Rentan Virus Zika, Pemkab Bintan Menetapkan Sembilan Zonasi Waspada

707
Pesona Indonesia
Waspadai virus Zika
Waspadai virus Zika

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan menanggapi serius kasus virus zika yang telah mewabah di Singapura dengan menetapkan sembilan wilayah sebagai zonasi waspada. Karena dikawatirkan warga asing yang terjangkit virus itu tetap melakukan kunjungan ke kawasan parawisata yang ada di Kabupaten Bintan.

Wilayah yang menjadi zonasi waspada itu diantaranya Kecamatan Bintan Utara, Teluk Sebong, Seri Kuala Lobam, Gunung Kijang, Teluk Bintan, Bintan Timur, Bintan Pesisir, Toapaya, dan Mantang.

“Potensi resiko wilayah Bintan sangat tinggi terhadap penyebaran virus ini. Sebab sebagian besar warga Singapura mengunjungi Bintan untuk menikmati wisata,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bintan dr Horas, kemarin.

Memang sampai saat ini belum ada informasi masyarakat Bintan terjangkit virus zika. Namun Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah lama mewabah di sembilan kawasan endemik se Bintan. Bahkan penyakit yang ditimbulkan akibat gigitan dari nyamuk Aedes Aegypti itu sudah menelan korban sekitar 100 orang lebih hingga Agustus 2016 ini.

Kata dia, gejala yang ditimbulkan penderita DBD itu memiliki kemiripan dengan penderita virus zika. Namun virus zika itu lebih sulit dideteksi secara spesifik dibandingkan DBD. Karena karakteristik virus yang menggerogoti tubuh penderita hanya bisa diketahui melalui penelitian di laboraturium. Sedangkan DBD bisa diketahui melalui pengetesan dari sel darah.

“Memang sampai saat ini belum diketahui adanya virus zika di Bintan. Namun warga harus tetap waspada karena penularan DBD sama dengan virus zika,” katanya.

Horas menambahkan jika virus itu diderita wanita yang sedang hamil akan berdampak pada kelainan janinnya. Maksudnya jika ibu hamil itu melahirkan, cenderung bayi yang dilahirkan tersebut mengalami mikroseafalus atau kelainan otak dengan ukuran kepala lebih kecil dibandingkan ukuran normalnya.

Agar virus itu tidak mewabah di Bintan, sambungnya, dihimbau masyarakat untuk menggalakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal sekali dalam seminggu. Dan melakukan aksi 3M yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas atau sampah yang bisa menampung air. Karena hanya dengan dua cara itu bisa memutuskan siklus vektornya, yakni perkembangan nyamuk Aedes Aegypti yang menyebarkan DBD dan virus zika tersebut

“Intinya berantaslah penyebaran dan sarang jentik nyamuk Aeses Aegypti, sehingga warga tidak ada yang tertular oleh kedua penyakit tersebut,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar