Beri Keterangan Palsu, Pembeli Kayu Hasil Illegal Logging Terancam Dipidanakan

540
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Bahar yang disebut-sebut sebagai pembeli kayu tangkapan kasus illegal logging terancam dipidanakan dan dilaporkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zaldi Akri, karena dinilai memberikan kesaksian palsu di bawah sumpah saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (7/9).

Bahar dihadirkan oleh JPU sebagai saksi untuk terdakwa Ramli Bin Umar, nahkoda kapal pengangkut kayu yang ditangkap oleh Polair Polres Bintan beberapa waktu lalu, karena mengangkut hasil hutan kayu yang tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya.

Dalam keterangannya, Bahar membantah beberapa fakta persidangan yang disampaikan oleh saksi-saksi sebelumnya, termasuk membantah pengakuan terdakwa, bahwa terdakwa telah melakukan transaksi jual beli kayu milik bossnya Yudi alias Kak Lin (DPO) kepada dirinya sebanyak enam kali, hingga akhirnya ditangkap Polisi.

Tidak hanya itu, terdakwa dan saksi lainnya, pada sidang sebelumnya juga menyampaikan jika kayu itu diantarkan langung ke toko kayu milik saksi di daerah Kawal, Kabupaten Bintan. Namun saksi membantahnya.

“Saya tidak punya toko,” ujar Bahar grogi.

Mendengar ucapan saksi, Ketua Majelis Hakim, Corpioner sempat mengingatkan jika memberikan keterangan palsu di bawah sumpah dalam sidang di Pengadilan dapat diancam pidana penjara selama 7 tahun.

Zaldi, yang makin geram melihat kebohongan saksi, menegaskan akan menghadirkan saksi lainnya untuk dikonfrontir langsung dengan saksi Bahar.

“Dalam persidangan nanti, saya minta langsung dikonfrontir, kalau masih tidak ngaku langsung dipidanakan,” ujar Zaldi.

Corpioner, kemudian menunda sidang selama sepekan, untuk dilanjutkan pemeriksaan saksi dengan menghadirkan kembali saksi Bahar untuk dikonfrontir.

“Karena anda kemarin juga sempat menghindar untuk hadir dipersidangan, maka Rabu depan harus hadir, karena bisa dijemput paksa oleh Jaksa,” ucap hakim.

Sebelumnya, Zaldi juga mengaku kewalahan menghadirkan saksi Bahar di persidangan. Sejak surat pemanggilan sebagai saksi dilayangkan, Senin lalu Bahar selalu mengelak dan merahasikan alamatnya. Begitu juga orang-orang yang mengenal Bahar saat surat panggilan itu hendak dititipkan, tidak satupun mau menerimanya, bahkan merahasiakan alamat rumah Bahar. Begitu juga, saat dihubungi via telpon dan SMS oleh Jaksa, Bahar tidak memberikan jawaban. Hingga akhirnya Bahar dapat dihadirkan, setelah dibantu oleh pihak kepolisian dari Reskrim Polres Bintan, untuk mengetahui keberadaan Bahar.

“Handphone saya gangguan dan rusak, itu aja alasannya,” ujar Zaldi menirukan alasan Bahar.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar