Tunjangan Tak Kunjung Dibayar Dosen dan Pegawai UMRAH Temui Kadisdik Kepri

868
Pegawai UMRAH Tanjungpinang mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kepri di Dompak, Jumat (2/9). Foto:Yusnadi/Batam Pos
Pegawai UMRAH Tanjungpinang mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kepri di Dompak, Jumat (2/9). Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Terombang-ambing di antara ketidakpastian. Begini nasib dosen dan pegawai Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang yang berstatus non pegawai negeri sipil menuntut tunjangan kerja selama 10 bulan yang tidak kunjung terbayarkan. Dana hibah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tahun 2016 yang semula menjadi sumber pembayaran malah tidak kunjung dicairkan. Tidak ada kejelasan alasan dibalik ini semua.

Enggan terus dibuat menerka-terka arah pencairan dana hibah, seluruh dosen dan pegawai non pegawai negeri sipil UMRAH mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Jumat (2/9) pagi kemarin. Misinya jelas. Mereka menuntut kepastian sekaligus jawaban konkret mengenai pencairan dana sebesar Rp 15 miliar yang dari informasi diterima, sudah masuk daftar alokasi belanja Pemprov Kepri tahun ini.

“Maka dari itu, kami membuat audiensi. Kami ingin cari kejelasan dari ini semua,” kata Dosen Fakultas Ekonomi, Winata Wira kepada koran Batam Pos.

Sebab itu, kata Wira, audiensi perlu digelar. Tidak tanggung-tanggung. Meski dibalut dalam bentuk aksi solidaritas, kehadiran lebih dari seratus orang dosen dan pegawai membuat suasana kantor dinas di Pulau Dompak ini mendadak riuh. Seluruh unit bus yang biasa digunakan untuk mengangkut mahasiswa juga terparkir di halaman depan. Sebentang baliho menuntut agar Kepala Dinas Pendidikan Kepri Yatim Mustafa mau meneken rekomendasi pencairan dana hibah tersebut.

Wira berkata, ini bukan aksi demonstrasi, hanya sebuah aksi solidaritas antarsesama. Itu dibuktikan dengan lebih dahulu menggelar salat hajat dan pembacaan Surat Yasin bersama di rektorat kampus sebelum bersama-sama menuju kantor dinas pendidikan sekira pukul 08.30 WIB.

“Kami diterima dengan baik kok oleh Pak Yatim. Karena kami juga sudah kirim surat sejak jauh-jauh hari ingin mengadakan audiensi. Surat permintaan ini juga kami teruskan ke Gubernur Kepri dan pihak kepolisian,” terang Wira.

Kemudian selama lebih dari 90 menit audiensi itu berlangsung. Wira adalah satu dari tiga perwakilan dosen dan pegawai UMRAH yang ikut membahas bersama polemik dana hibah yang tidak kunjung cair ini. Apa hasilnya? Wira mengungkapkan, masih ada keseriusan dari jajaran Pemprov Kepri untuk menindaklanjuti perkara ini agar tidak berlarut-larut. Ada secercah harapan bahwasanya dana hibah yang diperuntukkan untuk pembayaran tunjangan pegawai ini bisa segera dicairkan.

“Insya Allah cair,” kata Wira, “hari Senin (5/9) besok, mereka akan menindaklanjuti permintaan realisasi dana hibah. Ada prosedur administrasi yang harus ditempuh terlebih dahulu.”

Kabar ini lumayan menenangkan. Hanya saja, Wira tidak dapat menyebutkan secara pasti sampai kapan penuntasan prosedur administrasi sebagaimana yang disebutkannya. Iktikad baik ini, kata Wira, harus didukung. “Dan harus dikawal bersama-sama,” ujarnya.

Jika Wira mau buka suara, lain halnya dengan Yatim Mustafa. Dijumpai usai audiensi, ia enggan memberikan komentar barang sepatah kata pun hasil dari pembahasan bersama itu. “Nanti saja ya,” ucapnya singkat. Sesudah itu, kembali dicoba konfirmasi via sambungan telepon dan pesan singkat tidak juga berjawab.

Begitu juga Rektor UMRAH Tanjungpinang, Prof Syafsir Akhlus. Selama aksi solidaritas seratusan dosen dan pegawai di halaman kantor dinas pendidikan kemarin, ia sama sekali tidak menampakkan diri. Dikunjungi di ruang kerjanya, pun dinyatakan bahwa yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat. Sementara hingga berita ini dituliskan, nomor teleponnya tidak dalam keadaan aktif. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar