Dor… Satu Nyawa Dihargai Rp 5,7 juta

2171
Pesona Indonesia
Dia tak nampak sebagai pembunuh bayaran
Dia tak nampak sebagai pembunuh bayaran

batampos.co.id – Presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte, berjanji akan memberantas penyebaran obat terlarang tersebut sampai keakar-akarnya. Dia bahkan mengklaim akan membunuh 100 ribu kriminal dalam enam bulan masa pemerintahannya.

Aksinya mencengangkan dunia. Sampai saat ini sudah ada 2.000 orang kriminal yang sebagian besar terlibat narkoba tewas. Semuanya mati dalam waktu hanya sepekan.

”Apakah nyawa 10 orang kriminal itu berharga? Jika saya satu-satunya orang yang menghadapi ini, apakah 100 nyawa berarti buat saya?” katanya.

Dan, untuk menyelesaikan tugas-tugas itu, pemerintahannya butuh bantuan. Buntutnya, mereka yang terbunuh tak hanya mati di tangan penegak hukum. Sudah menjadi rahasia umum otoritas Filipina juga memiliki pembunuh bayaran. Tugas mereka, ya membunuh orang-orang yang masuk daftar hitam kepolisian.

Tidak hanya lelaki, pembunuh bayaran tersebut juga berjenis kelamin perempuan!

Bahkan, ibu-ibu.

Salah seorang di antaranya Maria. Perempuan yang namanya disamarkan itu adalah ibu muda seorang anak lelaki dan bayi perempuan. Tetapi, jangan ragukan sepak terjangnya. Selama kampanye melawan narkoba dicanangkan, Maria sudah membunuh enam orang.

”Order pertama saya adalah seseorang dari provinsi tetangga,” katanya seperti diceritakan kepada BBC.

Tak hanya sendirian, Maria bergabung dalam tim yang terdiri atas tiga perempuan. Perempuan terpilih karena dinilai lebih aman dan tidak mudah dicurigai saat mendekati calon korbannya. Maria sendiri berperawakan jauh dari kesan sangar. Posturnya seperti ibu-ibu pada umumnya, sedikit lusuh, dan mudah gugup.

Tetapi saat bekerja, dia cukup sadis. Korban pertama Maria ditembak tepat di kepalanya. Ketika Duterte menjabat pada Juni 30, Maria sudah mendapat lima order. Dan semuanya berhasil dilaksanakan dengan sukses. Dia menghabisi kelimanya dengan tembakan tepat di kepala.

”Yang memberikan perintah, bos kami, pejabat kepolisian,” katanya.

Perang melawan narkoba yang dicanangkan Duterte memang menambah pekerjaan Maria. Tetapi semua itu bukan tanpa risiko. Order pertama Maria datang dari suaminya sendiri. Suaminya yang juga pembunuh bayaran ditugaskan mencari perempuan untuk membunuh seorang bandar narkoba.

”Kejadiannya begitu cepat. Begitu saya melihat lelaki yang menjadi target, saya langsung mendekatinya dan menembaknya di kepala,” ceritanya.

Tinggal di kawasan kumuh Manila, Maria dan suaminya tidak memiliki pendapatan tetap. Sementara ini, menjadi pembunuh bayaran adalah pilihan yang tidak bisa ditolak demi memenuhi kebutuhan hidup. Bila berhasil dalam tugasnya, Maria mendapatkan USD 430 (setara Rp 5,7 juta) yang harus dibagikan ke anggota timnya yang terdiri atas tiga orang.

Tidak pernah menyesal?

”Sudah pasti. Saya tidak ingin keluarga mereka yang sudah saya bunuh membalas dendam,” katanya. Dia juga khawatir dengan pendapat anak-anaknya tentang pekerjaannya.

Saat ini, Maria sudah mendapat tugas lagi. Dan dia berniat untuk pensiun saat pekerjaan itu sudah diselesaikan. Tetapi, bosnya mengancam akan membunuh siapa pun yang berniat berhenti.

”Saya merasa terjebak,” katanya.

Apakah Maria merasa berada di bawah lindungan hukum karea perintah pembunuhan itu adalah bagian dari kampanye presiden?

”Kami hanya membahas misi dan bagaimana menyelesaikannya. Ketika sudah selesai, kami tidak membicarakan hal itu lagi,” katanya dengan mata menerawang. (*/tia)

Respon Anda?

komentar