Malam Ini, Gerak Jalan 45 KM, Peserta Dilepas di Pulau Dompak

4427
Pesona Indonesia
Gerak Jalan Tri Juang  tahun lalu. foto:fatih/batampos
Gerak Jalan Tri Juang tahun lalu. foto:fatih/batampos

batampos.co.id – Rangkaian lomba Gerak Jalan Tri Juang yang yang ditaja Pemerintah Kota Tanjungpinang mencapai puncaknya, Sabtu (27/8) malam ini. Sedikit berbeda dengan penyelenggaraan gerak jalan 45 kilometer tahun-tahun lalu. Nanti malam, ratusan kelompok bakal dilepas di Pulau Dompak. Pergeseran garis start ini diterapkan untuk memberikan suasana baru bagi para peserta.

“Banyak peserta yang mengaku bosan kalau setiap tahun start di Terminal Sungai Carang,” terang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tanjungpinang, Djafnurinsyah, kemarin.

Suasana baru ini dijanjikan bakal lebih menantang bagi para peserta. Sebab bukan sekadar jadi garis pelepasan peserta saja. Melainkan, sambung Djafnurinsyah, peserta juga harus menempuh rute mengelilingi Pulau Dompak untuk kemudian menuju garis finis di kawasan Anjung Cahaya Tepi Laut.

“Memang rute lama itu diukur kurang pas. Jadi kami pindah start dari depan kantor Dinas Pendidikan Provinsi di Dompak dan finis tetap di Anjung Cahaya, Tepi laut. Kalau dari Dompak baru pas,” katanya.

Hingga kini, panitia mencatat sebanyak 265 kelompok peserta sudah mendaftar. Terdiri dari peserta umum sebanyak 233 tim, pelajar 13 tim, Forkominda tujuh tim, dan SKPD 12 tim.

Di tempat terpisah, lagi-lagi Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah mengimbau kepada seluruh peserta gerak jalan 45 Kilometer agar mematuhi setiap aturan yang telah dibuat panitia. Baik itu tentang kostum yang dikenakan, nyanyian di sepanjang jalan, dan ikut serta menjaga ketertiban selama pelaksanaan.

“Kemarin sudah ada tiga regu di 17 kilometer yang dikeluarkan. Saya tidak mau hal ini terjadi lagi di 45 kilometer,” tegas Lis. Menurut Lis, alasan di balik penyelenggaraan lomba Gerak Jalan Tri Juang adalah untuk memaknai semangat perjuangan. “Bukan untuk hura-hura atau bergaya-gaya di jalanan,” tambahnya.

Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) I Kota Tanjungpinang, Ade Angga sepakat, polemik kostum ini harus disudahi sejak gelaran tahun ini.

“Saya masih dan akan selalu yakin, kreativitas yang menghibur itu tidak harus cabul,” ungkap Angga.

Sebagai anak jati Tanjungpinang, Angga mengharapkan hal semacam ini bisa terwujud. Karena ini berkenaan langsung dengan tata krama dan citra penduduk kota. “Warga Tanjungpinang ini berada di titik yang pernah jadi episentrum kebudayaan Melayu. Hal ini mesti tercermin hingga kini dalam laku hidup sehari-hari,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar