Tiket Pesawat ke Anambas Rp 1,4 Juta, Warga pun Mengeluh

479
Pesona Indonesia
Pesawat Xpress Air yang baru mendarat di Bandara Khusus Matak, Sabtu (3/9). foto:syahid/batampos
Pesawat Xpress Air yang baru mendarat di Bandara Khusus Matak, Sabtu (3/9). foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Pesawat akhirnya Xpress Air bisa mendarat di Bandara Khusus Matak untuk melayani rute Anambas-Tanjungpinang PP. Dengan beroperasinya pesawat tersebut bisa menjadi alternatif bagi warga yang ingin ke Anambas dan sebaliknya. Pasalnya beberapa perusahaan penerbangan sebelumnya gagal landing di Bandara Matak lantaran tidak mendapatkan izin landing dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan RI.

DJKN saat itu tidak mau mengeluarkan izin lantaran pengelola pesawat sebelumnya yakni Perusda Anambas Sejahtera masih memiliki hutang slot time sebesar kurang lebih Rp 48 juta. Jika hutang itu belum dibayar, maka DJKN tidak bisa mengeluarkan izin.

Wan Zuhendra, mengaku masalah hutang piutang perusda dengan DJKN itu masih dibicarakan. Masalah hutang itu belum dibayar hingga saat ini. “Kita masih akan cari solusinya, nanti kita akan bicarakan,” ungkap Wan Zuhendra kepada wartawan.

Sementara itu salah satu perwakilan dari DJKN, Purnama Sianturi, membantah jika DJKN tidak mengeluarkan izin lantaran hutang perusda Anambas belum dibayar. Tapi yang menjadi permasalahan yakni permohonan izin dari pemerintah daerah lambat sampai ke DJKN.

Menurutnya izin tetap harus dikeluarkan karena untuk membantu kepentingan daerah. “Buktinya, setelah permohonan dari pemerintah daerah sampai, langsung kita tindaklanjuti dan kita terbitkan izinnya,” ungkapnya.

Meski saat ini sudah ada penerbangan, namun tetap menjadi keluhan warga karena harga tiket terlalu mahal yakni sekitar Rp 1,4 juta per orang. Salah seorang warga Tarempa, Anda, mengaku heran dengan tingginya harga tiket itu. Dirinya menghawatirkan jika terlalu tinggi harga tiketnya, maka akan terancam tidak bertahan lama karena diperkirakan tidak akan ada penumpang.

“Kalau terlalu mahal, siapa yang akan naik pesawat, warga pasti lebih memilih naik kapal karena bisa hemat. Jangankan kita orang kaya juga pilih naik kapal kalau harganya terlalu mahal, nanti ujung-ujungnya malahan tutup, karena tak ada penumpangnya,” ungkapnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar