Uang Asrama Mahasiswa Kepri Segera Dicairkan

585
Pesona Indonesia
 Teddy Jun Askara. foto:rpg
Teddy Jun Askara. foto:rpg

batampos.co.id – Para mahasiswa asal Kepulauan Riau yang sedang menempuh studi di Kota Malang bisa bernapas lega mengenai pembiayaan sewa asrama mahasiswa. Karena dalam waktu dekat, bila tidak ada lagi kendala, Dinas Pendidikan Provinsi Kepri bakal segera mencairkan dana tersebut.

Kepastian ini diperoleh dari Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepri, Teddy Jun Askara. Kemarin, Teddy sudah menanyakan langsung kejelasan ihwal uang sewa asrama tersebut.

“Saya sudah telepon mereka. Kata mereka uangnya dalam proses pencairan. Saya ingatkan agar segera dibayarkan. Jangan sampai adik-adik itu jadi korban,” tegas Teddy, Rabu (24/8).

Sementara itu, melalui sambungan telepon, Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepri-Malang (IKAPEMA), Zaid Fathin Abdullah mengatakan keterlambatan ini sedikit-banyak mengganggu konsentrasi kuliah ia dan teman-temannya. Karena pemilik rumah yang dijadikan asrama sudah menuntut panjar Rp 10 juta dengan tenggat cepat. Hal ini membuat mereka tidak punya banyak pilihan.

“Kami patungan dulu. Sudah terkumpul Rp 5 juta. Lagi ngejar lagi sisanya. Takut pemilik rumah minta mendadak. Kami merasa ini cukup memberatkan kami. Apalagi sekarang beasiswa kan sudah tidak ada dari Pemprov Kepri,” tutur Zaid.

Urusan biaya sewa asrama mahasiswa ini, sambung Zaid, seakan tidak pernah selesai dari tahun ke tahun. Selalu saja ada keterlambatan penyaluran dana dari Dinas Pendidikan Kepri. Padahal, mahasiswa Kepri yang mengenyam pendidikan di Kota Malang mengandalkan asrama kontrakan ini sebagai tempat tinggalnya. Dikarenakan keberadaan asrama mampu meringankan beban pengeluaran yang harus dibayarkan selama menjalani pendidikan perguruan tinggi.

“Tak semua teman-teman di asrama dari keluarga mampu. Apalagi tahun ini, beasiswa pun tidak bisa kami dapatkan,” ucap Zaid mewakili 49 mahasiswa asal Kepri.

Tak hanya asrama putra yang didiami 26 mahasiswa, asrama putri pun memiliki persoalan yang tak jauh berbeda.

Untuk asrama putra, per tahunnya dikenai biaya kontrak sebesar Rp 45 juta. Sementara asrama putri lebih murah dengan biaya sewa Rp 35 juta per tahun.

“Dan kami diharuskan membayar sampai dengan akhir Oktober mendatang. Jika terlambat membayar, satu harinya dikenakan denda Rp 100 ribu. Dan jika tidak bisa membayarkan Rp 35 juta itu pada akhir Oktober, maka 23 mahasiswi diminta keluar dari asrama itu,” ungkap Zaid.

Besar harapan Zaid, Pemprov Kepri dapat menyediakan asrama permanen bagi para mahasiswa Kepri yang berada di Malang. Dan kalau pun hal itu belum dapat tercapai, setidaknya pencairan uang untuk sewa rumah ini, dapat dipercepat atau ada jadwal waktu yang tetap setiap tahun. “Karena persoalan ini yang selalu kami rasakan tiap mendekati hari pembayaran sewa rumah,” pungkas Zaid. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar