Ada BPJS Kesehatan, Orang Miskin ‘Boleh’ Sakit

770
Pesona Indonesia
PETUGAS BPJS Kesehatan Cabang Utama Batam melayani pendaftaran peserta, belum lama ini.
PETUGAS BPJS Kesehatan Cabang Utama Batam melayani pendaftaran peserta, belum lama ini.

Sejak diterapkan awal 2014 lalu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mampu membuka akses layanan kesehatan selebar-lebarnya bagi masyarakat Tanah Air. Tak terkecuali bagi warga kurang mampu. Kehadirannya seolah menghapus pameo lama: orang miskin dilarang sakit.

Irawati kaget bukan kepalang. Wanita 50 tahun itu bahkan nyaris menangis saat dokter di RS Awal Bros Batam menvonisnya mengidap tumor ganas.

Ya, berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi rumah sakit tersebut, dokter memastikan benjolan kecil yang ada di leher kirinya itu merupakan tumor parotis yang sifatnya ganas. Irawati makin syok karena dokter memutuskan tumor tersebut harus segera diangkat.

“Bukan takut dioperasi. Tapi yang saya pikirkan waktu itu adalah biayanya yang pasti sangat banyak,” kata Irawati saat ditemui di kediamannya, Rabu (7/9).

Irawati kemudian menceritakan, ia sudah merasakan sakit di lehernya itu sejak tahun 2011 silam. Ada benjolan di leher sebelah kiri. Awalnya, ia tak terlalu menghiraukannya. Sebab selain ukurannya sangat kecil, benjolan itu nyaris tak menimbulkan rasa sakit apapun.

Namun seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut kian membesar. Selain itu, rasa sakit luar biasa juga kerap muncul.

“Kalau lagi kambuh, rasanya seperti bisul mau pecah,” kisahnya.

Namun karena keterbatasan biaya, Irawati tak pernah memeriksakan sakitnya itu. Jangankan ke dokter, untuk sekedar membeli obat di apotek saja dia harus berpikir dua kali. Maklum, sejak pindah dari Medan ke Batam dia tidak memiliki pekerjaan apa-apa. Di Batam ia menumpang di rumah anaknya. Sementara suaminya, Sudarmono, juga tak memiliki pekerjaan tetap.

Irawati baru memeriksakan sakitnya itu pada akhir 2014 di RS Awal Bros Batam. Itu setelah ia mengantongi kartu BPJS Kesehatan. Dan betapa kagetnya ia, karena ternyata benjolan yang tumbuh di leher, atau tepatnya di bawah telinga kirinya itu adalah tumor ganas yang menurut dokter spesialis bedah onkologi yang menanganinya waktu itu, dr Indra Hidayah Siregar, SpB(K)Onk, harus segera dioperasi.

Tanpa berpikir panjang, Irawati memutuskan untuk mengikuti saran dokter itu. Setelah melalui beberapa kali observasi dan pemeriksaan, Irawati akhirnya mendapat jadwal operasi di RS Awal Bros Batam pada awal Maret 2015.

Semua biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Irawati mengaku tak bisa membayangkan, jika dia harus menanggung sendiri biaya-biaya tersebut. “Kata dokter Indra bisa seratus juta lebih,” katanya.

Irawati mengaku pernah iseng mencari tahu berapa biaya yang harus dibayar jika tak ditanggung BPJS Kesehatan. Namun dia hanya bisa bedecak kagum sekaligus mengucap syukur. Karena biaya pengobatannya ternyata memang sangat mahal. Dan dia memastikan tidak akan sanggup membayarnya secara mandiri.

“Bersyukur sekali ada BPJS. Untung Dedek (anaknya, red) cepat mengurusnya,” kata Irawati lagi.

Padahal tidak sampai di situ saja. Setelah menjalani operasi di RS Awal Bros Batam, pada 17 Maret 2015 Irawati masih harus dirujuk ke RS Murni Teguh, Medan, Sumatera Utara. Di sana, ia harus menjalani terapi radiasi. Hampir tiga bulan dia menjalani rawat jalan di rumah sakit tersebut. Semua biayanya juga ditanggung BPJS Kesehatan.

“Mengurus rujukan dari BPJS Kesehatan Batam ke BPJS Medan juga tidak sulit,” katanya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Nur Alam, 40. Guru honor di salah satu SMP Negeri di Batam ini mengaku tak pernah membayangkan bisa menjalani operasi pengangkatan kanker di payudara kanannya.

Sebelum memiliki kartu BPJS Kesehatan, ia memilih melawan penyakit ganas itu selama bertahun-tahun. Mulai dari mengonsumsi obat-obatan dari apotek hingga meminum obat herbal. Sebab ia mengaku tak sanggup menyiapkan dana untuk terus-terusan berobat ke dokter spesialis, apalagi sampai menjalani operasi.

“Ungkapan lama yang mengatakan orang miskin dilarang sakit, sekarang tak relevan lagi. Karena sekarang sudah ada BPJS ini,” kata wanita berhijab itu.

Hanya saja, kata Nur, menjadi pasien dengan karti BPJS Kesehatan memang harus ekstra sabar. Sebab ada prosedur dan mekanisme yang mesti dilalui. Mulai dari mencari rujukan dari klinik atau puskesmas, antre di pendaftaran rumah sakit rujukan, hingga menunggu kedatangan dokter.

“Bagi yang tidak sabar memang terasa ribet,” katanya.

Direktur RS Awal Bros Batam, dr Widya Putri, MARS mengakui sejak resmi melayani pasien BPJS Kesehatan, jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit tersebut meningkat drastis. Meski tidak menyebut angka pastinya, pasien yang berobat ke RS Awal Bros Batam didominasi oleh pasien BPJS Kesehatan.

“Sekitar 75 persen merupakan pasien BPJS (Kesehatan). Ini artinya akses layanan kesehatan di masyarakat menjadi semakin luas,” katanya.

Sementara Kepala BPJS Kesehatan Cabang Utama Batam, Budi Setiawan, mengatakan saat ini jumlah peserta BPJS Kesehatan Cabang Batam mencapai sekitar 800 ribu orang atau 79 persen dari total 1,2 juta jiwa warga Batam. Terdiri dari peserta mandiri sebanyak 150 ribu, peserta Non-PBI 420 ribu, dan peserta PBI 230 ribu orang.

Sayangnya, ada sekitar 33 ribu peserta mandiri menunggak iuran. Padahal, kata Budi, dalam pelaksanaannya BPJS Kesehatan mengadopsi prinsip gotong royong. Artinya, peserta yang sehat membantu yang sakit melalui iuran kepesertaan yang dibayarkan setiap bulannya.

“Karena prinsip kerja BPJS Kesehatan itu gotong royong, jadi kalau ada yang menunggak akan mengganggu pembayaran klaim ke rumah sakit,” katanya. (Suparman, Batam)

Respon Anda?

komentar