Pedagang Ogah Tempati Kios Semimodern, Wako Solok Meradang

201
Pesona Indonesia
SURAT PEMBERITAHUAN: Ketua LKAAM Kota Solok, Rusli Khatib Sulaiman ikut menempel surat pemberitahuan pencabutan hak sewa kios yang tak kunjung difungsikan pedagang, kemarin--yulicef anthoni/padang ekspres
SURAT PEMBERITAHUAN: Ketua LKAAM Kota Solok, Rusli Khatib Sulaiman ikut menempel surat pemberitahuan pencabutan hak sewa kios yang tak kunjung difungsikan pedagang, kemarin. Foto: Yulicef Anthoni/padang ekspres/jpg

batampos.co.id — Meski telah selesai dibangun dan diresmikan pada 4 Juni 2015 lalu, tak semua pedagang menempati kios di pasar semimodern Pasar Raya Solok. Kondisi itu membuat Wali Kota Solok Zul Elfian Dt Tianso kecewa dan mengambil langkah tegas.

Zul Elfian secara resmi mencabut hak sewa atau pengelolaan puluhan petak kios pasar semimodern dari tangan pedagang. Selanjutnya kios-kios bermasalah tersebut direncanakan kembali dilelang, dan seluruh masyarakat dinyatakan berhak untuk mengelolanya.

Pencabutan hak kelola ditandai pemasangan selembar kertas bertuliskan “kios ini diambil alih Pemko Solok”. Kedatangan wako ini dalam inspeksi mendadak (sidak) ke dalam gedung pasar semimodern didampingi Ketua LKAAM Rusli Khatib Sulaiman, Kakan Pasar Raya Fidli Wendi, Kasatpol PP Zulkarnain, serta sejumlah personel Polri dan TNI.

Zul Elfian dengan tegas melontarkan rasa kekecewaannya karena kios-kios yang sudah dikontrak pedagang itu belum kunjung difungsikan. Pintu kios didapati tertutup, plang merek toko tak ada. Ketika dievaluasi, para pedagang berdalih dengan berbagai alasan.

Dia mengaku makin kecewa karena Pemko Solok telah bertemu para pedagang itu, tapi tetap saja tak mau menempati kios tersebut.

Dari 111 unit petak atau kios hanya 30 persen yang telah beroperasi, sisanya tidak bertuan. Setelah diperiksa sesuai dokumen yang dibawa pejabat Kantor Pasar Raya Solok, calon pedagangnya sudah tercatat ada.

“Tolong disusun kembali rencana dan regulasinya. Hingga petak kios dalam gedung dapat berfungsi. Sekiranya ada temuan pemindah tanganan secara sepihak oleh para pedagang, berarti mereka bukan pedagang, melainkan calo,” sebut Zul Elfian seperti diberitakan Padang Ekspress (Jawa Pos Group) hari ini (7/9).

Kakan Pasar Raya Solok Fidli Wendi juga tidak habis pikir kenapa pengoperasian petak kios pasar tersebut begitu sulit dan rumit. Padahal segala macam cara telah ditempuh, dan anak kunci pun diserahkan. “Bahkan sudah dua kali Pemko Solok membuat pengumuman peringatan di sejumlah surat kabar harian,” tambahnya.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, pedagang tak mau berjualan karena lokasi yang dinilai tak strategi. Selain itu, petak toko dianggap kecil sehingga tak bisa memuat barang dagangan. Gedung pasar ini memiliki II lantai dan telah menelan anggaran pembangunan mencapai Rp 20 milliar dengan dilengkapi dua eskalator. (jpg)

Respon Anda?

komentar