Penggunaan Bahan Peledak Marak, PSDKP Bintan Kerjasama Kabupaten Pemangkat Awasi Laut Tambelan

548
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Satuan Kerja (Satker) Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri, menjalin kerjasama dengan Satker PSDKP Pemangkat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), dalam melaksanakan pengawasan terhadap aktivitas nelayan di Perairan Pulau Tambelan. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi maraknya pencarian ikan yang menggunakan bahan peledak atau kimia (ilegal fishing)

“Kerjasama ini sebagai upaya dalam meningkatkan pengawasan. Sehingga aktivitas ilegal fishing tak lagi marak di Laut Tambelan,” ujar Kepala Satker PSDKP Kabupaten Bintan, Asep, ketika dikonfirmasi, Selasa (30/8).

Dari catatan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), lanjutnya, banyak nelayan luar daerah khususnya Pemangkat yang sering beraktivitas mencari ikan di perairan Pulau Tambelan menggunakan bahan peledak (pengeboman) dan bahan kimia. Dampaknya, ekosistem bawah laut seperti ikan, terumbu karang, dan padang lamun banyak yang rusak dan mati bahkan terancam punah.

Agar kejadian seperti ini tidak terulang terus menerus, kata Asep, pengawasan dan penjagaan harus ditingkatkan di seluruh perairan Pulau Tambelan. Bahkan kegiatan itu nantinya tidak hanya sekedar melibatkan Satker PSDKP Bintan dan Pemangkat saja melainkan seluruh elemen masyarakat. Karena wilayah perairan yang mengelilingi Pulau Tambelan sangat luas.

“Seluruh kapal-kapal nelayan yang beraktivitas di Perairan Tambelan akan diawasi ketat oleh kedua Satker PSDKP. Kita juga minta masyarakat ikut memantau kapal-kapal nelayan yang di curigai akan melakukan ilegal fishing,” katanya.

“Jika instansi ataupun institusi lainnya berhasil menangkap pelaku pengebom ikan. Kita minta diproses langsung jangan pula dilepaskan karena diberikan iming-iming,” cetusnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KPPD) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bintan, Syarviddint Alustco mendukung kerjasama yang dijalin Satker PSDP Bintan dengan Pemangkat. Dengan itu, Kata dia, aktivitas pengeboman ikan yang akhir-akhir ini marak terjadi di perairan Pulau Tambelan bisa diatasi dengan maksimal.

“Maraknya pengeboman ikan itu membuat kondisi terumbu karang dan ekosistem bawah laut di kawasan konservasi rusak parah. Bahkan kerusakan mencapai 70 persen,” jelasnya.

Diakuinya, nelayan luar sering kali menangkap ikan dengan bahan kimia atau peledak. Akibatnya tekanan atau kadar kimia yang ditimbulkan dari bahan berbahaya itu membuat banyak ikan, terumbu karang dan lamun yang mati.

Ironinya lagi, Kata Syarviddint, tak hanya sekedar ikan berukuran besar yang hidup di bawah terumbu karang menjadi sasaran. Tetapi dampak bahan berbahaya itu membuat ikan yang ada di tepi perairan terbuka juga terimbas. Karena radiusnya bisa mencapai 15-30 meter.

“Jadi tak sekedar ikan besar saja yang mati melainkan ikan yang hidupnya di tepi juga ikut terimbas. Bahkan menghancurkan terumbu karang dan lamun,” ungkap Penanggung Jawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI) Kabupaten Bintan ini. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar