Sungai Carang Itu Harta Karun Sejarah Kerajaan Melayu Riau-Lingga

444
Pesona Indonesia

Budayawan Melayu sekaligus Chairman Riau Pos Group, Rida K Liamsi, tidak pernah bosan menyampaikan kegemilangan yang pernah ada di Sungai Carang. Pada setiap helatan sembang kebudayaan, Rida selalu mengungkapkan hal ini berulang-ulang. “Sungai Carang itu harta karun sejarah kerajaan Melayu Riau-Lingga,” ucapnya.

Ada spirit yang menggelora. Ada optimisme yang menyala. Sebuah kegemilangan boleh jauh tertinggal di belakang zaman, tapi pola-polanya masih dapat diulang. Dimana-mana, mengulang tentu lebih pelik ketimbang menciptakan. Apalagi tentang kegemilangan sebuah peradaban. Rida melihat itu. Rida menyadari itu. Tidak mungkin sekadar sepasang tangannya yang menggali harta karun terpendam di Sungai Carang.

Sudah terlihat sejak tahun pertama menaja Festival Sungai Carang. Secara kasat mata, keriuhan yang pernah terjadi lebih dari dua abad silam memang terulang. Namun, kesadaran untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi-potensi yang tersimpan di sana belum terlihat nyata.

Padahal, sebagai harta karun tak tepermanai, Rida percaya Sungai Carang menyimpan jejak kebesaran peradaban suatu bangsa Melayu sebagai bangsa yang besar. Bilamana harta ini digali dan kemudian diserahkan ke tengah kehidupan, ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil. Rida mencomot potensi pariwisata sebagai sebuah gambaran.

Dengan panorama alam bakau dan simpanan sejarah yang berdiam di sana, Rida menaksir Sungai Carang bisa jadi destinasi wisata yang luar biasa. “Tentu perlu dieksplorasi dan dikemas dengan kreatif terlebih dahulu,” ujarnya.

Sebuah taksiran yang tidak salah kaprah. Mengingat hari ini pariwisata dan ekonomi kreatif adalah juru selamat ekonomi Indonesia. Rida membaca momentum itu bisa dimulai dari sungai sarat sejarah ini. Bahkan bila dikelola dengan sangat serius, tidak menutup kemungkinan dalam kurun dua-tiga tahun ke depan Sungai Carang bisa menjadi destinasi wisata sungai yang sejajar dengan sungai-sungai di Thailand, Malaka, ataupun Eropa. “Karena Sungai Carang adalah sumber kehidupan dan warisan dunia,” tegas Rida.

Sehingga di tahun ketiga, dirasa perlu ada kerja lebih nyata untuk mewujudkannya. Rida menyingsingkan lengan bajunya. Ia mengumpulkan segenap tenaga yang dipunya. Ia menajamkan ingatan dan pembacaan. Rida kembali pada sebuah dunia yang membesarkan namanya. Rida angkat pena lalu menulis kalimat demi kalimat, sebagai pengingat nilai-nilai yang tersurat lagi tersirat.

“Ada dua buku yang akan diterbitkan dan diluncurkan pada puncak acara Festival Sungai Carang 2016 bulan Oktober mendatang,” ujarnya, Selasa (6/9).

Ridak K Liamsi
Ridak K Liamsi

Buku pertama adalah gagasan Rida. Ada catatan panjang yang kini sedang dalam tahap akhir pengerjaan. Tentang perjalanan dan sejarah, konflik politik, dan etika orang-orang Melayu. Judulnya Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu (1293-1913). Sebuah buku semi sejarah yang, secara gamblang ditegaskan Rida, terinspirasi dari Sungai Carang, sungai yang pada tiap riaknya menyimpan sejarah.

Kian menyempurnakan penggarapan buku ini, Rida menggandeng Aswandi Syahri. Nama terakhir adalah sejarawan yang aktif menulis, merekam, sekaligus telaten merawat dokumentasi-dokumentasi sejarah Kepulauan Riau. Sehingga diharapkan buku ini kelak mampu menyodorkan sekaligus mendedahkan nilai-nilai abadi pada sebuah peradaban yang pernah gilang-gemilang sekali.

Lalu buku kedua adalah antologi tulisan-tulisan ihwal Sungai Carang. Sepenuhnya pengerjaan buku ini diserahkan kepada Yayasan Jembia. Sebagai lini sayap bakti Batam Pos kepada pembangunan kebudayaan, Rida ingin setiap tulisan yang membicarakan Sungai Carang dibukukan. Dari edisi ke edisi yang cetak setiap akhir pekan, kian semarak lagi semangat penulis-penulis Kepulauan Riau urun ide.

“Menarik sekali. Masing-masing penulis dari berbagai latar belakang mencoba mendedah Sungai Carang dalam segala perspektifnya,” kata Deputi Batam Pos Group, Ramon Damora.

Tidak saja menjaring naskah-naskah berkualitas, urun tulisan Sungai Carang kali ini, kata Ramon, juga ikut menemukan penulis-penulis baru di bidang kebudayaan. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

“Mereka penulis yang lama vakum. Tapi, setelah Jembia mengumumkan mencari artikel Sungai Carang, mereka menulis dengan tajam dan mengungkapkan bukti-bukti yang tidak banyak diketahui orang,” ujarnya.

buku-pak-rida-aHingga 15 September mendatang, Ramon beserta tim redaksi Jembia masih menerima kiriman naskah tentang Sungai Carang. Untuk kemudian nantinya akan dilakukan proses kurasi, memilih senarai naskah terbaik di antara yang baik-baik. Keberadaan antologi esai Sungai Carang ini, kata Ramon, diharapkan kian melengkapi buku semi sejarah yang disusun Rida.

“Kita perlu dua untuk menggenapi sesuatu bukan? Nah, antologi ini yang akan menggenapi sekaligus menemani perjalanan buku Pak Rida menuju pembacanya,” ujarnya.

Menarik menyimak pilihan Rida yang berjuang lewat aksara. Di era ketika kegiatan membaca dianggap sebagai aktivitas kuna nan semenjana, Rida masih percaya pada kekuatan kata-kata. Sekalipun ia tidak gentar dan ragu. Karena ingin langsung menukik ke akar permasalahan, tidak ada medium lain yang bisa dipercaya kecuali kata-kata.

“Masalah terbesar kita sekarang itu,” kata Rida, “tak mau belajar dari sejarah. Jadi penerbitan dua buku pada Festival Sungai Carang itu tak lain dan tak bukan untuk melawan lupa.”

Sekali lagi, kepada buku Rida senantiasa percaya. Baginya, buku adalah sebuah karya literasi warisan tamadun yang bisa melintasi zaman. Sejarah Melayu karya Tun Seri Lanang dan Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji, misalnya. Pokok-pokok pikiran penulisnya masih terbaca hingga hari ini dan masih bisa ditual-tual manfaatnya sepanjang waktu. Rida menginginkan keabadian itu untuk melawan penyakit lupa yang seringkali juga punya daya tahan cukup lama dalam kepala.  (FATIH MUFTIH, Tanjungpinang)

Respon Anda?

komentar