Meranti Mulai Kondusif Setelah Bentrokan yang Menewaskan 1 Polisi, 2 Warga Sipil

2438
Pesona Indonesia
Massa saat mengepung Mapolresta Meranti. Foto: RPG
Massa saat mengepung Mapolresta Meranti. Foto: RPG

batampos.co.id – Setelah sempat mencekam, Kamis (25/8/2016), Kota Selatpanjang, Meranti, Riau, kini berangsur kondusif. Beberapa warga mulai terlihat membuka toko, Jumat (26/8/2016) pagi, mesti tak sedikit juga yang masih memilih tutup.

Ya, kemarin, semua kantor pemerintahan dan pertokoan ditutup. Begitu juga dengan para siswa, mereka dipulangkan lebih awal, setelah ribuan massa mengepung Markas dan asrama Polres Kepulauan Meranti.

Kejadian berawal dari pembunuhan yang dilakukan oleh Afriyadi Pratama, 24, warga Gang Abadi Jalan Banglas Selatpanjang terhadap seorang anggota Polres Meranti, Aidil Tambunan, 32, di parkiran Hotel Furama Selatpanjang, Kamis (25/8/2016) sekira pukul 01.45 WIB dini hari.

Polisi berpangkat Brigadir itu tewas bersimbah darah setelah ditikam oleh sebilah badik dengan 5 tusukan di bagian dada dan lengan. Belum diketahui motif pembunuhan tersebut, tapi pengakuan saksi mata, korban dan tersangka sempat cekcok.

Tersangka sempat melarikan diri dengan menyeberang ke Pulau Merbau, namun sekitar pukul 03.30 Wib, tersangka berhasil ditangkap dan dihadiahi timah panas di bagian kaki. Kemudian langsung dibawa ke RSUD Selatpanjang. Setelah itu, paginya tersangka dibawa ke klinik Polres.

Awak media sempat meminta izin kepada Kapolres AKBP Asep Iskandar untuk menemui tenaga honorer DPPKAD itu guna wawancara, namun tidak dizinkan.

Saat jenazah Brigadir Tambunan diberangkatkan dari pelabuhan Tanjungharapan Selatpanjang, sekitar pukul 09.40 Wib, awak media mendapat kabar kalau tersangka sudah tewas dan jenazahnya dibawa kembali ke RSUD.

Sesampai di RSUD, Kapolres langsung melihat jenazah tersangka di ruang IGD bersama Sekda Iqaruddin. Namun sekali lagi wartawan tidak dibolehkan mengambil gambar.

Tidak lama berselang, massa yang mendengar kabar kematian tersangka yang tidak wajar dan diduga dianiaya oleh anggota polisi meramaikan halaman RSUD.

Dari poto yang beredar di media sosial, saat ditangkap wajah tersangka terlihat normal namun setelah itu beredar foto tersangka dengan wajah yang sudah bengkak, memar, dan mengeluarkan darah sehingga susah dikenali.

Bahkan, beberapa perawat dan dokter yang bertugas di IGD memberikan kesaksian tersangka jadi bulan-bulanan anggota polisi. Petugas medis itu sempat meminta agar tersangka yang sudah tidak berdaya tidak dipukuli, namun tidak diindahkan.

Massa yang tersulut emosi tidak menerima penganiayaan yang dilakukan polisi mulai berteriak dan meminta Kapolres menyerahkan anggota Polres yang melakukan tindakan tidak sesuai prosedur itu.

Warga melempar batu ke polisi yang mencoba bertahan menggunakan tameng. Foto: RPG
Warga melempar batu ke polisi yang mencoba bertahan menggunakan tameng. Foto: RPG

Kapolres bersama Dandramil Tebingtinggi, Mayor Bismi Tambunan, Sekda Iqaruddin, Anggota DPRD, Hafizan Abas dan sejumlah pejabat lain langsung melakukan pertemuan di aula RSUD. Dari pertemuan yang berlangsung alot itu, Kapolres berjanji akan mengusut anggotanya yang diduga melakukan penganiayaan tersebut.

“Saya bersumpah demi Tuhan, tidak pernah memerintahkan anggota untuk macam-macam, apalagi membunuh. Semuanya situasional anggota di lapangan. Saya berjanji akan mengusut tuntas masalah ini. Tim dari Polda juga dilibatkan,” kata Asep.

Sekitar pukul 11.30 Wib, pertemuan yang dilakukan selesai namun ratusan massa semakin ramai dan mulai berencana mendatangi Mapolres. Seperti dikomandoi, ratusan massa itu langsung berangkat menggunakan sepeda motor.

Dari pantauan, massa yang berkumpul dihadang oleh anggota polisi menggunakan tameng dan pentungan. Kemudian digaris belakang, sejumlah anggota lain bersenjata laras panjang sedang bersiaga.

“Kalian pikir kami ini binatang, seenaknya kalian saja. Aparat kok main hukum rimba,” teriak aksi massa.

Suasana semakin panas, massa mulai melemparkan batu, kayu dan berbagai benda lain. Kapolres, Sekda dan Ketua LAMR, Ridwan Hasan, sempat menenangkan massa namun gagal. Melihat massa makin beringas, mereka langsung dievakuasi kedalam Mapolres.

“Kami minta polisi penganiaya Adi ditunjukkan,” ancam mereka.

Massa yang berkumpul semakin ramai, kemudian melakukan perlawanan dengan mendorong pagar betis dan memukul polisi. Melihat massa yang sudah tidak terkendali dan memasuki halaman Mapolres, polisi mulai marah dengan melepaskan puluhan tembakan.

Tidak lama berselang, terlihat satu orang tergeletak persis di depan gerbang Mapolres bersimbah darah. Melihat temannya terkapar, massa langsung mengevakuasi.

Belakangan diketahui korban bernama Isrusli, 41, warga Jalan Dorak, Selatpanjang. Ayah tiga anak itu terlihat tewas di tempat dengan luka tepat di dahi yang diduga berasal dari peluru senjata anggota polisi.

Setelah membubarkan dengan menembak dan memukul, massa mulai menjauhi Mapolres. Di tempat berbeda, sekitar pukul 15.00 Wib, sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, agama, dan kepala suku serta unsur pemerintah daerah melakukan pertemuan di Gedung LAMR.

Massa yang semakin tidak terima dengan tewasnya satu korban lagi, mulai melakukan perlawanan dengan memblokir simpang Jalan Kartini – Pembangunan dan juga simpang Sidomulyo. Asrama polisi yang berada di jalan tersebut sempat diamuk massa namun dihadang polisi, beberapa sepeda motor diduga milik polisi dibakar.

Polisi melepaskan tembakan gas air mata dan juga peluru karet. Massa yang mengepung dari dua arah membalas menggunakan batu dan kayu.

Sekitar pukul 17.00 Wib, tiga kompi Brimob dari Polda Riau tiba di Selatpanjang menggunakan kapal cepat. Setelah itu, massa dipukul mundur dan mulai membubarkan diri. Namun, di beberapa titik masih terlihat kosentrasi massa yang didominasi para pemuda. (amn)

Respon Anda?

komentar