Rida K Liamsi: Sungai Carang Adalah Harta Karun

832
Pesona Indonesia
Festival Sungai Carang akan  ikut meramaikan Festival Bahari Kepri (BRK) Oktober mendatang. foto:dok
Festival Sungai Carang akan ikut meramaikan Festival Bahari Kepri (BRK) Oktober mendatang. foto:dok

batampos.co.id – Chairman Riau Pos Group, Rida K Liamsi mengatakan tujuan digagasnya Festival Sungai Carang adalah untuk mengangkat tradisi. Menurutnya peran Sungai Carang harus dihidupkan kembali, sehingga memberikan roh kehidupan bagi pembangunan pariwista Tanjungpinang kedepan. Sungai Carang harus diseret dari kebisuannya, karena sungai tersebut adalah harta karun yang belum terjamah.

“Tanjungpinang patut berbangga, karena memiliki Sungai Carang. Apalagi punya jejak sejarah yang panjang. Dulunya, di sana ada kehidupan selama 200 tahun yang sarat dengan sejarah,” ujar Rida K Liamsi dalam rapat koordinasi persiapan Festival Sungai Carang yang merupkan rangkaian Festival Bahari Kepri (FBK) di Hotel CK, Tanjungpinang, Kamis (25/8) malam.

Berangakat dari pemikiran tersebut, Rida tetap menginginkan nama FSC tetap lekat dan menjadi ikon. Sementara untuk tema bisa berubah-rubah seperti yang digagas saat ini “Sungai Cahaya”. Menurut Rida, tahun pertama digelarnya FSC adalah laluan untuk mengangkat nama besar Sungai Carang. Masih kata Rida, Sungai Carang bisa menjadi even wisata yang istimewa, seperti Sungai Malaka. Sehingga menjadi roh atau kekuatan wisata Tanjungpinang. Penggagas Yayasan Sagang tersebut sangat sepakat even dragon boat race (DBR) digelar di Sungai Carang.

Tanjungpinang sangat beruntung memiliki Sungai Carang, karena punya kehidupan dan sejarah. Bagaimana memberikan makna yang jelas pada jejak sejarah itu. Yakni melalui FSC. Lebih lanjut katanya, Makam Sultan Sulaiman hanya sebuah makam. Padahal perannya sangat luar biasa. Seharusnya ini bisa menjual bagi kepentingan pariwisata Tanjungpinang.

Selain itu, Rida juga mendukung gagasan pembuatan buku sejarah Sungai Carang. Dalam rapat tadi malam, Rida meminta COO Divre Batam, Socrates untuk menggali kebesaran Sungai Carang bersama tokoh sejarawan Kepri, Aswandi Syahri. Ia menyarankan konten yang dimuat dalam buku sejarah tersebut bisa dibaca anak-anak sekolah. Artinya isi cerita tidak terlalu ilmiah.

Sekali lagi, Rida mengatakan Sungai Carang harus memberikan makna ekonomi bagi masyarakat Tanjungpinang. Selain itu juga bisa menjaga tradisi. Karena kalau hanya sporadis tidak akan bertahan. Sehingga kegiatannya harus dilakukan secara kontinu.

“Kalau sudah menjadi tradisi akan bergerak sensi sebagai satu kekuatan ekonomi,” paparnya.

Disebutkan Rida, gagasannya untuk mencantolkan itu pada hari jadi Tanjungpinang, yakni pada bulan Januari. Tujuannya adalah untuk menyeret Sungai Carang dari kebisuannya. Akan tetapi kelanjutan tentu akan diserahkan kepada pemerintah. Terkait terbenturnya soal pendanaan apabila digelar pada Januari, Rida mengatakan selalu ada acara.

“Kalau memang Tanjungpinang menjadikan bulan Oktober sebagai bulan wisata. Nanti kita mint Aswandi untuk menggali, apa sejarah besar yang terjadi pada bulan Oktober,” sebutnya.

Menyikapi ragam kegiatan yang akan digelar pada kegiatan itu nanti, Rida juga sangat mendukung. Seperti festival kuliner 10 kampung yang ada di kawasan Sungai Caranf merupakan sesuatu yang luar biasa. Pada kesempatan itu, Rida juga mengatakan kelurahan atau desa harus cerdas dalam menggali sejarah. Misalnya Kampung Bulang. Karena sejarah setiap kampung harus dibangun.

“Membangun spirit, memnahami sejarah, maka akan membangun tradisi,” tegas Rida.

Atas dasar itu, semangat masing-masing kampung yang harus ditanamkan adalah merasa memiliki Sungai Carang itu yang perlu dihidupkan. Sehingga bisa membangkitkan kembali semangat kreativitas generasi penerus. Seperti mempetahankan tradisi gurindam 12. Festivalnya sangat sederhana. Akan tetapi menggerakan semangat kreativitas anak muda.

“Jangan tinggalkan kampung di pinggir sungai. Berikan tempat anak muda, sehingga bisa menjaga tradisi. Roh seperti inilah yang harus dipertahankan,” paparnya lagi.

Sementara itu, terkait nama-nama yang akan disematkan pada kapal-kapal yang terlibat dalam Parade Kapal Hias Sungai Carang semata-mata untuk mengingat. Apabila perlu ada seorang untuk mendeskripsikan masinga-masing tokoh yang namanya dipakai dalam kegiatan itu nanti.

“Sepakat tidak pernah berubah namanya tetap FSC, temanya Sungai Cahaya. Tujuannya tetap memberikan nilai ekonmis, menjadikan destinasi wisata, dan menjaga tradisi. Dekorasi lighting harus mempesona. Semakin berkilau, makin ok. Karena Sungai Carang adalah harta karun yang belum terjamah,” tutup Rida.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti mengatakan dalam rangkaian FSC itu nanti ada beberapa kegiatan. Yang utama adalah Parade Kapal Sungai Carang. Selain itu ada juga fashion show busana melayu, panggung gurindam parade drum band. Parade kapal sungai carang digelar pada 29 Oktober mendatang.

“Untuk kegiatan-kegiatan lain kita mulai pada 25 Oktober. Kita targetkan 100 kapal yang terlibat dalam parade kapal sungai carang nantinya. Kunci dari kemeriahan ini adalah memang pada lightingnya,”ujar Guntur.

Sementara itu, Sekdako Tanjungpinang, Riono mengatakan pihaknya siap menurunkan 50 kapal hias. Diakhir pertemuan, Rida juga menyampaikan pelaksanaan FSC selanjutnya akan serahkan kepada Pemko Tanjungpinang. Mimpinya adalah Tanjungpinang berkembang layaknya sepeti Melaka, Malaysia. Dalam rapat yang diprakarsai Dispar Kepri tersebut, turut dihadir perwakilan KSOP Tanjungpinang, SAR, Polair, Satpol PP kepri, dan dishub kepri.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar