Soetantyo Moechlas si Penulis Kisah Mukidi yang Kini Heboh

817
Pesona Indonesia

Menjelang Idul Fitri Markonah tertarik membeli kosmetik mahal asli Paris bukan beli dari MLM seperti teman-temannya. Kosmetik ajaib yang lebih mahal dari Bobbi Brown, Stila, dan Mac menurut salesgirlnya memberi garansi, pemakainya akan tampil jauh lebih muda dari usianya.

Setelah berjam-jam duduk di depan meja rias, mengoleskan kosmetik ‘ajaib’ nya, dia bertanya kepada Mukidi, sang suami:

“Mas, sejujurnya berapa tahun kira-kira usiaku sekarang?”

Mukidi memandang lekat-lekat istrinya tercinta.

“Kalau dilihat dari kulitmu, usiamu 20 tahun; rambutmu, hm…18 tahun….penampilanmu; 25 tahun…”

“Ah mas Mukidi pasti cuman menggoda,” Markonah tersipu manja.

“Tunggu dulu sayang, saya ambil kalkulator….. saya jumlahkan dulu ya…..”

Sosok Mukidi, tokoh fiksi yang ceritanya beredar luas di media sosial, ditulis oleh Soetantyo Moechlas, seorang pensiunan perusahaan farmasi. Mukidi digambarkan oleh penulis sebagai orang Cilacap, model Banyumasan, berperawakan sedang, dan tidak ganteng. Humor Mukidi sering dijadikan modal untuk kegiatan pelatihan.

Sosok Mukidi, belakangan, menjadi terkenal lewat postingan di media sosial dan sejumlah broadcast aplikasi. Setiap bacaan tentang Mukidi selalu membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Penikmat cerita Mukidi pun bukan hanya dari kalangan dewasa, kini sejumlah remaja pun mencari-cari cerita Mukidi yang penuh dengan hiburan.

Soetantyo Moechlas adalah orang di balik pembuatan cerita tentang sosok Mukidi. Dia merupakan pensiunan sebuah perusahaan farmasi. Pertama menulis figur Mukidi pada tahun 1990-an. Semasa itu, Soetantyo juga berkontribusi untuk mengisi cerita-cerita lucu di sebuah radio swasta.

PENULIS cerita kocak Mukidi, Soetantyo Moechlas, saat berada di ruang kerjanya yang menjadi satu di rumahnya di Komplek Jatibening I, Kota Bekasi.
PENULIS cerita kocak Mukidi, Soetantyo Moechlas, saat berada di ruang kerjanya yang menjadi satu di rumahnya di Komplek Jatibening I, Kota Bekasi.

Pria kelahiran Purwokerto, 7 Februari 1954 ini menuturkan, nama Mukidi dipakai dalam cerita-cerita karyanya setelah seseorang di sebuah radio ada yang memakai nama Mukidi. Lucu dan sangat mudah dikenal. Ditambah lagi, Mukidi mudah dingat, dan sangat Jawa. Sedangkan ide penokohan Mukidi yang ditulisnya, kerap berbeda-beda. Sosok Mukidi kadang pintar, tidak nakal, kadang-kadang nakal, manusiawi. Istri Mukidi digambarkan bernama Markonah, mereka mempunyai anak bernama Mukirin dan Mukiran. Sahabat Mukidi adalah Wakijan.

Hampir setiap hari, Soetantyo mengerjakan tulisan-tulisannya di ruang kerjanya yang menjadi satu dalam rumah berlantai dua. Pria yang sudah berusia 62 tahun itu sehari-hari hanya ditemani istri dan satu anaknya.

“Dulu saya itu sering gunakan nama Mukidi sebagai bahan candaan. Saya dulu mengawali kerja dari medical representative, tukang obatlah, kemudian supervisor, produk manajer, trus jadi trainer. Kerjaan saya kan jualan, kemudian saya harus memberikan message ke orang jadi saya harus pake trik seperti itu,” kata Soetantyo, Minggu (28/8).

Soetantyo menceritakan, awalnya tulisan dia hanya ditampilkan di blog. Barulah sekitar tahun 2012, tulisan tersebut dituangkan ke dalam media sosial seperti Facebook. Hampir setiap hari ide cerita tentang Mukidi berbeda-beda. “Ide cerita itu dikumpulkan dari lingkungan, dan sejumlah tulisan-tulisan. Namun saya olah sedemikian rupa biar lucu,” ucapnya.

Bahkan, kata Soetantyo, tulisannya itu kerap digemari artis papan atas seperti Deddy Mizwar. Kala itu, kata dia, Deddy kerap meminta tulisannya. Hampir setiap hari orang nomor dua di Jawa Barat itu meminta broadcast Mukidi. “Kalau tidak dikirim sehari pasti nanyain. Biasanya, kalau sudah dibroadcast kerap mengirim kembali ke teman-temannya,” jelasnya.

Kini, Mukidi sudah terkenal. Soetantyo mengaku usia bukanlah halangan untuk tetap berkarya. Mensyukuri setiap babak kehidupan menjadi prinsip hidup yang dipegangnya.

“Saya kan dulu bikin asal-asalan. Jadi banyak bahasa yang mengandung pornografi. Sudah ada yang menawarkan dibuatkan buku,” katanya. (DENY ISKANDAR, Jakarta )

Respon Anda?

komentar