Pabrik Karet Bakal Beroperasi di Lingga, Petani Karet Bernafas Lega

800
Pesona Indonesia
Kebun karet warga di Dabo Singkep. foto:wijaya satria/batampos
Kebun karet warga di Dabo Singkep. foto:wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Petani karet di Kabupaten Lingga mulai dapat bernafas lega. Pasalnya, PT Petra Dabo Indonesia yakni perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolahan karet akan beroperasi diperkirakan pada Oktober tahun ini.

Pabrik yang berlokasi di Tanah Putih, Kecamatan Singkep Barat, ini berkapasitas tampung hingga dua ratus ton karet. Selama ini, petani karet di Tanah Bunda Melayu ini terjebak pada situasi yang kurang menguntungkan, karena hasil panen karet mereka dijual pada pengepul yang berujung pada anjloknya harga harga yang mereka terima di bawah harga pasar yang ada. Saat ini, petani menjual karet perkilo dengan harga Rp 5 ribu kepada pengepul.

Menurut pemilik pabrik karet yang akan beroperasi tersebut, Beby Chandra, saat ini belum ada pabrik pengolahan karet untuk menampung hasil panen petani karet. Karenanya, petani karet harus menjual hasil panen mereka kepada pengepul dan selanjutnya karet tersebut akan dibawa ke Jambi untuk diolah. Kondisi ini tentunya menurunkan harga karet yang dijual petani.

“Saat ini harga karet dapat kami terima dari masyarakat dengan harga Rp 6 ribu perkilo,” kata Bebby melalui saluran telepon, Minggu (4/9) pagi.

Selain itu Beby juga mengatakan, harga karet setelah melalui proses berkisar pada Rp 8 ribu perkilo. Setelah beroperasinya pabrik karet tersebut tentunya dapat mempermudah petani karet di Kabupaten Lingga untuk memasarkan hasil panen mereka.

Bangunan pabrik karet di Tanah Putih di atas lahan kurang lebih seratus hektare tersebut telah berdiri. Namun belum dapat beroperasi karena menunggu mesin pengering yang telah dipesanan Beby dari Jakarta, belum datang. Setelah mesin tersebut tiba, pabrik pengolahan karet langsung dapat beroperasi.

Sejak lama masyarakat di Kabupaten Lingga khusunya di Pulau Singkep, selain turun ke laut mencari ikan, sebagian besar juga memiliki lahan perkebunan karet sebagai salah satu sumber penghasil untuk menopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sekitar ribuan hektare lahan perkebunan di Pulau Singkep berisi tanaman penghasil getah tersebut.

Dengan beroperasinya pabrik karet ini, mantan Kepala Desa Marok Tua, Alpinur Hakim yang juga sebagai salah satu tetua masyarakat memberikan apresiasi kepada pengusaha yang mau memperhatikan dan menjawab kebutuhan masyarakat Tanah Bunda Melayu ini.

“Setidaknya ada gambaran jelas yang didapat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, bukan hanya sebatas program yang belum pasti,” kata Alpinur. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar