Mantan Teroris: Disinyalir Masih Banyak Ivan Lainnya di Medan

618
Pesona Indonesia
Ivan Hasugian, pelaku bopm bunuh diri gagal di Gereja Santo Yoseph Medan, Minggu (28/8/2016). Foto: sumutpos.co
Ivan Hasugian, pelaku bopm bunuh diri gagal di Gereja Santo Yoseph Medan, Minggu (28/8/2016). Foto: sumutpos.co/jpg

batampos.co.id – Aksi teror bom yang dilakukan oleh Ivan Armadi Hasugian (18) di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansyur, Medan Selayang, kemarin (28/8), masih menyisakan sejumlah misteri. Kekhawatiran pun muncul di benak masyarakat. Soalnya, aksi teror bom itu diyakini bukanlah yang terakhir terjadi di kota metropolitan ini.

Mantan narapidana kasus terorisme, Khairul Ghazali (50) berpendapat, ada individu lainnya yang berpotensi bertindak radikal di ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini.

“Masih banyak IAH-IAH lainnya yang siap menyusul untuk melakukan amaliyat jihad atau lebih tepatnya disebut aksi teror. Sesungguhnya itu memalukan dan mencemarkan nama islam,” kata Ghazali, seperti diberitakan Sumut Pos (Jawa Pos Group) hari ini (1/9)

Menurut dia, sel-sel pergerakan jihad sudah lama beraksi di Kota Medan. Disebut demikian, karena adanya sejumlah peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Seperti Komando Jihad di tahun 1976, pembajakan Garuda Woyla tahun 1981, peledakan gereja tahun 2000, perampokan Lippo Bank tahun 2003, perampokan Bank Sumut tahun 2009, perampokan Bank CIMB tahun 2010 hingga penyerangan Polsek Hamparan Perak tahun 2010 silam.

Buntutnya, terjadi percobaan bunuh diri dengan bom dan penyerangan ke Gereja Katolik Stasi Santo Yosep.

Kata Ghazali, kejadian-kejadian sebelumnya itu menunjukkan sel jihad yang masih aktif pergerakannya di Medan. Artinya, Kota Medan dapat disebut rentan dengan aksi teror. Pria yang tengah menjalani pembebasan bersyarat usai melewati hukuman empat tahun dua bulan penjara dari vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan di 2011 lalu ini, bercerita pengalamannya sebagai pelaku.

Dia sebut, ada ratusan orang yang didoktrinnya dengan paham radikal. “Sekarang enggak tahu di mana mereka. Tapi yang pasti, sudah senior mereka,” tambah dia. Menurutnya, anak-anak muda dan anak-anak dari sekolah umum, memang kerap menjadi target doktrin untuk melancarkan aksi teror.

Sebab, pemuda masih labil dan lebih mudah dicuci otaknya. Sehingga dibuat siap untuk mati, bukan untuk hidup. Sepengetahuan dia, Ivan telah didoktrin sejak setahun lalu. Kala itu, Ivan masih mengenyam bangku sekolah kelas XII. “Berbaiat dia kepada pemimpin ISIS, setelah tamat sekolah, beberapa bulan lalu,” sambung Ghazali yang divonis enam tahun penjara karena terlihat perampokan Bank CIMB ini.

Lebih mengejutkan lagi, Ghazali bilang kalau, aksi Ivan bisa saja upaya bom bunuh diri pertama di Kota. Tak tertutup kemungkinan, kejadian serupa akan kembali terjadi. “Akan ada yang lebih besar lagi (kejadiannya),” ujarnya menduga.

Sejauh ini, Ghazali mengaku, sudah ketemu dengan tersangka Ivan di Mapolresta Medan, Jalan HM Said, Medan. Pertemuan singkat dengan Ivan itulah, Ghazali menyimpulkan demikian. “Sudah ketemu saya dengan IAH. Kemudian saya tanya dia (IAH) belajar dengan siapa dan dari buku apa,” ujar Ghazali.

Kata dia, Ivan mendapatkan pengajaran yang diduga berkaitan dengan pergerakan radikal, di Jalan Setia Budi. Selain itu, pengakuan Ivan kepada Ghazali adalah, media sosial pun menjadi referensi Ivan.

Dia pun mengaku, sudah melihat rekaman video Ivan yang berbaiat kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi. Rekaman yang diperoleh Ghazali saat polisi menggeladah rumah Ivan yang akhirnya menemukan hal tersebut. Dalam rekaman itu, alumni 2015/2016 dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Medan itu, tampak memegang bendera ISIS.

Ghazali dinyatakan bersalah karena terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada tahun 2010. Terkait video Ivan yang sudah dilihatnya berbaiat ke pemimpin ISIS, Ghazali pun meyakini, Ivan bukanlah pelaku tunggal dalam aksi teror tersebut. Terlebih, Ghazali juga yakin, jika penyerangan itu dilakukan secara terorganisir.

“Ada kelompoknya dan kelompok itu besar. Tak mungkin anak itu main sendiri. Bagaimana mungkin dia berani melakukan kegiatan terprogram dengan bahan peledak, walaupun kecil. Pasti didesain oleh kelompok jaringan besar,” ujar dia.

Berdasarkan obrolan singkat Ghazali dengan Ivan, dirinya yakini jika remaja itu terlibat jaringan global. Bahkan, menurut Ghazali, Ivan juga menyebut sejumlah nama. Salah satunya Bahrum Naim.

Aksi teror yang dilakukan Ivan sudah didoktrin oleh kelompok tertentu. Disinggung iming-iming uang Rp10 juta, Ghazali tak meyakini hal tersebut. Artinya, menurut Ghazali, uang itu tak masuk diakal pikirannya. “Doktrinnya adalah akhirat. Surga dan bidadari,” ujar dia.

Sementara, Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP M P Nainggolan menyatakan, sejauh ini pelaku Ivan masih berada di Kota Medan meski proses penyelidikannya sudah diambil oleh tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror. Beredar kabar saat olah tempat kejadian perkara (TKP) di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep kemarin (29/9), Ivan sudah diboyong ke Jakarta guna proses pemeriksaan lebih intesif.

Ditanya itu, Nainggolan belum mengetahuinya. Pun yang pasti, Ivan masih di Medan. Guna mendalami proses penyelidikan, tim Densus 88 Anti Teror yang terpaksa harus bolak-balik ke Kota Medan. “Masih di Medan Ivan,” pungkas Nainggolan. (jpg)

Respon Anda?

komentar