror bom di Tamrin Jakarta ini, untuk giat. “Amaliah Fa’i” yang dalam kepercayaan mereka merampok harta orang-orang kafir adalah halal untuk pembiayaan dana operasi pondok pesantren Ansrullah.

“Rencana mereka, senjata itu untuk merampok harta orang yang dianggap mereka golongan kafir. Hasilnya itu itu untuk operasional dan untuk membiayai keluarga para pelaku teror yang diamanakan ditangkap densus,” beber Ujang. Dengan jelasnya peran Asep dan Ramandani, keduanya dipastikan bukan pelaku terorisme.

Namun, keduanya dikenakan UU Darurat No 12 th 1951. Densus lalu melimpahkan perkara Asep dan Ramandani untuk dilakukan penyidikan ke Pidana Umum Satreskrim Polres OKUS. Dasar pelimpahan kasus tersebut telah dilaksanakan gelar perkara yang dipimpin langsung Kapolres OKUS dan dihadiri Kacabjari Muaradua, Kasiwas, Kasubag

Hukum, Kasi Propam, Wasdik, Kasatreskrim dan jajaran lainnya.
“Asep dan Ramandani diancam Pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 Tahun 1951 jo Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman minimal 12 tahun penjara,”tandas Ujang. (jpg)

Respon Anda?

komentar