Kisah Calon Jamaah Haji Indonesia Menggunakan Paspor Filipina: Nama Evi Yulianti Berubah Menjadi Evilyn Julia

358
Pesona Indonesia
JCH asal Indonesia yang sempat ditahan di Filipina. Foto: BBC
JCH asal Indonesia yang sempat ditahan di Filipina. Foto: BBC

batampos.co.id – Kasus 177 calon jamaah haji (CJH) asal Indonesia ditangkap pihak imigrasi Filipina, seharusnya tidak terjadi. Kalau antrean untuk menjalankan rukun Islam kelima tidak kelewat lama. Di beberapa daerah bisa menembus angka 25 tahun!

Kondisi itu membuat banyak orang mencari alternatif untuk berhaji lebih cepat. Termasuk pergi ke tanah Suci menggunakan kuota haji Filipina. Jalur itulah yang membuat 177 CJH ditangkap pihak imigrasi Filipina.

Evi Yulianti, warga Desa Gorowong, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, adalah salah satunya. Ditemui Jawa Pos di rumahnya kemarin, gurat kesedihan masih jelas terlihat di wajah perempuan 26 tahun itu. Dia telah tiba di tanah air Minggu lalu. Namun, suaminya, Anton Kapriatna, adalah salah seorang di antara sembilan CJH yang harus bertahan di Filipina. Dia harus menjalani pemeriksaan lanjutan dari otoritas setempat.

”Dia (Anton) dipilih karena bisa Bahasa Inggris. Dia jugalah yang pertama kali menelpon KBRI,’’ kata Evi.

Sejak awal, Evi merasa ada yang aneh dari proses perjalanannya untuk berhaji. Namun, keinginan untuk berhaji, membuat dia mantap untuk memilih jalur yang tidak lazim. Berhaji tanpa mengantre, menggunakan kuota haji di Filipina yang tidak terpakai.

Evi semakin yakin karena Hajjah Besek, perempuan asal Jambi yang dia kenal, menjadi penjamin. Besek mengatakan bahwa program itu sudah berjalan selama enam tahun dan tidak pernah gagal.

Untuk uang muka, Evi dan suaminya harus membayar Rp 135 juta. Itu separo dari total biaya untuk mereka berdua.

Pada 5 Mei 2016, Evi dan suaminya pergi ke Manila bersama CJH lain untuk mengurus keperluan surat-surat ke Arab Saudi. Total ada 40 jamaah.

Di Manila, Evi dan CJH lain dibawa ke kantor imigrasi untuk mengurus kartu identitas. Formulir yang mereka isi pun terlihat resmi. Saat ditanya, yang diurus adalah dokumen haji. Bukanlah paspor asli tapi palsu.

”Kalau membandingkan dengan proses mengurus paspor Indonesia, proses di sana mirip,” kata Evi.

Dalam kesempatan itu, Evi dan rombongan bertemu dengan otak sindikat. Dia adalah Sheikh Rosyidinlah, pria paro baya asal Malaysia. ”Dia bisa berbahasa Melayu,” ucapnya.

Sekembali ke tanah air setelah mengurus administrasi, Anton dan Evi mulai menyiapkan keberangkatannya. Termasuk, melunasi sisa biaya haji Rp 135 juta. Mereka sampai harus menjual salah satu truk . Anton memang merupakan pengusaha batubata yang mempunyai empat truk.

Tak lama menunggu, Evi dan suaminya istri tersebut melewati puasa dan lebaran. Sampai pada 16 Agustus, malam sebelum hari kemerdekaan, keluarga kecil itu mengundang warga sekitar untuk tasyakuran. Sebab, mereka dijadwalkan berangkat pas hari kemerdekaan.

”Kami berangkat satu rombongan dari berbagai daerah di Jawa. Termasuk dua orang Jambi yang juga diajak Ibu Hajjah (Besek),’’ terangnya.

Rombongan 40 CJH yang dipimpin oleh Hajjah Besek itu berangkat ke Manila melalui kuala lumpur. Saat sampai di hotel, rasa waswas kembali dirasakan Evi. Sebab, dia sadar bahwa yang diurus oleh Sheikh Rosyidin ternyata bukan hanya mereka. Semakin banyak orang Indonesia yang tiba di hotel dan bersiap berangkat haji.

’’Sampai saat itu, Sheikh pun masih ada. Dia petantang-petenteng ke kamar-kamar jamaah dan bilang semoga hajinya lancar,’’ ungkapnya.

Menjelang pukul 24.00 18 Agustus, jamaah di hotel pun diarahkan ke Bandara Internasional Ninoy Aquino. Mereka langsung cek bagasi setibanya di Bandara dan menunggu penerbangan pukul 03.15 pada 19 Agustus. Namun, saat itu Rosyidin tak terlihat.

”Ini tiga bagasi saya malah sudah sampai Madinah,” ucapnya.

Yang telihat hanya anak buahnya yang juga bisa bicara Bahasa Indonesia. Satu pesan mereka kepada jamaah: Jangan Bicara! Bicara menjadi haram bagi mereka terutama di barisan imigrasi. Satu lagi aksi mereka yang membuat Evi makin merasa aneh. Paspor mereka pun diambil dan diganti dengan paspor Filipina.

Jelas Evi bertanya kepada anak buah Rosyidin. Pasalnya, namanya di paspor itu berganti menjadi Evilyn Julia penduduk Jolo, Sulu, Filipina Selatan. Data ayahnya yang tercantum di Paspor pun berubah dari Ahmad Salim menjadi Ahmad Suaib.

”Suami saya malah namanya Kam Lun. Saat ditanya, mereka jawabnya saya ini numpang Kartu Keluarga di Filipina dan saya disuruh jangan banyak cakap pokoknya berangkat haji,’’ terangnya.

Nah, saat mau masuk ke imigrasi adalah saat paling penting dalam kisah. Rupanya, dua jamaah haji asal Sungai Nyamuk secara tak sengaja ditanyai oleh petugas imigrasi. Mereka yang tak bisa Bahasa Tagalog atau Inggris pun merasa terpojok dan mengaku Indonesia.

”Masalahnya mereka juga bilang bahwa semua barisan di belakang adalah orang Indonesia. Akhirnya, kami dibariskan oleh petugas imigrasi,’’ terangnya.

Selama beberapa jam mereka ditanyai dengan Tagalog dan Inggris. Namun, jamaah yang lain hanya diam karena perintah dari anak buah. Anak buah Rosyidin pun tak bisa berbuat apa-apa saat rombongan akhirnya digiring ke pusat detensi imigrasi.

’’Saat itu, kami dipisah. Laki-laki ditaruh di sel. Perempuan ditaruh di gereja,’’ terangnya.

Sebanyak 100 di antara 177 CJH yang ditangkap adalah perempuan. Bukannya mereka sholat menghadap ka’bah yang semula mimpi mereka. Namun, mereka justru sholat menghadap altar gereja . ’’Kami juga bingung karena kiblatnya memang menghadap sana,’’ ungkapnya.

Dia mengaku memang tak ada penyiksaan atau perlakuan kasar. Sebab, setelah suaminya menelpon KBRI dan bersedia diinterogasi, mereka mendapatkan makan yang teratur. Apalagi, saat 25 Agustus 138 jamaah dipindahkan dan besoknya sisanya menyusul.

’’Sewaktu di KBRI, kami nyaman, Dan bisa menghubungi keluarga di sini,’’ ujarnya.

Sewaktu akhirnya mendapatkan kabar segera dipulangkan, Evi tak bisa tersenyum girang. Pasalnya, dia hanya bisa pulang jika suaminya tetap di Manila. Suaminya harus bertahan di Filipina juga dengan Hajjah Besek yang menjadi pimpinan rombongan haji Evi.

’’Kalau senang ya senang bisa bertemu dengan anak-anak lagi. Tapi, masalahnya belum semua yang kumpul,’’ ujarnya.

Dia hanya berharap Anton bisa pulang sebelum Idul Adha 12 September nanti. Menurutnya, hari raya tersebut bakal kosong jika sang suami tak bisa ikut merayakan bersama. ’’Sekarang suami sedang menunggu untuk beri keterangan. Katanya paling cepat satu minggu atau bisa satu bulan,’’ jelasnya.

Ketika ditanya apakah masih bertekad untuk berhaji di masa depan. Dia mengaku tak ingin berpikir dulu. Yang membuat lega, Hajjah Besek sudah berjanji untuk mengembalikan uang biayanya.

”Sudah ada surat pernyataannya, cuma dia kan belum kembali ke Indonesia. Nanti saya daftarkan ke yang jelas-jelas saja lah,’’ ungkapnya.

Jawa Pos pun sempat bertanya dengan ayah Anton yang dikenal dengan nama Haji Yoyok. Dia mengaku baru tahu tentang musibah yang menimpa anaknya saat Anton menghubungi sang adik, Gian. ’’Saya tahunya dia ONH Plus. Karena biayanya mahal,’’ ungkapnya.

Dia mengaku memang tak mencampuri urusan anaknya yang ingin berangkat haji. Sebab, pada 2008 sang anak sudah menyatakan tekad untuk berhaji secara mandiri tanpa bantuan sang ayah. ’’Saya pokoknya disuruh doa saja. Saya juga kaget ternyata ditahan,’’ ungkapnya.

Begitu juga dengan Kepala Desa Gorowong Suryono Boyong. Dia mengaku hanya tahu bahwa ketua karang taruna bersama istrinya akan berangkat haji dengan ONH Plus. Dia bahkan baru tahu bahwa salah satu warganya terkena musibah seminggu setelah penangkapan.

’’Sewaktu saya tahu kalau Pak Ibeng (panggilan akrab Anton) tertangkap saya kunjungi rumahnya. Bapaknya agak syok tapi anak-anaknya Alhamdulilah baik,’’ ungkapnya.

Menurutnya, Anton sendiri merupakan warga yang aktif dalam kegiatan kepemudaan dan karang taruna. Dia juga merupakan ketua motro trail yang sempat mengadakan event di desa tersebut.

’’Kalau istrinya ramah soalnya rumahnya Pak Ibeng juga dibuat sekretariat karang taruna,’’ jelasnya. (bil/jpg)

Respon Anda?

komentar