Restoratif Justice, Solusi untuk Peradilan Pelaku Percobaan Bom Bunuh Diri di Gereja Santo Yosep Medan

928
Pesona Indonesia
Gereja Santo Yoseph Medan, tempat Ivan mencoba meledakkan diri, namun gagal. Foto: istimewa
Gereja Santo Yoseph Medan, tempat IAH mencoba meledakkan diri, namun gagal. Foto: istimewa

batampos.co.id -IAH, tersangka percobaan bom bunuh diri menggunakan bahan petasan di Gereja Santo Yosep Medan, Minggu (25/8/2016) lalu, ternyata belum bisa dikatakan telah berusia dewasan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan IAH masih tergolong anak-anak karena usianya belum genap 18 tahun.

Ya, dari KTP, IAH lahir 22 Oktober 1998. Melakukan aksi pada 25 Agustus 2016 atau saat kejadian usia IAH baru 17 tahun 10 bulan tiga hari.

Jika merujuk pada UU tentang kependudukan, IAH masih kategori anak-anak. Untuk itu, KPAI mengingatkan kepolisian agar memperlakukan IAH sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Usia anak yang di Medan itu belum 18 tahun. Ketika anak menjadi pelaku tindak pidana maka berlaku Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak dengan menempatkan anak sebagai korban sehingga butuh direstorasi butuh dipulihkan,” kata Ketua KPAI Asrorun Niam di Mabes Polri, Selasa (30/8/2016).

Niam menjelaskan, pendekatan restoratif justice kepada anak pelaku teror menjadi penting guna memutus mata rantai transmisi kekerasan terorisme dengan kader anak-anak.

“Kalau ini tidak ditangani secara serius sedari dini maka akan muncul embrio terorisme baru. Ini harus diputus mata rantai itu,” jelasnya.

Pihaknya bersyukur karena KPAI dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memiliki cara pandang yang sama.

Di mana anak yang melakukan aksi teror dianggap sebagai korban. Mereka hanya diperalat oleh jaringan terorisme, sementara mereka masih labil. Dengan demikian, IAH  butuh untuk dipulihkan.

“Anak harus ditangani secara khusus dan ini harus dilakukan secara serius sebagai salah satu bagian dari perlindungan anak yang terpapar terorisme,” tukasnya. (elf/JPG)

Respon Anda?

komentar