Kisah Nyai Unih, Penderita Kaki Gajah Dengan Bobot 100 Kilogram

673
Pesona Indonesia

Nyai-Unihbatampos.co.id – Jangan pernah sepelekan penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh cacing filaria ini. Gara-gara sebuah gigitan nyamuk yang membawa virus ini, penderita bisa cacat seumur hidup.

Nyai Unih (40) tak bisa bergerak bebas seperti manusia normal. Kaki gajah seberat 100 kilogram yang dideritanya membuat Nyai Unih hanya bisa berselonjor.

Warga Kampung Setu, RT 3/5, Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor itu tak bisa lagi berdiri. Di dalam rumahnya, Nyai Unih hanya bisa duduk selonjor beralas karpet kusut. Geraknya terbatas lantaran kakinya membengkak hingga 1 kuintal.

Saat metropolitan.id (grup pojoksatu.id) menyambangi kediaman Nyai Uni, pintu rumahnya masih tertutup rapat. Saat diketuk, seorang wanita mengenakan kaos oblong membukakan pintu. Rumsiah, kakak Nyai Unih yang sehari-hari membantu di rumah.

Dari luar sudah terlihat Nyai Unih tengah berselonjor di atas karpet merah. Kebetulan, tidak ada sekat yang membatasi antara ruang tamu dan tempat Nyai Unih duduk.

Saat itu, Nyai Unih duduk persis di ruang televisi yang langsung bersebelahan dengan ruang tamu. Banyak jenis obat yang berserakan dekat tempatnya istirahat. Rupanya, setiap hari ia harus menelan pil untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

“Setiap kerasa sakit pasti diminum. Biasanya kerasa gatal,” ungkap Nyai Unih.

Sejak 11 tahun silam, Unih menahan sakit. Geraknya jadi terbatas karena kakinya terus membesar. Sakit yang semula terjadi di betis kaki kiri, perlahan menjalar ke kedua kakinya. Setiap hari ia pun harus menanggung gundukan daging yang beratnya mencapai 100 kilogram atau 1 kuintal.

“Awalnya kaki cuma kerasa panas terus badan meriang. Ada rasa gatal juga. Lama-lama bengkaknya makin besar,” tutur Unih yang telah ditinggal putri bungsunya meninggal.

Pada 2010, Nyai Unih mengaku telah dioperasi. Tapi bukannya sehat, penyakitnya justru menjadi-jadi.

“Belum pernah dibantu dari kecamatan. Ini juga si Nyai pengobatannya sampai gadai motor,” timpal Rumsiah.

Kasus Nyai Unih memang bukan kali pertama terjadi. Di Kabupaten Bogor sendiri telah dicap sebagai wilayah endemik kaki gajah. Hingga tahun 2015 tercatat ada 55 kasus kaki gajah kronis yang terjadi. Paling banyak berada di Kecamatan Bojonggede hingga tembus 8 kasus.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor se­benarnya sudah memulai program pemberian obat massal berupa kombinasi albendazole dan DEC (di­ethylcarbamazine citrate) sejak 2008 di tiga keca­matan, yakni Kecamatan Rumpin, Parungpanjang dan Gunungsindur.

Sekretaris Dinas Kesehatan Erwin Suriatna mengaku kaget dengan adanya masyarakat Kabupaten Bogor yang terkena penyekit kaki gajah. Padahal, menurutnya tahun ini adalah tahun eliminasi Kaki Gajah.

“Mana alamat rumahnya, nanti saya akan suruh tim untuk melakukan pengecekan ke rumah korban,” ujarnya.

Erwin juga menerangkan, pihaknya sulit mendeteksi peredaran penyakit ini. Se­bab, banyak penderita yang enggan diobati.

“Kadang ada masyarakat yang malu sehingga tidak mau diobati atau masyarakat yang dari luar Bogor karena pindahan,” tan­dasnya.(pojoksatu)

Respon Anda?

komentar