Pembajakan Marak, Indonesia Ajak Negara ASEAN Amankan Laut

237
Pesona Indonesia
Kerpala Negara ASEAN kompak di acara KTT ASEAN di Laos. Foto: Laely Rachev/timpres
Kerpala Negara ASEAN kompak di acara KTT ASEAN di Laos. Foto: Laely Rachev/timpres

batampos.co.id – Kasus penyanderaan terhadap warga negara Indonesia (WNI) di laut Filipina menjadi perhatian dalam ASEAN Political Security-Community Council ke-14 di Vientiane, Laos. Indonesia pun mengajak negara-negara ASEAN untuk menjaga keamanan laut.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengajak negara di Asia Tenggara untuk bersama-sama melakukan pengamanan laut.

“Indonesia menyerukan kerjasama untuk mencegah terjadinya gangguan di laut,” terang dia. Semua negara mempunyai tanggungjawab untuk mengaja laut.

Menurut Menteri Wiranto, pentingnya pengamanan bersama karena banyaknya peristiwa perampokan dan penculikan di Laut Sulu, Filipina.

“Kami sangat prihatin dengan ancaman yang sedang berlangsung pada keamanan maritim dengan meningkatnya jumlah perampokan laut, pembajakan dan penculikan di Laut Sulu” ujar mantan Panglima TNI itu.

Sebelumnya, ada 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Dua diantara mereka berhasil meloloskan diri. Sedangkan 8 sandera lainnya masih dalam sekapan kelompok radikal itu.

Sampai saat ini tentara Filipina terus menggempur mereka yang diduga bersembunyi di hutan Jolo. Filipina mengerahkan 10 ribu pasukan untuk melakukan pengepungan.

Menurut Wiranto, jika semua negara kompak melakukan pengamanan laut, maka kondisi maritim akan amankan. Para perompak tidak akan berani melakukan pembajakan kapal yang melintas. Jalur ekonomi pun akan lancar dan aman. Namun, jika laut tidak akan, jalur ekonomi akan terganggu.

Selain itu, Indonesia juga meminta komitmen dari negara-negara ASEAN dalam memberantas illegal fishing. “Izinkan saya untuk mengajak sahabat-sahabat di ASEAN dan kawasan Asia Pasifik untuk menangani masalah illegal fishing,” tegasnya.

Menteri Wiranto menyatakan, praktik illegal fishing terjadi di berbagai perairan di Indonesia. Sebab, Inonesia merupakan negara anggota maritim terbesar ASEAN dengan potensi maritim yang luas. Pihaknya akan berusaha menegakkan hukum untuk melestarikan sumber daya laut. Jika laut tidak dijaga, maka akan mengalami kerusakan.

Tidak hanya pembajakan dan pencurian ikan, laut juga dijadikan jalur bisnis narkoba. Masalah peredaran narkoba lewat laut juga menjadi pembahasan serius. Banyak pengedar narkoba yang menghindari jalur udara dan darat, karena akan mudah terdeteksi dan tertangkap. Maka jalur laut menjadi wilayah yang aman bagi mereka. “Kita harus bersihkan laut dari narkoba,” ujarnya.

Wiranto mengatakan, peredaran narkoba merupakan masalah yang sangat serius. Persoalan itu sudah menjadi isu internasional. Semua negara menghadapi persoalan yang sama. Maka, dia mengajak negara lain untuk mengobarkan perang terdapat peredaran barang haram itu.

Dalam kesempatan itu, Wiranto juga menyampaikan peluncuran ASEAN Seaport Interdiction Task Force (ASITF) atau Gugus Tugas Interdiski Pelabuhan Laut ASEAN yang dilakukan pada Juli lalu. Gugus itu merupakan bentuk komitmen nyata negara ASEAN dalam memberantas narkoba

Tujuan pembentukan ASIFT adalah sebagai wadah para penegak hukum untuk berkolaborasi, berkoordinasi, dan mengambil inisiatif untuk melakukan interdiksi lalu lintas peredaran gelap narkotika melalui check-points pelabuhan internasional. (lum/jpg)

Respon Anda?

komentar