Satu Juta Rakyat Venezuela Turun ke Jalan Tuntut Presiden Nicolas Maduro Mundur

519
Pesona Indonesia
Sekitar satu juta massa oposisi pemerintahan Venezuela menggelar unjuk rasa di Caracas, Kamis (1/9/2016). Mereka menuntur presiden Maduro mundur karena tak mampu mengatasi krisis ekonomi di negara itu. Foto: STR/AFP
Sekitar satu juta massa oposisi pemerintahan Venezuela menggelar unjuk rasa di Caracas, Kamis (1/9/2016). Mereka menuntur presiden Maduro mundur karena tak mampu mengatasi krisis ekonomi di negara itu. Foto: STR/AFP

batampos.co.id – Venezuela yang dilanda krisis ekonomi kini berujung pada krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Sedikiitnya satu juga rakyat Venezuela turun ke jalan menuntut sang presiden mundur dari jabatannya, Kamis (1/9/2016).

Massa yang turun ke jalan benar-benar marah dan mendorong digelarnya referendum untuk mengusir Maduro dari tampuk kekuasaan.

Pemimpin oposisi dari Democratic Unity Roundtable, Jesus Torrealba mengatakan, unjuk rasa anti-pemerintah yang digelar Kamis (1/9/2016) itu adalah demo paling besar dalam beberapa dekade terakhir.

“Sekitar 950 ribu hingga 1, 1 juta lebih warga turun ke jalan mengambil bagian dari aksi ini,” kata Torrealba seperti dikutip dari AFP.

Demonstrasi ini disebut sebagai puncak kemarahan warga karena harga kebutuhan sudah mencekik warga, kejahatan dan kekerasan meningkat hingga penjarahan yang merajalela.

“Ini adalah demo bersejarah. Hari ini adalah momen resmi perjuangan kami,” kata Torrealba.

Para demonstran yang menggunakan dresscode putih itu berbaris di timur ibu kota sambil terus meneriakkan ‘pemerintah akan jatuh’ atau ‘Venezuela kelaparan, masyarakat menderita’.

“Kami ikut bagian dalam barisan demonstrasi ini karena takut mati kelaparan. Kami sudah tidak tajut lagi dengan pemerintah,” ujar salah seorang demonstran, Ana Gonzalez (53 tahun).

Namun terpisah, ribuan pendukung Presiden Maduro, dengan dresscode t-shirt dan topi merah juga berunjuk rasa, tentu menyuarakan dukungan kepada Maduro.

Yang paling sibuk dalam peristiwa ini tentu saja aparat bernama polisi. Ratusan polisi dikerahkan, dan terkadang dilaporkan harus mengambil sikap tegas untuk mengadang massa. (adk/jpnn)

Respon Anda?

komentar