Dibangun di Lahan Warga, Perpustakaan SD 001 Desa Air Asuk Ditutup

442
Pesona Indonesia
Perpustakaan SD 001 Desa Air Asuk yang tampak ditutup. foto:syahid/batampos
Perpustakaan SD 001 Desa Air Asuk yang tampak ditutup. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Bangunan Perpustakaan SD 001 Desa Air Asuk hingga saat ini tidak bisa digunakan secara maksimal lantaran ada salah seorang warga setempat mengaku bahwasanya perpustakaan itu dibangun di lahan miliknya.

Pantauan di lapangan, tidak ada salah seorang muridpun yang masuk ke perpustakaan yang dibangun dibagian belakang sekolah karena bangunan terkunci rapat. Penjaga perpustakaan juga tidak ada sehingga tampak sepi tanpa penjagaan.

Kepala Sekolah SD 001 Desa Air Asuk, Syamsul, menjelaskan perpustakaan itu dibangun sekitar tahun 2012 tapi hanya digunakan sebentar saja. “Sebelum ada klaim dari pemilik lahan, perpustakaan itu sempat digunakan,” ungkapnya kepada wartawan Jumat (26/8)

Meski tidak digunakan secara normal, tapi bangunan perpustakaan yang ada itu digunakan untuk menyimpan buku. “Kita tidak bisa menggunakan perpustakaan itu secara maksimal karena perpustakaan itu diklaim milik warga, makanya kita kunci saja dan kita pakai untuk menyimpan sebagian buku sekolah,” ungkapnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Namun demikian dirinya tidak berani menyebut siapa nama pemilik lahan itu. Yang jelas pernah terjadi keributan ketika perpustakaan itu digunakan. “Pada awalnya kita gunakan tapi ada yang klaim jadi tidak kita gunakan lagi,” jelasnya.

Salah seorang warga setempat, Wardi mengaku prihatin bahkan menyayangkan sikap pemda yang ceroboh dengan mendirikan bangunan perpustakaan tapi tidak teliti secara administrasi. Sehingga menimbulkan masalah dibelakang.

“Seharusnya pemda sebelum mendirikan bangunan, harus cek benar-benar apakah dilahan yang akan didirikan bangunan itu jelas atau tidak, jadi tidak menimbulkan permasalahan kedepannya,” ungkapnya.

Dengan adanya permasalahan seperti ini pemda harus mencari solusi. Apakah lahan yang sudah terlanjur didirikan bangunan itu akan diganti rugi atau bangunan itu dibongkar supaya ada kejelasan.

“Kalau tidak segera diselesaikan, maka permasalahan ini akan berlarut-larut tanpa ujung, kalau seperti ini murid yang dirugikan
karena tidak bisa membaca buku di perpustakaan,” tutupnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar