Kandidat Sekda Diuji Kerjasama, Tahapan Terakhir Setelah Lebaran Idul Adha

556
Pesona Indonesia
Reni Yusneli. foto:yusnadi/batampos
Reni Yusneli. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Delapan kandidat Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri defenitif sudah melewati Asessment Centre dengan baik. Pada hari terakhir Assemen, Tim Asessor menguji kecapakan masing-masing peserta lewat Leaderless Group Discussion (LGD). Selain untuk melakukan tanya jawab secara terpisah.

Pantauan dilokasi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Raja Ariza menjadi peserta pertama yang meninggalkan lokasi seleksi. Peserta selanjutnya adalah Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Karimun, Muhammad Hasbi. Setelah itu adalah Plt Sekda Kepri, Reni Yusneli. Kemudian Asisten III Karimun, Syamsuardi. Beberapa saat kemudian adalah Sekda Kabupaten Karimun, Arif Fadillah.

Masih pantauan dilapangan, peserta yang keluar dari ruangan tes adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepri, Naharuddin. Kemudian yang ikut menyusul adalah Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum. Sedangkan peserta terakhir yang meninggalkan lokasi seleksi adalah Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kepri, Edy Sofyan.

“Pada tahapan Asessmen Centre hari kedua ini, peserta diuji bagaimana bekerja secara tim. Seleksi hari ini (kemarin,red) adalah tindaklanjut dari seleksi dihari pertama kemarin,” ujar Plt Sekda Kepri, Reni Yusneli menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti seleksi tersebut.

Dikatakannya juga, setelah diuji kerjasama, masing-masing kandidat  sekda juga melalui tahapan wawancara secara terpisah. Menurut Reny, materi-materi yang pertanyakan tentunya berkaitan dengan tugas dan fungsi seorang Sekda. Sehingga harus punya kecakapan dalam menyelesaikan tugas-tugas dan persoalan yang terjadi.

“Makanya dalam tes, ada study kasus yang harus diselesaikan. Karena jawaban-jawaban dalam bentuk tulisan tangan, makanya capek nulisnya,” papar Reny yang merupakan Asisten I Pemprov Kepri tersebut.

Asisten III Kabupaten Karimun, Syamsuardi berpendapat seleksi Asessmen pada hari kedua kemarin adalah untuk melihat kemampuan seseorang dalam mengatur segala sesuatu. Atas dasar itu, memang perlu kecakapan dan suasana yang tenang. Menurutnya, tahapan kali ini lebih untuk mengupdate kembali apa yang telah diselesaikan pada Asessmen yang pertama.

“Mengupdate kembali apa yang sudah dilakukan masing-masing peserta pada tahapan sebelumnya. Sehingga memang butuh kecakapan dan kemampuan diatas rata-rata,” ujarnya.

Peserta lainnya, Arif Fadillah mengatakan, LGD memberikan tantangan tersendiri baginya. Menurutnya, setiap materi yang diberikan memberikan deadline waktu kepada masing-masing peserta. Masih kata Arif, masing-masing peserta juga harus memposikan diri sebagai Sekda Kepri. Sehingga harus menjadi konsultan untuk memecahkan masalah.

“Kami juga diwawancarai untuk memecahkan masalah. Bahkan tahapan wawancara dilakukan dalam dua sesi yang berbeda. Tahapan ini memang dikemas khusus untuk mempelajari siklus perjalanan kita atau rekam jejak dan pengalaman kita,” ujar Arif.

Peserta yang baru menyelesaikan Dikalatpim I tersebut juga mengatakan, untuk menyelesaikan setiap soal-soalan yang dipertanyakan memang membutuhkan kecepatan waktu. Disebutkannya juga, seleksi ini mengajarkan banyak hal bagi dirinya. Meskipun capek menulis, tetapi tulisan tangan tetap menjadi penilaian psikologi.

“Sebagai peserta saya tentunya mencoba memberikan jawab dengan tepat dan benar. Apalagi kita juga dinilai kerjasama tim dan memecahkan masalah secara bersama-sama,” paparnya.

Ditambahkan Arif, dalam LGD dibagi dalam dua kelompok. Dirinya tergabung bersama Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Raja Ariza, dan Asisten III Kabupaten Karimun, Syamsuardi. Arif juga melihat profesionalitas Tim Asessor yang sudah bekerja dengan baik.

“Ilmu yang saya dapat pada Diklatpim I kemarin, juga ada diujikan pada Asessmen ini. Tentunya sedikit banyak, memberikan pandangan dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan,” tutupnya.

Kepala Bappeda Kepri, Naharuddin mengungkapkan study kasus diberikan adalah untuk memposisikan dirinya sebagai seorang Sekda. Sehingga punya peran strategis dalam membantu tugas Gubernur. Apalagi menjadi media antara Gubernur dengan DPRD. Pada sesi wawancara, dirinya juga ditanya mengenai perencaan anggaran dan pembangunan daerah.

“Posisi Sekdakan merupakan Ketua TAPD dan Ketua Baperjakat. Semua pembicaraan direkam untuk didengarkan oleh penguji. Apapun hasilnya nanti, saya sudah memberikan yang terbaik,” ujar Nahar.

Melangkah ke peserta selanjutnya adalah Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum, tes yang diberikan Asessor layaknya seperti training mengenai peran seorang Sekda. Meskipun kerja kelompok, kemudian dilanjutkan dengan wawancara terpisah tentunya memberikan bobot penilaian tersendiri.

Menurut Syamsul, pengalaman hebat di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) di Jakarta beberapa waktu lalu menjadi acuan bagi dirinya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan pada seleksi ini. Apalagi materi Lembahas pemikirannya tidak lagi, lokal melainkan sudah go nasional dan internasional.

“Assesmen ini, kita dituntut untuk berpikir strategis, baik itu kedalam maupun keluar. Hal ini seperti ini juga yang ditekankan di Lemhanas. Kalau Diklatpimkan khusus untuk ASN. Karena memang kita ditutut untuk menjadi seorang negarawan yang punya pemikiran dan wawasan strategis,” ujar Syamsul.

Pejabat yang sudah malang melintang diberbagai posisi strategis di Kepri tersebut, mengumpakan Natuna adalah kapal induk Kepri. Karena disana akan dibangun kekuatan militer. Hal ini akan sangat singkronis dengan semangat Provinsi Kepri yang ingin menjadikan Kepri sebagai Poros Maritim Indonesia.

“Fokus Kepri saat ini adalah membangun ekonomi maritim, memperkut ketahan dibidang maritim. Dalam tes tadi, kita diposisikan sebagai orang luar Kepri, tetapi harus menguasai Provinsi Kepri,” jelasnya.

Dalam menjawab pertanyaan Asessor, dirinya menggunakan analisis Strength, Weaknes, Oppurtunity, dan Treatment (SWOT). Artinya harus berpikir backward dan forward. Ia melihat Kepri adalah Provinsi Kepulauan dan Perbatasan. Sehingga masuk dalam kawasan strategis nasional. Begitu juga dinamika Gubernur didaerah, juga menjadi kepentingan politik nasional.

“Artinya kita harus membangun sinergi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional. Maka daripada itu, Sekda Kepri harus berwawasan strategis daerah, nasional, dan internasional. Boleh dikatakan sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda). Yakni harus mengusai semuanya,” jelasnya lagi.

Sementar aitu, Edy Sofyan mengatakan dirinya keluar sebagai yang terakhir, bukan karena lambat dalam menyelesaikan tahapan-tahapan seleksi. Tetapi, berdasarkan antrian yang ditetapkan Asessor. Pertanyaan yang harus dijawab tidak lari bicara soal tugas dan kompetensi. Baik itu wawasan maupun skill kepemimpinan

“Saat LGD saya tergabung bersama, Bu Reny, Pak Nahar, dan Pak Hasbi. Tahapan selanjutnya adalah wawancara ekslusive pada 14-15 Sepetember mendatang,” ujarnya.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar