Pernah Tangani 2.500 Kasus, Ahli Patologi Australia Bersaksi Ringankan Jessica

256
Pesona Indonesia
Ahli patolog forensik dari Universitas Queensland, Australia, Beng Beng Ong pada persidangan atas Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (5/9/2016). Foto: Ricardo/JPNN.Com
Ahli patolog forensik dari Universitas Queensland, Australia, Beng Beng Ong pada persidangan atas Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (5/9/2016). Foto: Ricardo/JPNN.Com

batampos.co.id – Saksi ahli Patologi Forensik dari Universitas Queensland, Australia, Beng Beng Ong, yang dihadirkan pengacara Jessica Kumala Wongso, terdakwa pembunuhan Wayan Mirna Salihin, memberikan kesaksian yang meringankan Jessica.

Beng dalam keterangannya memandang bukti yang ada sangat dangkal untuk menyimpulkan Mirna tewas karena sianida. Terlebih, di lambung mirna hanya ada bukti 0,2 miligram.

“Sangat besar kemungkinan ini tidak disebabkan karena sianida,” kata Beng saat bersaksi pada persidangan atas Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (5/9/2016).

Bersaksi dengan perantara penerjemah, Beng mengungkapkan bahwa dosis 0,2 mg sangat jauh untuk bisa membunuh korban. Bahkan, kesimpulan tersebut sangat dangkal.

Sedangkan untuk menyimpulkan seseorang tewas karen sianida harus dilakukan autopsi menyuluruh, baik darah dan organ dalam tubuh. Karenanya berdasarkan analisis Beng, sangat kecil kemungkinan Mirna tewas karena sianida berdasarkan tiga alat bukti yang ada.

Kalaupun sianida dalam lambung Mirna sudah menguap, katanya, pasti ada sampel dari tubuh Mirna lainnya. Ternyata, dalam organ tubuh Mirna selain lambung tidak ditemukan sianida.

“Di empedu dan di hati sebagaimana dinyatakan barang bukti nomor enam tidak disebutkan karena sianida. Air seni juga negatif, itu barang bukti nomor tujuh,” jelas dia.

Beng juga merujuk pada bukti lain tentang cairan di lambung Mirna. Menurutnya, cairan sebagai spesimen itu diambil setelah Mirna tewas.

“Jadi spesimen ini masih belum melalui perubahan pascakematian. Dan hasilnya adalah negatif sianida,” beber pria yang juga anggota dalam Mahkamah Internasional bidang patologi itu.

Menurut dia, karena sianida bersifat menguap, mestinya ada pula bekas cairan beracun itu pada organ tubuh Mirna lainnya. “Selain lambung, tingkat atau kandungan sianida harusnya dijumpai positif pada empedu dan hati,” tegas dia.

Keterangan Beng ini sangat bisa mempengaruhi hasil putusan. Sebab, Beng bukan orang sembarangan.

Sebelum memberi keterangannya, Beng menjelaskan pengalaman kariernya di bidang patologi forensik.

Dia mengaku sudah ribuan kali melakukan autopsi. Soal autopsi berkaitan kriminal, Beng sudah menangani 2.500 jenazah.

“Jenis pekerjaan utama saya adalah melakukan pemeriksaan post mortem atau pemeriksaan setelah kematian. Saya sudah melakukan pemeriksaan terhadap 2.500 kasus. Selain pekerjaan autopsi, saya adalah seorang pemeriksa untuk Royal College Pathology Australia,” ujar Beng melalui penerjemahnya di PN Jakarta Pusat, Senin (5/9/2016).

Sepak terjang Beng lainnya ialah salah satu tim pengkaji ulang jurnal forensik. Dia juga mengaku sering dipanggil untuk datang ke sejumlah negara untuk menangani kasus kriminal.

“Dan saya juga berada dalam Mahkamah Internasional untuk bidang patologi. Sekurang-kurangnya dua kali pernah dikirim ke luar negeri, pertama ke Cosovo, kedua di Bali Indonesia,” kata Beng Ong.

Di Bali, Beng terlibat sebagai patolog tragedi Bom Bali I. Beng diutus polisi Australia untuk mengidentifikasi jenazah WN Australia dan mengidentifikasi kematian korban.

“Saya melakukan pemeriksaan post mortem pada korban Bom Bali. Saya juga bahkan diberi sertifikat penghargaan oleh Polri untuk bantuan yang diberikan dalam pemeriksaan korban Bom Bali,” pungkas Beng. (Mg4/jpnn)

Respon Anda?

komentar