Harga Kepiting Anjlok, Nelayang Lingga Resah

1621
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Nelayan Marok Tua, Kecamatan Singkep Barat, meminta Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib mereka karena harga kepiting saat ini anjlok hingga harga terendah mencapai Rp 10 ribu perkilogram. Selain itu, mereka meminta pemerintah dapat mengatur pengepul agar tidak terlalu mengambil untung berlebihan.

Nelayan juga menduga harga kepiting hasil tangkapan mereka terindikasi dipermainkan penampung hingga turun mencapai 50 persen. Untuk kepiting kualitas AS (super) biasanya nelayan menjual dengan harga Rp 50 ribu perkilogram, namun saat ini hanya laku dengan harga Rp 32 ribu perkilogram. Kepiting kelas A dari Rp 45 ribu per kilogram kini hanya Rp 26 ribu, selanjutnya kepiting kelas B dari Rp 25 ribu menjadi Rp 18 ribu, terkahir kepiting kelas C dari Rp 13 ribu menjadi Rp 10 ribu per kilogram.

“Kami sangat mengharapkan perhatian pemerintah, karena dengan harga tersebut nelayan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup saat ini,” kata salah seorang nelayan Desa Marok Tua kepada koran Batam Pos, Jumat (2/9) pagi.

Tragisnya lagi, ada seorang nelayan yang harus menjual pakaian miliknya, untuk menutupi utang lama yang masih tersisa. Sebelumnya nelayan yang tak mau disebutkan itu berharap dari penghasilannya menangkap kepiting di laut dapat membayar hutangnnya dan menutupi kebutuhan keluarganya. Namun kenyataan tak seindah harapan.

Biasanya, jika harga kepiting stabil, nelayan tradisional dapat bernafas lega. Pasalnya, hasil laut tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kondisi ini terbukti setelah sekian lama harga kepiting masih dalam kondisi normal.

Dengan anjloknya harga kepiting saat ini, nelayan tradisional Desa Marok Tua hanya mampu untuk bertahan hidup. Sehingga mereka ingin alih profesi untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. lagi-lagi di daerah mereka tidak menyediakan alternatif pekerjaan lain yang dapat dilakukan nelayan.

Anjloknya harga jual kepiting ini, mendapat perhatian mantan Kepala Desa Marok Tua, Alpinur Hakim. Menurutnya, turunnya harga jual kepiting menjadi contoh kecil, ketidakmampuan Pemkab Lingga meningkatkan perekonomian masyarakat. Minimnya lapangan pekerjaan adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau misalnya ada lapangan pekerjaan lain ada alternatif pekerjaan yang dilakukan masyarakat untuk menambah penghasilan,” kata pria yang akrab disapa Pino ini.

Menurutnya, Pemkab Lingga selama ini, hanya berkutat pada peningkatan program pertanian yang harus dilakukan dari nol, sedangkan untuk program dibidang perikanan yang nota bene aktivitas masyarakat untuk mencari penghasil sejak zamterkesan ditinggalkan.

“Masyarakat itu butuh makan untuk hari ini, bukan besok, lusa atau tahun depan. Saya tetap mendukung program pertanian yang digalakkan, namun sebaiknya tidak melupakan program kelautan yang sudah dilakoni masyarakat sejak dulu,” imbuhnya. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar