Kêkah, Hewan Langka hanya Ada di Natuna, Terancam Punah

952
Pesona Indonesia
Kêkah terancam punah. foto: wijaya satria / batampos
Kêkah terancam punah.
foto: wijaya satria / batampos

batampos.co.id – Kêkah, ialah satwa primata langka, yang hanya ada di Pulau Bunguran, Natuna. Kini ia terancam punah. Populasinya terus menurun.

Kêkah bertubuh kurus diselimuti bulu tebal berwarna hitam di bagian punggung. Di pipi dan paha bagian dalam bulu putih keperakan menyembul. Lucu dan menggemaskan.

Pemilik nama latin Presbytis Natunae  itu merupakan hewan endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Bunguran, pulau utama di Kabupaten Natuna. Peneliti pada Pusat Studi Biodiversitas dan Konservasi Universitas Indonesia, Ferdi Rangkuti yang meneliti hewan ini pada 2002 dan 2003 lalu, menyebutkan Kêkah merupakan salah satu hewan endemik di Natuna selain dua primata lainnya, yakni kukang (Nycticebus Coucang Natunae), dan kera ekor panjang (Macaca Fascicularis Pumila).

“Namun di antara mereka, Kêkah yang paling terancam keberadaannya,” tulis Ferdi dalam laporannya yang berjudul Kêkah Natuna Terancam Punah.

Oleh International Union for Conservation of Nature, Kêkah digolongkan dalam kategori jenis hewan yang rentan akan kepunahan. Populasinya yang hanya ada di Pulau Bunguran dan jumlahnya yang terus menurun, membuat Kêkah masuk dalam golongan itu.

Ketika tiga peneliti Universitas Amsterdam Martjan Lammertink, Vintcent Nijman, dan Utami Seriorini menyusuri hutan Gunung Ranai pada 2001, mereka memperkirakan jumlah Kêkah saat itu di bawah 10 ribu ekor.

“Jumlahnya terus menurun dari waktu ke waktu,” tulis ketiganya dalam makalah Population Size, Red List Status and Conservation of the Natuna Leaf Monkey Presbytis Natunae Endemic to the Island of Bunguran, Indonesia.

Dalam tulisannya, ketiga peneliti itu juga memasukkan Kêkah sebagai 25 jenis primata yang hampir punah. Dan, dari sebelas jenis lutung, kekah termasuk sedikit jenis yang merupakan endemik di pulau-pulau tunggal.

Menurunnya populasi kekah saat ini membuatnya sulit ditemukan di alam liar. Deng, warga Ranai mengungkapkan, pada tahun 90-an, ia masih bisa melihat lutung Natuna itu di lingkungan penduduk.

“Sekarang sudah nggak pernah,” katanya.

Pengalaman yang sama diceritakan warga Kampung Penagi, M Satar. Ia menuturkan, tahun 1985, saat ia datang ke Ranai dari Pekanbaru untuk berdagang kain, masih sering melihat kekah bergelantungan di pohon-pohon bakau di sekitar Penagi.

“Jumlah mereka banyak dan sering meramaikan hutan bakau dengan suaranya,” kenang Satar.

Meski banyak, warga Penagi tak punya hasrat menangkap Kêkah itu. Pasalnya, hewan itu tidak pernah mengganggu mereka.

“Kami biarkan mereka damai di hutan bakau itu,” tambah Satar.

Kondisi itu berubah ketika Natuna ditetapkan menjadi kabupaten pada 1999. Geliat pembangunan di kabupaten baru mengusik kedamaian kekah di rumah mereka. Beberapa hutan bakau berubah menjadi dermaga dan sarana lainnya membuat Kêkah mencari tempat yang baru.

“Sejak Natuna jadi kabupaten itulah makin lama Kêkah makin  jarang terlihat di hutan bakau,” tutur Satar, yang kini berumur 62 tahun.

Selain alih fungsi hutan menjadi kawasan pembangunan, pertanian, atau perkebunan, satu yang mengancam keberadaan Kêkah adalah perdagangan satwa. Kêkah banyak ditangkap warga karena harganya yang tinggi.

Catatan pertama tentang Kêkah berasal dari pengamatan dua ahli ilmu hewan Ernst Hartert dan Thomas yang datang menjelajah hutan Bunguran tahun 1884. Saat itu, mereka menggolongkan kekah sebagai spesies Semnopithecus Natunae. Satu yang kurang dari observasi keduanya adalah mereka tak melihat hewan itu dari dekat.

Adalah Alfred Hart Everett, pegawai negeri sipil Kerajaan Inggris yang bertugas di wilayah Kalimantan yang pertama kali menangkap contoh Kêkah pada Oktober 1896. Sejak itu sampai akhir abad 20 golongan Kêkah terus berganti. Mulai dari bagian spesies lutung Semenanjung Malaysia, lalu lutung Sumatera Barat, dan lutung Johor.

