Harga Sagu Anjlok, Petani Ganti Haluan Jadi Nelayan

583
Pesona Indonesia
Petani sagu di Lingga Timur. foto:hasbi/batampos
Petani sagu di Lingga Timur. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Anjloknya harga sagu di Kabupaten Lingga, membuat sejumlah besar petani berganti haluan turun melaut menjadi nelayan. Kebun-kebun sagu yang menjadi pekerjaan utama masyarakat tersebut tidak lagi mampu menopang perekonomian. Harga per ton sagu kotor yang semula Rp 1,5 juta kini hanya laku Rp 1,1 juta per tonnya.

Sejak ratusan tahun lalu, membuat sagu adalah pekerjaan utama masyarakat wilayah selatan Pulau Lingga. Sedangkan nelayan adalah pekerjaan sambilan saat musim laut cukup baik dan memungkinkan.

Salah seorang warga Lingga Timur, Usman yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani sagu mengatakan, anjloknya harga sagu telah terjadi sejak bulan Juni lalu. Biaya produksi tidak sebanding dengan harga sagu semakin turun. Sagu kotor perkilogram yang semula Rp 1500 hingga Rp 1.600 turun menjadi Rp 1.100. Sementara kebutuhan solar cukup besar untuk menggerakkan mesin disel parutan sagu.

“Sekarang kita terkendala dengan harga. Kalau harga dalam satu ton Rp1,5 Juta, kami sebagai petani bisa sedikit lega. Meskipun menguras tenaga. Saya pribadi lebih memilih kerja lain dululah di laut, sampai menunggu harga sagu kembali seperti semula,” ungkap Usman.

Sejak itu juga Usman mengaku stop memproduksi sagu. Ia beralih peruntungan menjadi nelayan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi yang terus merangkak naik.

Persoalan harga juga di akui Amat, petani sagu Dusun II Pelanduk, Desa Musai, Kecamatan Lingga. Diakuinya, sejak turunnya pasaran harga sagu, rekan seprofesi pengolah sagu tradisional banyak yang mencoba peruntungan lain. Namun, beberapa petani, ada juga yang tetap bertahan dalam keterpurukan ekonomi sagu komoditi utama yang menjadi penopang lebih kurang 3.000 kepala keluarga di Pulau Lingga tersebut.

“Nak buat macam mana lagi, kerja lain tidak ada. Anak baru masuk bangku kuliah dan memerlukan biaya besar begitu juga harga sembako terus naik. Tidak ada pilihan lain, saya tetap harus bekerja untuk meneruskan hidup meski harga sagu belum stabil,” keluh Amat.

Meski memliki perkebunan sagu pribadi dengan luas lahan yang cukup lumayan, hal tersebut tidak mampu memberikan kesejahteraan. Perbulan kata Amat, di pabrik skala rumah tangga yang ia kelola dengan pola tradisional hanya mampu menghasilkan 8 ton sagu kotor. Untuk proses mendapatkan sagu bersih, proses akan jauh lebih panjang dengan biaya produksi yang lebih tinggi. Sagu-sagu kotor olahannya dijual lagi kepada pengepul menggunakan pompong ke Daik.

“Dalam satu ton, untungnya cuma Rp 200 Ribu. Kalau dinilai dengan waktu dan tenaga kita keluarkan tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan. Saya punya dusun sendiri, mesin pengolohan sendiri dan juga dikerjakan sendiri tapi hasilnya belum memuaskan karena harga yang semakin turun,” tambahnya.

Informasi yang diperoleh koran Batam Pos, anjloknya harga sagu di Sumatera akibat mutu yang jelek dan permainan sejumlah oknum mencampur sagu dengan tawas. Meski di Lingga tidak ditemukan praktik tersebut, namun berimbas terhadap harga yang juga dirasakan masyarakat petani sagu.

Ditempat lain, Aseng, toke sagu di Daik Lingga mengatakan, akibat anjloknya harga pasokan sagu kotor yang diterimanya juga berkurang dari para petani. Ditempat pengolahannya, Aseng mengatakan, sagu kotor diolah lagi untuk menjadi sagu bersih.

“Sagu kotor kita olah lagi sagu menjadi bersih. Karena harga sagu bersih juga ikut turun, maka kita juga menurunkan harga sagu kotor yan diambil dari petani,” paparnya.

Senada dengan Aseng, Abu toke sagu lainnya juga keluhkan turunnya pasokan sagu. Meski permintaan pasar tetap tinggi, harga sagu yang rendah membuat petani yang bekerjasama dengannya banyak berganti profesi.

“Sekarang sulit mendapat pasokan. Sekarang saja kosong,” timpalnya.

Ia berharap, hal ini membuat pemerintah dapat turun tangan membantu persoalan petani sagu maupun pengusaha yang selama ini membatu pemasaran sagu di Lingga. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar