Ivan Diduga Diperalat Jaringan ISIS

443
Pesona Indonesia
Gereja Santo Yoseph Medan, tempat Ivan mencoba meledakkan diri, namun gagal. Foto: istimewa
Gereja Santo Yoseph Medan, tempat Ivan mencoba meledakkan diri, namun gagal. Foto: istimewa

batampos.co.id – Polisi terus menggali informasi soal aksi nekat Ivan Hasugian (18) yang mencoba meledakkan diri menggunakan bahan petasan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansyur, Medan Selayang, Minggu (28/8/2016).

Hasilnya, kepolisian mengklaim menemukan fakta baru. Ivan disinyalir diperalat oleh jaringan ISIS yang ada di Indonesia untuk melakukan aksi konyol itu.

Bahkan, Ivan disebut-sebut diperalat oleh jaringan Bahrum Naim, pria yang oleh Densus 88 disebut menjadi aktor di balik aksi teror Sarinah, Jakarta pada Januari lalu.

Hal itu dikemukakan oleh mantan narapidana kasus terorisme, Khairul Ghazali (50) yang sempat bertemu Ivan di Mapolresta Medan beberapa hari lalu.

Dikatakan Ghazali, Ivan telah didoktrin sejak setahun lalu. Kala itu, Ivan masih mengenyam bangku sekolah kelas XII.

“Berbaiat dia kepada pemimpin ISIS, setelah tamat sekolah, beberapa bulan lalu,” kata Ghazali dilansir Sumut Pos (Jawa Pos Group), Kamis (1/9/2016).

Bahkan Ghazali mengklaim telah melihat rekaman video Ivan yang berbaiat kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi. Rekaman yang diperoleh Ghazali saat polisi menggeladah rumah Ivan yang akhirnya menemukan video tersebut.

Dalam rekaman itu, klaim Ghazali, Ivan tampak memegang bendera ISIS.

“Sudah ketemu saya dengan IAH. Kemudian saya tanya dia (IAH) belajar dengan siapa dan dari buku apa,” ujar Ghazali.

Selain itu, klaim Ghazali, disimpulkan Ivan mendapatkan pengajaran yang diduga berkaitan dengan pergerakan radikal. Ivan juga menyebut sejumlah nama, salah satunya Bahrum Naim.

Lebih jauh Ghazali menduga, aksi Ivan bisa saja menjadi upaya bom bunuh diri pertama di Kota Medan. Tak tertutup kemungkinan, kejadian serupa akan kembali terjadi. “Akan ada yang lebih besar lagi (kejadiannya),” ujar Ghazali, menduga.

Selain itu, pengakuan Ivan menjadikan media sosial (medsos) sebagai referensinya.

Disebutkan Ghazali, Ivan bukanlah pelaku tunggal dalam aksi teror tersebut. Penyerangan itu dilakukan secara terorganisir.

“Ada kelompoknya dan kelompok itu besar. Tak mungkin anak itu main sendiri. Bagaimana mungkin dia berani melakukan kegiatan terprogram dengan bahan peledak, walaupun kecil. Pasti didesain oleh kelompok jaringan besar,” ujar dia.

Untuk diketahui, Ghazali dinyatakan bersalah karena terlibat aksi perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada tahun 2010.

Khairul Ghazali merupakan terpidana teroris yang divonis enam tahun penjara karena terlihat perampokan Bank CIMB Medan. (ted/iil/JPG)

Respon Anda?

komentar