Namun, pada tahun 2001, lewat bukunya Primate Taxonomy, Colin Groves menetapkan kekah sebagai spesies tersendiri dari keluarga lutung, bukan turunan dari tiga spesies lutung, seperti yang disangkakan sebelumnya.

Bagaimana Kêkah ini sampai ke Bunguran? Ilmuwan Konservasi asal Belanda, Erik Majaard (2004) memperkirakan, nenek moyang lutung berasal dari daratan Asia. Mereka bergerak ke wilayah yang saat ini menjadi Semenanjung Malaysia, lima sampai tujuh juta tahun yang lalu. Ketika itu, Semenanjung Malaysia masih bersatu dengan Pulau Sumatera bagian utara dan Kalimantan. Sementara Laut Cina Selatan pada masa itu sudah merupakan lautan.

Pergerakan itu tak berhenti di Semenanjung Malaysia. Leluhur lutung kemudian berpindah ke Kalimantan dan Sumatera bagian utara yang pada masa itu terpisah dari bagian selatan saat ini.

Perkembangan paling pesat berlangsung pada 2,5 juta hingga 1,8 juta tahun yang lalu yang merupakan masa awal zaman es. Kondisi ini terjadi karena terbentuknya jalur yang menghubungkan Semenanjung Malaysia kala itu dengan wilayah yang saat ini menjadi Kepulauan Lingga, Bangka, dan Belitung serta Kalimantan. Semuanya terhubung menjadi satu daratan. Sebagian leluhur lutung yang berasal dari Semenanjung Malaysia perlahan bergerak ke wilayah yang saat ini menjadi Pulau Bunguran.

Ketika bumi memasuki puncak zaman es antara 26 ribu sampai 20 ribu tahun lalu, sejumah leluhur Kêkah sudah mendiami hutan wilayah yang saat ini menjadi Pulau Bungutan. Es saat itu kembali menyatukan Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang sempat terpisah. Dan, ketika pemanasan global terjadi dan es mencair, ketiga pulau itu terpisah lagi seperti kondisi yang ada saat ini. Akibat mencairnya es dan naiknya permukaan air laut itu, menyebabkan terbentuknya Pulau Bunguran dan mengisolasi makhluk hidup di dalamnya. Masa isolasi selama belasan ribu tahun akhirnya membentuk karakter unik setiap spesies di Pulau Bunguran, berbeda dengan pulau-pulau lainnya, termasuk kekah.

Habitat Kêkah, menurut Lammertink, berada di wilayah rendah Pulau Bunguran.

“Mereka banyak ditemukan di bawah ketinggian 260 meter di atas permukaan laut,” ujar dia.

Namun, Lammertink tak bisa menyangkal laporan-laporan yang mengamati Kêkah hingga ketinggian 650 meter seperti yang dilakukan Ferdi Rangkuti dan Indrawan. Karena banyak ditemukan di wilayah yang rendah, Kêkah sering berkonflik dengan manusia.

Kêkah terusir ketika habitat mereka harus diubah menjadi kebun karet. Tak sampai di situ, mereka harus menyingkir jika habitat mereka kembali diusik karena alasan pembangunan.

“Bahkan, saat mereka harus tinggal di kebun karet tua, tak ada Kêkah akan lama di situ, kerena satu saat kebun itu akan diremajakan,” tutur Ferdi.

Kepala Bidang Tata Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Pemkab Natuna, Trisnan Saputra, mengatakan saat ini pemerintah daerah belum mengetahui populasi kekah. Perlu penelitian dengan anggaran cukup besar.  Peraturan daerah menegaskan sebagai fauna dilindungi pun belum dilaksanakan.

“Secara undang undang, fauna ini tidak boleh dipelihara secara bebas. Tapi juga perlu penetapan kawasan konservasi Kêkah dan satwa lain yang dilindungi, itu belum punya,” kata Trisnan.

Dikatakan Trisnan, Natuna juga memerlukan lembaga karantina untuk melindungi dari perdagangan bebas fauna yang dilindungi.

Sebenarnya, kata Trinan, perlindungan Kêkah sudah diterbit dalam Keputusan Bupati Natuna tahun 2003 lalu. Namun aturan tersebut tidak maksimal diterapkan, dan sudah lama tidak berlaku.

“BLH sudah menyiapkan draf Perda Perlindungan Fauna yang dilindungi dan terancam punah termasuk Kêkah. Namun selalu terkendala anggaran, karena perlu diadakan penelitian, uji publik untuk masukan saran pendapat dan lainnya,” ujar Trisnan. (aulia rahman, natuna)

Respon Anda?

komentar