Gara-Gara Harga Jual, Penjual Bensin Botolan Bertengkar

501
Pesona Indonesia
Nurlela (51), saat mendapat perawatan medis di ruang IGD RSUP Ahmad Thabib. Foto: Osias De/Batampos
Nurlela (51), saat mendapat perawatan medis di ruang IGD RSUP Ahmad Thabib. Foto: Osias De/Batampos

batampos.co.id – Nurlela (51), salah seorang Pedagang Kaki Lima (PKL), di depan Kantor kelurahan Batu IX, Jalan Adi Sucipto, kilometer 10, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Ahmad Thabib, karena mengalami patah tulang di bagian lengan tangan sebelah kanan.

Ia menjadi korban pemukulan oleh Muhklis, yang juga PKL dan berjualan berdampingan di Kilometer 10 tersebut, pada Minggu (4/9) sekitar pukul 10.00 WIB.

Informasi dilapangan, pemukulan yang menimpa Nurlela tersebut berawal saat dirinya mendatangi kios Mukhlis yang saat itu dijaga oleh istrinya yang bernama Farida. Korban yang saat itu menggendong cucu laki-lakinya menanyakan kepada istri Mukhlis kenapa menjual bensin botolan di bawah harga pasaran dengan harga Rp 10 ribu.

Ditemui, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP, Nurlela yang terbaring dengan kondisi tangannya di press karena patah, mengatakan sebenarnya dirinya tidak bermasalah jika pelaku pemukulan terhadap dirinya tersebut menjual bensin botolan dengan harga Rp 10 ribu. Namun, janganlah membuat tulisan di depan warungnya tersebut. Karena pastinya membuat konsumen lebih memilih dengan yang harga murah.

“Saya bilang janganlah membuat tulisan harga seperti itu. Kan kita sama-sama cari makan. Tiba-tiba marah dia sama saya,” ujar Nurlela.

Nurlela menceritakan, dirinya berpikiran setelah menanyakan hal tersebut, maka tidak ada permasalahan. Namun, ternyata tidak, istri pelaku malah mendatangi dirinya dengan membawa batu bata merah dan hendak memukul dirinya.

“Saya sempat ditendang tapi saya tidak melawan. Menantu saya yang melihat saya ditendang kemudian membalas tendang tapi bukan ke orangnya melainkan ke steling tempat bensin botolan yang d jual dia,” kata Nurlela.

Dilanjutkannya, setelah keributan yang pertama selesai, dirinya dan menantunya pun berdiam di kios tempatnya berjualan. Namun, tiba-tiba datang suami dari Farida tersebut dari angkot dan langsung menyerang korban.

“Suaminya itu langsung menyerang dan memukul lengan tangan kanan saya pakai besi Linggis. Menantu saya pun langsung lari keluar dan melaporkan ke polisi,” ucapnya.

Sementara itu, menantu dari Nurlela, Jhoni Purba (24), menambahkan, dirinya pun sempat menakuti istri pelaku dengan memegang parang saat istri pelaku tersebut datang ke kios jualan mertuanya.

“Saya takuti dengan parang karena ibu itu bawa batu bata. Hal itu karena saya takut batu bata yang dibaw nya itu dilemparkan ke mertua saya yang saat itu sedang menggendong anak saya,” ujarnya saat ditemui di Polsek Tanjungpinang Timur.

Dikatakan Jhoni, parang yang dipegangnya tersebut pun diletakkan kembali di dalam kios tempat mertuanya berjualan. Setelah istri dari pelaku tersebut keluar dari kios mertuanya.

“Saya takuti, dia pun langsung keluar. Parangnya pun saya simpan lagi. Tak lama kemudian suaminya datang langsung memukul ibu mertua saya. Saya pun langsung melaporkan ini ke Polsek Tanjungpinang Timur,” kata Jhoni.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Tanjungpinang Timur, Aiptu Missyamsu Alson yang dikonfirmasi terkait pemukulan tersebut enggan berkomentar. Ia meminta sejumlah wartawan agar ke Polres Tanjungpinang untuk konfirmasi.

Pantauan di Polsek Tanjungpinang timur, Mukhlis pelaku pemukulan terhadap Nurlela menjalani pemeriksaan di ruang unit Reskrim. Mukhlis tak sendiri ia ditemani istri dan anaknya yang menunggu di luar ruangan tempatnya menjalani serangkaian pemeriksaan.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar