Bareskrim dan BPOM Bongkar Praktek Obat Ilegal

423
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membongkar praktek produksi dan distribusi obat ilegal. Sebanyak 42 juta butir obat tidak resmi dengan berbagai merek itu disita dari kompleks gudang Surya Balaraja, Banten. Obat-obat tersebut memiliki efek seperti narkotika, menyebabkan ketergantungan, dan berhalusinasi.

Obat-obat yang diproduksi perusahaan ini sudah beredar di seluruh Indonesia.

“Peredarannya dari Sabang sampai Merauke,” kata Wakil Kepala Bareskrim Polri, Irjen Anjan Novambar, dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (6/9).

Antam Novambar menuturkan, pengusutan kasus tersebut dilakukan selama enam bulan. Diawali dengan pengungkapan distributor obat Carnophen di Kalimantan Selatan.

”Ternyata, terhubung dengan yang di Balaraja ini,” tuturnya.

Obat-obat itu sangat berbahaya bila dikonsumsi. Izin edarnya sudah dicabut karena mengandung bahan yang berdampak negatif pada tubuh manusia. ”Itu dipastikan karena bahannya berbahaya,” kata Antam.

Ia menambahkan bahwa obat-obat ilegal yang disita tersebut merupakan salah satu pemicu kejahatan dan kecelakaan. Banyak tersangka kasus kriminal yang saat diperiksa mengaku sedang mengkonsumsi obat tersebut.

”Jadi pengungkapan obat ilegal ini sangat penting,” ujarnya.

Ada beberapa jenis obat ilegal yang sering disalahgunakan. Di antaranya

  • Tramadol (obat untuk nyeri pasca operasi)
  • Hexymer (obat Parkinson)
  • Carnophen banyak digunakan untuk meredakan sakit.

”Kalau digunakan berlebihan, obat-obat ini bisa bikin ketagihan dan halusinasi. Bisa bikin teler,” kata Kepala BPOM, Penny K Lukito.

Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Antam Novambar (kedua kanan) bersama Kepala BPOM Penny K. Lukito (tengah), Direktur Tipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Purwadi Arianto (kanan) dan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ondri Dwi Sampurno (kedua kiri) menunjukan obat ilegal saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (6/9). Tim gabungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dit V Tipiter Bareskrim Polri berhasil menggerebek pabrik rumahan obat ilegal di Balaraja, Banten dengan menyita 42,4 juta butir obat senilai Rp30 miliar.  FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Antam Novambar (kedua kanan) bersama Kepala BPOM Penny K. Lukito (tengah), Direktur Tipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Purwadi Arianto (kanan) dan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ondri Dwi Sampurno (kedua kiri) menunjukan obat ilegal saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (6/9). Tim gabungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dit V Tipiter Bareskrim Polri berhasil menggerebek pabrik rumahan obat ilegal di Balaraja, Banten dengan menyita 42,4 juta butir obat senilai Rp30 miliar.
FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Petugas mengamankan barang bukti seperti mixer, mesin cetak tablet, penyalut, stripping, dan filling. Ada juga bahan baku obat, bahan kemasan, obat jadi, dan obat tradisional yang nilai totalnya mencapai Rp 30 miliar.

Modus pembuatan dilakukan dengan dua cara. Yakni, membuat obat yang izin edarnya sudah dicabut dan memalsukan obat yang memiliki izin edar. Sebanyak 15 saksi diperiksa untuk kasus tersebut.

”Kami upayakan mengetahui aktor intelektualnya,” ujarnya.

BPOM juga berupaya membuat sistem pencegahan yang lebih efektif. Salah satunya dengan aplikasi yang bisa mendeteksi obat ilegal. Aplikasi itu akan terhubung dengan database milik BPOM.

”Masyarakat tinggal memasukkan nomor izin edar pada obat yang dibeli, nanti hasilnya keluar,” kata Penny.

Kalau izin edarnya memang ada, maka akan keluar beberapa informasi terkait merek dan jenis obat itu.

”Kalau tidak keluar informasi izin edarnya, maka ilegal. Tapi, kalau keluar, tapi tak sama informasinya, bisa jadi palsu,” paparnya.

Dia berharap bahwa dalam waktu dekat bisa menyelesaikan aplikasi tersebut. Sehingga, masyarakat memiliki cara untuk bisa mencegah mengkonsumsi obat palsu dan ilegal.

”Kami berupaya secepatnya agar selesai,” ungkapnya. (idr/ca/jpgrup)

Respon Anda?

komentar