Limpahan Kasih Sayang Bisa Hindarkan Anak dari Pacaran Berisiko

252
Pesona Indonesia

anakbuayabatampos.co.id – Kasus pencabulan anak seluruhnya dilakukan oleh orang terdekat, seperti keluarga, tetangga, pacar, penjaga kantin sekolah, sopir bis sekolah, guru, hingga kepala sekolah.

Berbagai modus dilakukan para pelaku untuk memuluskan aksinya tersebut.

“Memang pelakunya orang dikenal dan dekat. Setiap hari korban dan pelaku berinteraksi,” kata Erry.

Erry menjabarkan untuk korban berusia 12-17 tahun, pencabulan dilakukan oleh sang pacar. Modus pelaku atau penjahat kelamin dengan memberikan bujukan dan gombalan kepada korban.

Sedangkan untuk usia dini, pelaku mempunyai modus mengiming-ngimingkan korban dengan uang atau jajanan.

“Anak-anak usia dini lebih mudah terbujuk oleh pelaku. Karena dibujuk dengan sejumlah uang,” terangnya.

Dari kasus yang ditangani, kata Erry, kasus pencabulan itu dilatarbelakangi keluarga korban dan lingkungan disekitar. Korban pencabulan ini rata-rata kekurangan kasih sayang dari sang orangtua. Selain itu, faktor lingkungan yang padat.

“Seperti kos-kosan itu sering terjadi pencabulan anak. Karena sang anak bebas bergaul dan kurangnya perhatian orangtua,” tuturnya.

Menurutnya, di Batam sendiri masih banyak lokasi yang dikategorikan tak layak anak. Dalam artian, di lokasi tersebut hak anak-anak terpenuhi dan terlindungi segala bentuk kekerasam, diskriminasi, penelantaran dan perlakuan yang salah.

“Pemukiman padat itu, hak-hak anak jarang terperhatikan. Sehingga anak tidak dalam pengawasan orangtua,” tuturnya.

Namun, Erry menyayangkan pencabulan yang dilakukan oleh guru maupun orang yang berada di lingkungan sekolah. Menurutnya, pihak sekolah harus melakukan upaya pencegahan di intenal maupun memasukkan program pendidikan sesuai Inpres nomor 5 tahun 2014.

“Tetapi sekarang pihak sekolah banyak tertutup dan tidak terbuka. Seharusnya ada program pendidikan masalah seksual, bukan malah melecehkan anak,” tegasnya.

Erry menjelaskan anak di bawah umur yang menjadi korban pelecehan seksual seperi sodomi dan pencabulan, berdampak pada psikologinya. Para korban kemungkinan besar akan melakukan perbuatan yang sama pada saat dewasa.

“Kita (KPPAD Kerpi) pernah temukan kasus, waktu kecil menjadi korban pencabulan. Dan saat besar menjadi pelakunya,” tutupnya.

Hal senada disampaikan Kanit Unit PPA Polresta Barelang, Iptu Herman Kelly. Dia mengatakan kasus pencabulan yabg ditanganinya hampir setiap tahun meningkat. Rata-rata dalam kasus tersebut, terlapor merupakan pacar korban.

“Biasanya baru ketahuan oleh keluarga korban setelah hamil. Lalu keluaga melaporkan kepada kita,” ujanya. (opi)

Respon Anda?

komentar